Warga dan Siswa SDN 5 Sumur Lampung Selatan Butuh Perbaikan Dermaga dan Talud

RABU, 11 JANUARI 2017

LAMPUNG — Sejak sepekan terakhir, warga Desa Sumur di Pulau Rimau Balak, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, terpaksa menggunakan dermaga dalam kondisi memprihatinkan akibat kerusakan pada beberapa bagian dermaga yang amblas, bahkan pada bagian beton penyangganya patah. Kondisi tersebut berimbas pada aktivitas warga Pulau Rimau Balak, karena dermaga tersebut merupakan penghubung ke Pulau Sumatera di Dermaga Keramat Desa Sumur.
Untung, salah-satu guru SDN 5 Sumur menunjukkan saluran air yang rusak.
Kondisi rusaknya dermaga tersebut dibenarkan oleh Abdulrohim, salah-satu warga Pulau Rimau Balak yang tinggal di pulau sejak puluhan tahun silam. Dermaga yang dibuat semi permanen dari kayu papan dan juga semen dan rangka besi tersebut bahkan sebagian telah lapuk dan jebol dengan beberapa lubang menganga di beberapa bagian.
Kerusakan dermaga terjadi semakin parah dengan kondisi cuaca di perairan tersebut yang masih dalam kondisi kurang baik selama beberapa pekan terakhir, yang menggerus bagian dermaga, meski sudah dilakukan proses perbaikan sementara. Abdulrohim mengungkapkan, usulan untuk perbaikan dermaga tersebut sudah disampaikan ke pihak desa, namun hingga kini masih belum terealisasi.
“Memang usulan sudah selalu kita sampaikan. Namun, kita juga masih harus menunggu karena sebagian dana desa yang digunakan untuk infrastruktur khususnya sarana dermaga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, kita tetap gunakan dermaga ini dengan memperbaiki sementara menggunakan papan,” ungkap Abdulrohim, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (11/1/2016).
Keterbatasan ruang, anak-anak belajar di satu ruang yang disekat.
Dermaga rusak yang digunakan masyarakat tersebut selama ini juga digunakan oleh para siswa dan tenaga pendidik atau guru di SDN 5 Sumur. Warga bahkan terpaksa ikut membantu dengan membuat dermaga darurat dari batang bambu dan kayu-kayu papan. Beberapa guru yang menggunakan dermaga tersebut, hingga kini berjumlah sekitar 4 orang, dan sebagian besar di antaranya merupakan guru yang tinggal di Pulau Sumatera.
Kondisi dermaga yang cukup memprihatinkan tersebut diakui pula oleh Iswandi, Kepala Sekolah SDN 5 Sumur. Dikatakan, dengan sebanyak 7 tenaga pengajar terdiri dari 5 guru  laki-laki dan 2 guru perempuan, dermaga rusak yang menjadi akses utama untuk warga dan para siswa tersebut menjadi sangat vital perannya. Namun, hingga kini masih belum diperbaiki meski kondisinya cukup membahayakan terutama bagi para siswa yang melakukan aktivitas menggunakan perahu bersama para orangtuanya.
Selain kondisi dermaga yang rusak, bangunan sekolah SDN 5 Sumur yang terdiri dari dua lokal meliputi dua ruang belajar dan satu ruang guru, juga kerap mengalami kebanjiran akibat material tanah dan lumpur yang terbawa aliran air dari perbukitan di sebelah timur bangunan sekolah. Akibatnya, air dan material tanah dan batu kerap masuk ke dalam kelas dan akses warga antar dusun menjadi terhambat. Kondisi tersebut juga menyebabkan para siswa yang berangkat sekolah tidak mengenakan sepatu, karena kondisi jalanan yang berlumpur dan becek.
Dermaga butuh perbaikan.
“Kami sudah mengajukan untuk pembangunan talud di depan sekolah, namun beberapa kali Bupati berganti, usulan belum pernah terealisasi. Padahal, talud sangat penting untuk mencegah longsor atau banjir melanda sekolah,” ungkap Iswandi.
Keterbatasan lokal sekolah berikut infrastruktur penunjang berupa dermaga, diakui Iswandi masih dialami sekolah yang berada di Pulau Rimau Balak. Perbaikan dan dermaga yang layak sekaligus perbaikan infrastruktur di pulau tersebut menjadi harapan warga dan para guru. 

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...