RABU, 22 FEBRUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sejak 2008, Sulasmiati yang akrab disapa Mbak Las, sudah menjadi pedagang sayuran dan ikan segar di RW 01, Kelurahan Ceger, Jakarta Timur. Tapi, awal dari usaha Mbak Las sebenarnya dimulai pada 2000, ketika ia dan suami berjualan chicken nugget di daerah Ciracas. Bakat berdagang ibu anak tiga ini memang luar biasa, karena dengan hanya berdagang chicken nugget, ia bisa memiliki 3 buah rombong atau gerobak, beberapa karyawan dan banyak sekali pelanggan.
| Sulasmiati, karib disapa Mbak Las |
Karena sesuatu dan lain hal, Mbak Las mempercayakan usaha yang sudah ditekuni sejak usia remaja itu kepada seorang keponakannya, untuk berdagang di daerah Mahakam, Jakarta. Beda tangan, beda pula penanganannya, chicken nugget Mbak Las yang sudah besar akhirnya hancur di tangan orang lain. Setelah lama berpikir keras, ia dan suami memilih pindah ke daerah Ceger, Cipayaung, Jakarta Timur pada 2008. Saat itulah ia memulai profesi barunya sebagai seorang pedagang sayuran serta bumbu dapur di depan rumah.
Perempuan kelahiran Solo, 9 September 1968 ini membuktikan, bahwa ia memang seorang pedagang ulet. Dalam setahun, dagangannya sudah kelihatan mapan. Bukan berarti Mbak Las menjadi kaya-raya, tetapi ia sudah banyak pelanggan dan dikenal orang hingga luar wilayah kediamannya di RT 01, RW 01, Ceger. Dan, akhir 2016 hingga awal 2017, Mbak Las bersama warung sayuran di rumahnya bisa meraup omset hingga Rp. 1 Juta per hari, dengan keuntungan bersih Rp. 200-250.000.
Enam bulan yang lalu, ia mendaftarkan diri ke Posdaya Bahagia RW 01 Ceger, untuk ikut Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja). Alasannya, ingin menambah penghasilan, tapi tidak ada modal untuk menambah dagangan. Ia ingin melengkapi dagangannya dengan sembako seperti terigu, telur, beras, minyak goreng curah, kerupuk kering, mie kuning, dan lain sebagainya. Menurut Mbak Las, pelanggannya kerap membeli sembako di luar RW 01, jadi ia melihat peluang. Jika dagangannya lengkap, para pelanggan tidak perlu jauh-jauh membeli sembako.
Tabur Puja memahami keinginan serta potensi Mbak Las, sehingga mencairkan pinjaman modal usaha putaran pertama sejumlah Rp. 2 Juta, dengan cicilan Rp. 202.000 selama 12 bulan. Senangnya hati istri tukang ojek sepeda motor ini, ketika mendapat tambahan modal. Ia pun mengajak suami tercinta belanja semua keperluan dagangannya. “Berkat Tabur Puja, akhirnya saya bisa melengkapi dagangan. Dengan tambahan modal itu, omset saya juga bertambah lima puluh persen dari sebelumnya,” ujar Mbak Las, ketika ditemui Cendana News, pada Hari Kas Posdaya Bahagia, RW 01, Ceger, Jakarta Timur, Senin (20/2/2017).
Tambah modal usaha, bertambah pula omset dan pendapatan bersih Mbak Las. Omset Mbak Las naik 50 persen, yakni dari Rp. 1 juta menjadi Rp. 1,5 Juta setiap harinya. Dan, ia merasa bahagia dengan kesehariannya. Ia juga mampu membayar cicilan Tabur Puja secara rutin.
Sudah 6 kali cicilan berjalan, tidak sekalipun Mbak Las meleset atau menunggak. Mbak Las sadar dengan sendirinya, bahwa sekali saja meleset, hilanglah kepercayaan. Mbak Las khawatir, pinjaman berikutnya akan sulit untuk didapatkan jika ia tidak disiplin dalam membayar cicilan.
“Cicilan Tabur Puja itu yang terutama buat saya, jadi saya selalu jaga tanggal pembayarannya. Dan, saya juga berusaha menabung lewat tabungan wajib sejumlah delapan ribu rupiah setiap hari Senin. Jadi, total setoran cicilan saya dua ratus sepuluh ribu rupiah setiap bulannya,” Mbak Las, menambahkan.
Walaupun di musim penghujan seperti sekarang ini, Mbak Las tidak panik. Biasanya harga sayuran segar dan ikan laut akan naik. Menurut Mbak Las, ia punya trik khusus untuk itu, sehingga tidak ada rasa khawatir. “Triknya adalah ramah kepada pelanggan dan layani dengan sepenuh hati. Jadi, harga saya tidak akan kena protes jika ada kenaikan,” pungkasnya, sambil tertawa.
Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw