Nurul Widayati, Meraih Sukses Bersama Damandiri

RABU, 22 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Lahir pada 18 Juni 1974, di Blitar, Jawa Timur, perempuan dengan nama lengkap Nurul Widayati tumbuh menjadi gadis yang gemar memasak. Selain itu, naluri wirausahanya juga berjalan seiring dengan keahliannya tersebut. Ketika pertama kali datang ke Jakarta pada 1994, embrio usaha kulinernya diawali sebagai seorang pembuat kerupuk.

Nurul Widayati

Petualangan Mbak Nurul, sapaan karibnya, semakin berat ketika sang suami terkena pengurangan tenaga kerja. Dengan sisa modal di tangan, Nurul berusaha membangkitkan kembali semangat suaminya dengan menjalankan usaha produksi dompet kulit. “Dompetnya dari kulit asli Indonesia, tapi begitu sudah jadi tinggal disematkan merk-merk ternama beserta logonya sekaligus. Saya pilih usaha itu, karena animo masyarakat sedang merebak untuk membeli barang merk terkenal dengan harga murah meriah kala itu,” tutur Nurul, kepada Cendana News, Senin (20/2/2017).

Dagangan Nurul laris manis, jika dimasukkan di pasar-pasar rakyat seperti Jatinegara, Jakarta Timur dan Jelambar, Jakarta Barat. Sambil berdagang kerupuk dan dompet kulit, Nurul dan suaminya terus berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan ulet dan penuh kesabaran.

Hingga pada suatu ketika, Nurul dan suaminya mengambil keputusan untuk mencoba usaha di tempat baru di pinggiran Jakarta, untuk memaksimalkan pendapatan. Keputusan tersebut didasari semakin padatnya persaingan dagang di jantung megapolitan. Ia pun memindah-tangankan usahanya kepada salah seorang karyawan, dengan hanya mengambil modal awalnya saja, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah beres, ia pun pindah dan masuk di RT 07, RW 01, Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, pada 2007.

Tak lama setelah pindah, ia membuka usaha Nasi Pecel Blitar di Jalan Raya Ceger, dengan menyewa tempat kecil mungil di samping sebuah waralaba terkemuka. “Saya pilih tempat itu, karena pasti ramai dikunjungi orang. Dan, dari sekian banyak yang berkunjung, pasti ada yang lapar dan ingin mencicipi nasi pecel buatan saya,” imbuhnya.

Ketika berkenalan dengan Posdaya Bahagia, RW 01, Ceger, Jakarta Timur, usaha kuliner Nurul mengalami perubahan yang luar biasa. Dari sekedar ikut-ikutan aktif dalam kegiatan Bazaar di Universitas Trilogi dan internal lingkungan RW 01, Ceger, Nurul semakin dalam mengenal para pengurus Posdaya Bahagia juga para pejuang pemberdayaan dari Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trilogi Jakarta Selatan.

“Saya mengenal Yana Fajriana dari lingkungan pengurus Posdaya, dan dari Yana serta para pengurus lainnya saya kenal Ibu Ludwina dari Universitas Trilogi. Dan, mereka semua telah banyak memberi bantuan bimbingan untuk lebih membuka cakrawala berpikir saya mengenai usaha kuliner,” terang Ibu tiga anak ini, melanjutkan kisahnya.

Warung Nasi Pecel Blitar Mbak Nurul

Pada saat usaha Nurul mulai besar, modalnya mulai terlihat cukup, ia memutuskan pindah ke tempat lebih besar. Dari sebuah warung kecil di pojok waralaba ternama, sekarang Warung Nasi Pecel Blitar Mbak Nurul berdiri mentereng di sebuah ruko besar. Namun, Nurul baru sadar, ekspansi bisnis kuliner yang dilakukannya melupakan satu hal penting, yakni sebuah freezer penyimpan daging.

Keuangan sudah menipis, dan satu-satunya cara adalah dengan meminjam modal untuk membeli freezer tersebut. Melalui Yana, Sekretaris Posdaya Bahagia, Nurul menyatakan keinginannya untuk memanfaatkan pinjaman modal usaha Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja). Manajemen Tabur Puja melalui Manager Tabur Puja, Heri Haryadi, merespon kebutuhan Nurul dan melalui proses yang sama dengan para peminjam lainnya, Nurul mendapat pinjaman putaran pertama sejumlah Rp. 2 Juta, dengan cicilan sebesar Rp. 202.000 selama 12 bulan.

Freezer seharga Rp. 2 Juta langsung dibelinya. Walau ukurannya kecil, tapi bisa menampung stock daging seperti daging sapi untuk rawon, daging ayam untuk ayam bakar tulang lunak serta beberapa bahan lainnya. Usaha Nurul terus berkembang dan cicilannya juga tak terasa bisa diselesaikannya dengan sempurna. Tabungan wajib Nurul yang diserahkan berbarengan pembayaran cicilan terhitung bagus, karena dari cicilan Rp. 202.000, ia kerap membayar sejumlah Rp. 250.000 untuk memperbanyak tabungan wajibnya.

Setelah menyelesaikan cicilan pinjaman pertama, Nurul masuk putaran kedua Tabur Puja. Nurul mengambil pinjaman keduanya sebagai modal awal membeli box catering sebanyak 800 buah, yang rencananya untuk melayani pesanan sebuah instansi pemerintah di Jakarta Pusat. Awal 2017, Tabur Puja putaran kedua Nurul cair sebesar Rp. 3 Juta. Dari kondite cicilan dan jumlah tabungan, manajemen Tabur Puja menganggap Nurul sudah layak mendapatkan pinjaman sebesar itu.

Dengan keuletannya, pihak instansi pemerintah yang memesan katering merasa cocok dengan pelayanan katering ‘Nasi Pecel Blitar’ Mbak Nurul. Mereka mengikat Nurul untuk rutin melayani katering sebanyak 1 kali pengiriman setiap pekan. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, antara 800-1.000 box katering setiap pengiriman.

“Kisah usaha kuliner saya di Ceger boleh dikatakan tidak lepas dari peran Damandiri. Perjalanan yang sangat berharga bagi saya dalam mengembangkan usaha kuliner Nasi Pecel Blitar. Mengenai omset, tentunya lebih baik dari sebelumnya, namun yang terutama adalah saya banyak belajar dari orang-orang hebat baik dari Damandiri maupun Universitas Trilogi. Terima kasih buat semuanya,” pungkas perempuan yang pernah menjadi pedagang keliling di Kranji, Bekasi ini, mengakhiri perbincangan.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...