Mantan Napiter ini Memulai Hidup Baru dengan Berjualan Bakso

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Raut sumringah nampak menghiasi wajah Agus Melasi (39) warga Dipowinatan, Mergangsan, Yogyakarta. Bagaimana tidak, setelah tiga tahun terakhir harus mendekam di penjara, kini ia bisa berkumpul kembali dengan istri dan ketiga anaknya.

Meski belum memiliki pekerjaan tetap, Agus nampak begitu bersemangat memulai kehidupan barunya di tengah keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

“Rencana mau jualan bakso. Karena saat kemarin di penjara, saya bertemu tahanan lain yang sukses berjualan bakso. Lalu oleh dia saya diajarin bikin bakso. Makanya setelah keluar ini saya pengen coba ikut jualan bakso,” ujarnya kepada Cendananews, Minggu (27/02/2022).

Agus merupakan salah satu mantan tahanan narapidana terorisme (napiter) asal Yogyakarta yang baru saja dibebaskan baru-baru ini. Ia mengaku mendapat vonis hakim selama 3,5 tahun penjara setelah dinyatakan terlibat langsung dengan jaringan terorisme pada sekitar tahun 2019 lalu.

Secara eksklusif kepada Cendananews, Agus pun menceritakan bagaimana ia bisa terlibat dalam jaringan kelompok radikal anti NKRI tersebut.

“Saat itu saya memang sedang semangat-semangatnya untuk mendalami agama. Entah bagaimana lalu saya bisa ikut kelompok kajian yang saya temui di Internet. Awalnya saya hanya mendapat share-share’an di WA. Lalu akhirnya masuk ke kelompok kajian media sosial Telegram. Dari situlah saya mulai berubah,” katanya.

Selain membatasi interaksi dengan lingkungan sekitar, sejak saat itu Agus pun nampak lebih banyak berkumpul dengan kelompok kajian ekslusifnya tersebut. Ia bahkan mengaku sempat menolak mengikuti sholat jamaah di masjid jika sang imam merupakan seorang PNS.

“Saat itu mungkin saya terlalu bersemangat mencari kesempurnaan. Sehingga merasa diri paling suci. Paling baik. Makanya jika tidak ingin terjerumus dalam kelompok radikal seperti pernah saya alami, jangan sampai merasa diri kita paling benar dan paling suci,” katanya.

Kini, Agus pun telah menyadari semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Setelah tuntas menjalani hukuman selama 2,8 tahun di penjara, ia pun bertekad memulai hidup baru bersama keluarganya. Ia yang sebelumnya merupakan seorang mekanik bengkel stel roda, memilih menjalani profesi baru sebagai seorang wirausaha.

“Kebetulan bapak saya seorang mekanik bengkel stel roda. Sehingga sejak kecil saya juga menjalani pekerjaan itu. Namun setelah saya pikir-pikir, pekerjaan itu kurang prospek, karena tidak bisa berkembang. Hanya begitu-begitu saja. Makanya saya coba berwirausaha,” katanya.

Tokoh masyarakat di kampung tempat tinggal Agus sendiri mengaku menyambut baik kepulauan Agus sepelas keluar dari penjara. Puji Istantoro, ketua RT setempat mengaku siap mendukung Agus agar bisa berbaur kembali di tengah masyarakat untuk memulai hidup baru yang lebih baik.

“Warga kampung tentu akan mendukung Agus. Apalagi Agus ini kan warga asli sini. Baik itu secara moral dengan memberikan motivasi ataupun dengan membantu Agus mendapatkan jaminan sosial dari pemerintah. Kita harapkan Agus bisa kembali secepatnya berbaur dengan warga lain dan bisa hidup mandiri,” katanya.

Sementara itu, Kanit C Subdit IV Ditintelkam Polda DIY, Kompol Hardijanto, selaku pihak terkait mengaku akan selalu mendukungt setiap mantan narapidana terorisme yang selesai menjalani masa tahanan dan hendak kembali ke masyarakat. Selain melakukan pemantauan, upaya lain yang juga dilakukan adalah membantu perekonomian mereka.

“Yang lalu biarlah berlalu. Fokus terpenting saat ini adalah menata kehidupan secara lebih baik. Sehingga bisa hidup tenang bersama keluarga dan masyarakat, dengan menjunjung tinggi Pancasila dan NKRI,” katanya.

Selain memberikan bantuan sembako bagi keluarga mantan narapidana terorisme, pihak kepolisian juga berperan penting dalam mendorong kemandirian ekonomi mereka. Salah satunya dengan memberikan modal usaha, sesuai keinginan setiap mantan narapidana terorisme bersangkutan. Sehingga mereka bisa memiliki penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Khusus untuk Agus kita berikan bantuan berupa gerobak bakso. Berikut juga bahan-bahan kebutuhan lainnya seperti kompor gas, panci, sembako dan sebagainya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Karena kemandirian ekonomi bagi setiap mantan narapidana terorisme ini penting agar mereka tidak terjerumus kembali ke kelompok-kelompok radikal seperti sebelumnya,” pungkasnya.

Lihat juga...