Damandiri Jajaki Peluang Pembiayaan Usaha Penyalur Minyak Curah

RABU, 22 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Suherna, nama lengkapnya, lahir di Karawang, Jawa Barat, menikah dengan laki-laki asli Ceger pada 1981. Perempuan kelahiran 12 Desember 1965 ini melahirkan anak pertamanya pada 1982, ketika sudah diboyong menetap bersama sang suami di RT 01, RW 01, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.

Add Suherna

Kehidupan Suherna banyak diisi dengan mengurus rumah tangga sambil membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah, sebagai pedagang makanan untuk sarapan pagi. Sejak suaminya pensiun dari sebuah perusahaan nasional di Jakarta pada 2010, Suherna rutin berjualan lontong sayur dan aneka gorengan. Usahanya semakin ramai pelanggan hingga akhir 2012.

Ketika cucu pertamanya lahir pada awal 2013, Suherna sangat bahagia dan menyerahkan usaha untuk diteruskan oleh anaknya. Suherna pun mengisi waktu dengan mengurusi sang cucu. Namun, ketika anak yang mengurus dagangan sarapan pagi miliknya mendapat panggilan untuk bekerja, dagangan lontong sayur dan aneka gorengan Suherna pun terbengkalai. “Usaha saya akhirnya terhenti sejak 2013, sampai usia cucu menginjak tiga tahun pada 2016,” tutur Suherna, singkat.

Sambil mengurus sang cucu, Suherna kerap miris melihat suaminya yang selalu terlihat kurang istirahat, akibat kerja serabutan sebagai penjaga malam sebuah perumahan di wilayah Ceger. Timbul keinginan untuk membantu suami dengan keahlian yang dimilikinya, yakni berdagang. Dan, pilihan Suherna adalah kembali seperti dulu, berdagang sarapan pagi seperti lontong sayur dan aneka gorengan. “Akhirnya saya bicara kepada anak saya, agar dia meluangkan waktu untuk anaknya sendiri, karena saya harus membantu suami dengan berdagang. Dan, dia mendukung niat saya, bahkan mencari juga beberapa peluang dagang dari rekan-rekannya,” lanjut Suherna.

Anak Suherna mendapat sebuah peluang usaha sebagai penyalur minyak curah bagi pengusaha-pengusaha katering di wilayah Cibubur. Bahkan, banyak juga pedagang-pedagang makanan di sana butuh distribusi minyak goreng dengan cepat setiap harinya. Anak Suherna punya sepeda motor, sehingga bisa digunakan untuk membawa pesanan minyak goreng dengan cepat.

Sambil menjalankan usaha distribusi minyak goreng, Suherna berjualan sarapan pagi setiap hari, begitulah rencana matang Suherna dan anaknya. Dua peluang usaha ada di depan mata, tapi modal tidak ada. Sekedar berjualan lontong sayur dan gorengan, akhirnya dijalankan Suherna dan anaknya tersebut sambil mengumpulkan modal, agar rencana usaha distribusi minyak goreng bisa terwujud juga.

Saat pergulatannya mengumpulkan modal itulah, Suherna mendapat informasi mengenai Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) di Posdaya Bahagia, RW 01, Ceger, Jakarta Timur, tidak jauh dari kediamannya. “Akhirnya saya datang hari Senin, 20 Februari 2017, untuk mengajukan pinjaman. Saya sudah bawa dokumen seperti kartu tanda penduduk asli DKI Jakarta dan kartu keluarga sebagai kelengkapan pengajuan pinjaman modal usaha. Saya sudah diwawancara pengurus Posdaya, tinggal tunggu keputusan Tabur Puja saja. Semoga saya disetujui,” sambung ibu tiga anak ini, penuh harap.

Pastinya, Tabur Puja akan mempertimbangkan pengajuan Suherna, tentunya dengan perhitungan tepat serta terukur dalam menentukan besaran modal usaha yang pantas bagi Suherna untuk menjalankan usaha yang diinginkan, sekaligus mengangkat usahanya yang sedang berjalan saat ini.

Tapi, satu yang harus diperhatikan Suherna adalah usaha tidak boleh terhenti di tengah jalan lagi. Karena apa yang dilakukan Tabur Puja adalah memberdayakan mereka yang memang serius mengangkat taraf hidup keluarganya. Tapi, dengan melihat tekad Suherna, sepertinya ia sudah siap dengan komitmen yang diharapkan oleh manajemen Tabur Puja. “Sambil menunggu keputusan Tabur Puja, saya terus jualan lontong sayur untuk sarapan pagi seperti biasanya,” pungkas Suherna.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...