Yayasan An-Nur , Sekolah “Laskar Pelangi” dari Makassar

SELASA 24 JANUARI 2017
MAKASSAR—Terletak di pinggir Jalan Tol Reformasi kawasan Rapokalling membuat sekolah di bawah naungan Yayasan An-nur ini menjadi agak terpencil. Untuk bisa mengunjunginya saya melewati gang sempit yang tidak bisa dilalui mobil. Letaknya sekitar lima belas meter ke dalam gang. Saya tiba Senin pagi 23 Januari 2017 mengunjungi sekolah yang hanya punya tiga ruangan. sekat-sekat ruangannya hanya terbuat dari susunan almari untuk pemisah jenjang TK dan SMP. Dan ruangan untuk  jenjang SD sendiri berukuran sepetak.

Suasana ruang belajar di Yayasan An Nur. 

Memang yayasan ini memiliki siswa sebanyak 150 orang yang terdiri dari tiga jenjang pendidikan yaitu TK,SD, dan SMP. Pendirinya Drs.Muhamad Iliyas memiliki cita-cita yang luhur untuk anak-anak yang ada di kota Makassar. Anak yang kurang beruntung dalam mengeyam pendidikan dan juga memotifasi anak-anak yang hidup dijalan betapa pentingnya pendidikan. Program wajib belajar pendidikan 9 tahun merupakan perwujudan amanat pembukaan UUD 1945 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Motivasi inilah yang mendasari dibangunnya Yayasan An-Nur yang dibangun pada  2004. 

Sudah 14 tahun yayasan ini berjalan selama itu pula yayasan ini banyak mendapatkan kendala. Salah satunya kurangnya pemerintah terhadap Yayasan An-Nur. Minimnya informasi dan akses  yang diberikan untuk Yayasan An-Nur.  Siti Nurlia selaku kepala yayasan menyebutkan pernah mendengar bahwa dulu sempat ada dana bantuan dari Depag untuk yayasan tapi tanpa ada konfirmasi dari yayasan. Dana itu dikembalikan.
Selain itu kurangnya kesadaran pada masyarakat tentang pendidikan” pernah yayasan ini dilempari sampah oleh salah satu orang tua yang tidak setuju anaknya sekolah disini, ada juga orang tua yang menyuruh anaknya bekerja saja dari pada sekoah”untuk menyelesaikan permasalahan itu maka yayasan memberikan bantuan oprasional dengan cacatan siswa tersebut dapat mengefektifkan kegiatan pembelajarannya selama sekolah di yayaan an-nur.
Bukan cuma itu saja prasarana di sini juga masih kurang seperti komputer misalnya serta kurang juga staf pengajar. Karena  keterbatasan disini bahkan yayasan ini meniadakan pembelajaran olah raga. ”Dulu sempat ada pendampingan dari Dinsos tapi sekarang sudah tidak didampingi lagi jadi kegiatan pembelajaran disini kurang efektif”,” ungkap Siti Nurlia. 
Banyak  suka duka yang dialami yayasan ini sepanjang perjalananya dari duduk melantai sampai menempati tempat sempit. Namun lanjut Siti Nurlia dibanding yang dulu sekarang Yayasan An-nur sudah lebih bagus,” lanjutnya.
Namun itu semua tidak menghalangi niat baik dari Siti Nurliah berkat tangan dingin,kesabaran, dan juga kegigihanya sewaktu pertama kali yayasan ini dibangun, peserta didiknya dulu tidak rapi,kotor, kucel dan juga jarang sikat gigi tetapi setelah diberi pengertian bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman, mereka menjadi memperhatikan kebersihan. Tidak hanya pengetahuan umum saja diajarkan di yayasan ini tapi juga pengetahuan agama dan juga diberikan pendidikan karakter sehingga anak-anak ini menjadi pribadi yang baik.
Saya sungguh senang karena  Siti nurlia mengijinkan saya untuk berinteraksi pada peserta didiknya ketika saya melakukan foto bersama murid dan bu siti nurlia juga sangat antusias melihat wajah polos bak malaikat kecil dan lugu mereka membuat saya terpana. Serta semangatnya dalam menimba ilmu membuat saya teringat akan film Laskar Pelangi. Rupanya masih banyak sekolah seperti Laskar Pelangi di era millenium ini.  Semoga saja apa yang menjadi cita-cita luhur mereka menjadi nyata.
Saya ingat petikan lagu dari Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji untuk soundtrack film itu. Mimpi adalah kunci/untuk kita menaklukkan dunia/berlarilah/tanpa lelah sampai engkau meraihnya…

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...