Membibitkan Anggrek, Butuh Kesabaran Luar Biasa

RABU, 22 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA — Meski banyak ditemukan di Indonesia, anggrek tergolong sebagai salah-satu jenis tanaman yang cukup sulit untuk dibudi-dayakan. Selain membutuhkan perawatan khusus, anggrek juga membutuhkan waktu sangat lama untuk dapat tumbuh dewasa dan berbunga. Namun, hal itulah yang justru meningkatkan harga jual tanaman bunga dengan beragam corak dan warna yang mempesona ini. 

Sumiyati menunjukkan bibit angrek yang berada dalam pot

Menurut salah seorang pembudi-daya anggrek dari Kelompok Wedari Kandang di Kampung Miliran, Muja-Muju, Umbulharjo, Yogyakarta, Sumiyati, anggrek berkembang-biak lewat proses penyerbukan. Di alam aslinya, proses peyerbukan ini biasanya dilakukan oleh hewan seperti serangga. Sementara proses pembudi-dayaan anggek untuk bisnis lewat penyerbukan, biasa dilakukan oleh manusia. Baik itu proses penyerbukan angrek satu jenis yang sama maupun penyilangan dua jenis anggrek berbeda.

“Proses penyerbukan anggrek dilakukan dengan menggabungkan putik dan benang sari pada salah-satu bunganya. Ini bertujuan untuk mendapatkan buah. Waktu yang dibutuhkan dalam proses pembuahan ini sekitar tiga bulan. Jika proses penyerbukan dan pembuahan berhasil, akan muncul buah. Namun, jika gagal bunga akan rontok,” katanya.

Setelah buah matang, proses selanjutnya adalah memperbanyak bibit anakan. Teknik yang biasa digunakan dalam budi-daya anggrek adalah dengan sistem kultur jaringan dari sel bijinya. Dengan cara ini, akan didapatkan ribuan bibit anggrek hanya dari 1 buahnya saja. Caranya, dengan menempatkan sel buah tersebut dalam botol-botol sebagai media tumbuh bibit anakan.

Sejumlah bibit anggrek yang masih terdapat di dalam botol

“Jadi, buah itu kita tempatkan dalam botol-botol transparan agar bisa menangkap cahaya. Di dalam botol itu kita taruh makanan, agar bibit bisa tumbuh. Botol dan makanan ini harus benar-benar selalu steril agar tidak muncul jamur. Sehingga semua prosesnya harus dilakukan di laboratorium,” ujar wanita yang telah membudi-dayakan anggrek bersama suaminya sejak tahun 1976 itu. (baca: Sumiyati, Puluhan Tahun Lestarikan dan Kembangkan Anggrek)

Untuk bisa tumbuh 3 centi meter saja, setiap bibit anggrek sedikitnya membutuhkan waktu sekitar 1 tahun. Meskipun ini juga dipengaruhi tiap jenis anggrek itu sendiri. Selama itu, botol-botol tersebut harus tetap dalam kondisi steril dan kedap udara untuk mencegah munculnya jamur yang dapat mengganggu pertumbuhan bibit tanaman anggrek. Tak hanya itu, makanan berupa pupuk juga harus selalu tersedia hingga bibit dianggap cukup dewasa hingga akhirnya dapat dikeluarkan dari dalam botol.

“Dalam setahun itu biasanya bibit dalam botol dipindah sebanyak dua kali. Ini untuk memberikan suplai makanan bagi bibit anggrek tersebut. Semua prosesnya harus tetap steril. Untuk jenis vanda dan catalea, pertumbuhannya memang cukup lama. Sedangkan jenis seperti dendrobium dan gramatovilum lebih cepat tumbuh,” ujarnya.

Dari satu buah biji anggrek, dikatakan bisa menghasilkan hingga ribuan bibit atau sekitar 100 botol bibit anggrek. Dalam setiap botolnya paling tidak terdapat 100 bibit anggrek. Meski sebenarnya bisa menghasilkan ribuan bibit, Sumiyati sendiri hanya menjadikan sebagian bibit saja sesuai kebutuhan. Hal itu juga tidak lepas karena keterbatasan lahan pembesaran yang ada di pekarangan rumahnya.

“Untuk bisa dipindah dari dalam botol ke dalam pot, paling tidak butuh waktu satu hingga dua tahun. Setelah dipindah ke dalam pot pun masih butuh waktu bertahun-tahun lagi agar bibit bisa tumbuh menjadi tanaman dewasa dan berbunga. Sehingga memang membutuhkan eksra kesabaran, karena prosesnya yang sangat panjang,” katanya.

Sumiyati menunjukkan anggrek dewasa yang telah berbunga

Meski membutuhkan waktu sangat panjang, Sumiyati sendiri telah beberapa kali berhasil menjadikan bibit anggrek yang ia kultur sendiri dari nol hingga menjadi tanaman dewasa dan berbunga. Proses itu dikatakan membutuhkan waktu paling cepat 7 tahun. “Memang sangat lama. Harus benar-benar sabar. Tapi, rasanya itu puas sekali jika bisa membibitkan mulai dari nol sampai bisa berbunga, ” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...