Sejarah Kota Malang (2) Jadi Kuto Raja Abad ke 13

RABU 11 JANUARI 2017
MALANG—Kota Malang memiliki sejarah yang sangat panjang. Jejak-jejak budaya, sosial maupun perkotaan ternyata sudah ada jauh sebelum daerah yang kini bernama KotaMalang berstatus kota pada pendudukan pemerintah Belanda di tahun 1914, bahkan sejak jaman prasejarah. Setelah sempat berada pada jaman Prasejarah, kehidupan terus berlanjut hingga memasuki jaman Hindu Budha.
Arkeolog dari Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono
Bahkan pada abad ke-8 di sub area barat kota Malang yaitu di sekitar daerah kelurahan Karangbesuki dan sekitarnya muncul pusat pemerintahan kerajaan yang sekaligus kerajaan tertua di Jawa Timur yaitu kerajaan Kanjuruhan.
“ Jadi dengan demikian sejarah perkotaan di daerah yang kini bernama kota Malang bermula bukan sejak jaman kolonial maupun sejak daerah ini berstatus kota. Tetapi sebenarnya sudah ada sejak jaman masa Hindu Budha yaitu pada abad 8 itu sudah ada jejak perkotaan berupa pusat pemerintahan kerajaan di bagian barat wilayah kota
Malang yaitu di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Metro di sekitar Kelurahan Karangbesuki. Di mana pusat pemerintahan kerajaan tersebut bisa dikatakan sama dengan kota, pada jamannya,” jelas Arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM), M. Dwi Cahyono kepada Cendana News.
Bukan hanya di Karangbesuki sebenarnya perkotaan juga agak meluas ke arah utara sampai ke daerah Merjosari dan sebagian Tlogomas serta Dinoyo yang menjadi pusat-pusat keramaian dari abad ke-8 sampai dengan abad ke-16, imbuhnya.
Selanjutnya, pada abad ke 10 di DAS Brantas tepatnya di lembah sisi utara Brantas, kemudian hadir ula pusat pemerintahan kerajaan Mataram masa pemerintahan Mpu Sindok yaitu pusat pemerintahan kerajaan Mataram dimana menurut keterangan Prasasti Turyan tahun 929 yang ditemukan di daerah Turen, di sebutkan bahwa ibu kota kerajaan Mataram di masa pemerintahan Mpu Sindok ada di Tamwelang, Tamwelang diperkirakan berada di kelurahan Tembalangan di utara Brantas.
“Jadi dengan demikian pusat keramaian atau area perkotaan jika semula berkembang di sub area barat yaitu di daerah sekitar Karangbesuki, kemudia meluas ke arah Tlogomas dan ke Dinoyo, akhirnya juga berkembang ke sub area utara khususnya di daerah Tembalangan dan sekitarnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa tradisi perkotaan bukan hanya pada abad ke 8 tetapi juga terus berlanjut sampai ke abad ke 10, itu di sub area barat dan utara,” ungkapnya.
Kemudian pada masa berikutnya, muncul pusat perkotaan lagi di sub are timur. Mula-mula belumjadi pusat pemerintahan, hanya menjadi pusat apa yang disebut dengan watak atau watek yang merupakan daerah bawahan dari suatu kerajaan. Sejak abad 10 di bagian timur sudah muncul pusat pemerintahan watak yang dipimpin oleh pejabat yang berpangkat Rakrian, nama wataknya yaitu Tugaran yang sekarang menjadi Tegaron yang masuk wilayah Lesanpuro letaknya juga tidak jauh dari Kuto Bedah tepatnya berada di sebelah timur Kuto Bedah (sekitar 1 Km dari Kuto Bedah).
Selanjutnya, disusul lagi dengan munculnya pusat kerajaan Singasari di awal abad 13 yang ditempatkan di suatu tempat yang dulu bernama Kutaraja atau Kuto Raja.  Itu sebabnya pada peta-peta awal pada sekitar 1811 an tersebut masih dikenal tempat yang bernama Kuto Raja yaitu di tempat yang sekarang disebut Kuto Bedah. Dengan kata lain, Kuto Bedah dalam kurun waktu kurang lebih setengah abad di awal abad 13 pernah menjadi pusat Kerajaan Singasari.
Menurutnya, awal-awal perkembangan Islam  hadirnya juga di sub area timur . Sehingga dapat dikatakan sub area timur bukan daerah yang tidak memiliki jejak peradapan, tapi justru memiliki jejak peradaban yang lama walaupun dalam perkembangan berikutnya lebih tertinggal dibandingkan sub area yang lainnya. 
Di sub are timur Malang pernah menjadi watak Tugaran, pusat pemerintahan kerajaan Singasari, bahkan pada masa Majapahit ada kerajaan bawahan Majapahit yang bernama Kabalan lokasinya di lereng barat gunung Buring daerah Kedungkandang sekarang, di dusun yang namanya Kebalon. Di sinilah Putri Mahkota Hayam Wuruk yang bernama Kusuma Wardani ditempatkan sebagai raja bawahan Majapahit di suatu Nagari (negeri) yang bernama Nagari Kabalan.
Dengan demikian sebenarnya jejak perkotaan tidak hanya hadir di satu sub area saja tetapi di tiga sub area yakni sub area barat, sub area utara dan sub area timur kota  Malang. Baru setelah masuk 1914, pusat kotanya ditempatkan di sub area tengah.
“Jadi dari lima sub area yang ada di wilayah kota Malang, hanya sub area Selatan saja yang belum di dapati jejak perkotaan,” terangnya.
Sub area tengah sebagai tempat kehadiran jejak perkotaan hingga sekarang  justru hadir belakangan, yaitu  mulai dari pemerintahan Katemenggungan Malang sekitar Klenteng, di dusun yang bernama Katemenggungan. Sejak saat itu sub area tengah mulai ada jejak perkotaan dan seterusnya yang kemudian berubah dari sistem Katemengguan menjadi sistem pemerintahan kabupaten yang pusat pemerintahannya berada sub area tengah (Setelah abad 18).
“Sekali lagi saya sampaikan,bahwa  jejak perkotaan di Malang sudah hadir sebelum daerah tersebut menyandang status kota Praja bentukan kolonial pemerintah Belanda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jejak perkotaan di kota Malang bukan hanya jejak peradaban jaman kolonial, tetapi juga jejak peradaban lintas masa,” tuturnya.
Jurnalis: Agus Nurhcaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...