Tangkis Berita Hoax, Masyarakat Bentuk Gerakan Anti Fitnah

SABTU, 14 JANUARI 2017

YOGYAKARTA —  Semakin maraknya peredaran berita bohong atau hoax khususnya di media sosial beberapa waktu terakhir, mendorong sejumlah elemen masyarakat dari berbagai daerah untuk membentuk gerakan Komunitas Masyarakat Antifitnah Yojomase. 
etua Penyelenggara Deklarasi Yojomase, Boni Soehakso (kiri)
Yojomase merupakan kependekan dari Yogyakarta, Purworejo, Magelang dan sekitarnya. Komunitas yang terdiri dari sejumlah sukarelawan ini dibentuk sebagai gerakan untuk mengedukasi masyarakat bagaimana menyikapi berita bohong atau hoax. Deklarasi gerakan ini sendiri rencananya akan digelar pada 22 Januari mendatang bertempat di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. 
Ketua Penyelenggara Deklarasi Yojomase, Boni Soehakso mengatakan, maraknya berita bohong belakangan ini telah menyebabkan kegelisahan di tengah masyarakat sekaligus meningkatkan potensi kebencian dan disintegrasi bangsa. Penyebaran hoax di Indonesia, bahkan dikatakan telah mengakibatkan dampak langsung, seperti kasus pembakaran Vihara dan Klenteng di Tanjung Balai, Sumatera pada Juli 2016, lalu. 
“Lewat gerakan ini kita ingin menjelaskan budaya literasi di ranah publik, bagaimana memilah informasi yang benar, sehingga masyarakat mampu mengenali dan menolak berita hoax. Sekaligus juga memahami bahaya dan resiko penyebaran hoax,” ujarnya  dalam jumpa pers di Yogyakarta,  Sabtu (14/1/2017).
Lebih lanjut dikatakan, gerakan moral ini juga merupakan salah-satu wujud kepedulian sukarelawan yang sadar akan pentingnya budaya literasi di media sosial bagi masyarakat, khususnya Yogyakarta, Purworejo, Magelang dan sekitarnya.
Menurutnya, hal itu sesuai cita-cita Masyarakat Antifitnah Indonesia yang telah dideklarasikan di enam kota lainnya seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Solo, dan Wonosobo, pada 8 Januari, lalu. Deklarasi Masyarakat Antifitnah Yojomase merupakan bagian dari deklarasi serentak tersebut. 
Pada deklarasi yang akan digelar di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta pada 22 Januari, nanti, sukarelawan dikatakan akan memberi perhatian lebih pada penggalian nilai luhur budaya bangsa, untuk menyikapi hoax. Yojomase akan mengambil sosok tokoh pewayangan Semar sebagai simbol gerakan moral ini. Nasehat Semar, kata Boni, menggambarkan filosofi, nilai, norma, budaya, dan adab yang kerap dilupakan dalam berinteraksi di media sosial.
“Aksi teatrikal akan menggambarkan pertarungan tokoh pewayangan semar melawan Buto Ijo. Lewat aksi teatrikal ini masyarakat diharapkan dapat memiliki keberanian, kecerdasan emosional, dan kesadaran tinggi untuk menegakkan nilai dan norma kebenaran, serta membudayakan literasi bagi masyarakat di sekitar, agar tidak mudah percaya dan menyebarkan berita bohong,” jelasnya.
Penyebaran berita fitnah, hasutan dan bohong, tegas Boni, menyebabkan perpecahan kelompok dan dikhawatirkan menimbulkan gejolak sosial yang lebih besar. Karenanya, perlawanan terhadap hoax harus digalakkan dengan mengedepankan kesantunan dan adab bangsa yang luhur.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...