Inilah Bakmi Jawa Favorit Pak Harto Saat Kunjungi Jogja

SABTU, 14 JANUARI 2017

YOGYAKARTA —  Bakmi jawa merupakan salah satu kuliner khas yang ada di kota Yogyakarta. Makanan yang sudah sangat populer ini, dapat dengan mudah ditemukan di hampir semua sudut jalanan kota Yogyakarta. Namun dari sekian banyak warung bakmi jawa yang ada, terdapat salah satu warung yang begitu dikenal kareka kelezatannya. Ialah warung bakmi jawa Mbah Geno yang ada di depan Pasar Prawirotaman, Yogyakarta. 
Harjo Geno, anak Mbah Geno yang kini meneruskan usaha bakmi jawa
Tak sedikit tokoh terkenal telah mencicipi bakmi Jawa buatan mbah Geno. Mulai dari pemain film, penyanyi, pejabat, hingga Presiden Republik Indonesia. Presiden Indonesia kedua, Suharto merupakan salah satu pelanggan setia. Pak Harto sering sekali membeli bakmi jawa buatan Mbah Geno setiap datang ke Yogyakarta. 
“Dulu setiap datang ke Jogja, Pak Harto selalu memanggil saya ke istana. Kalau dihitung sudah 10 kali lebih. Biasanya saya bawa peralatan termasuk gerobak saya ke Istana. Sebelum masuk komplek, semua isi gerobak harus diperiksa. Begitu juga saat makanan hendak disajikan, juga diperiska,” kenang Harjo Geno, anak mbah Geno yang kini meneruskan usaha bakmi jawa, saat ditemui Cendana News, Sabtu (14/1/2017).
Harjo mengatakan, Pak Harto yang juga asal Yogyakarta selalu memesan bakmi godog buatannya. Pak harto bahkan secara langsung memesan bakmi jawa kepada Harjo, tanpa melalui ajudan atau pengawalnya. 
“Kalau memesan bakmi jawa, Pak Harto selalu minta dibuatkan tanpa campuran acar, karena beliau tidak suka, ” kenangnya. 
Selain pak Harto, Presiden ke-4 Indonesia, Abdul Rahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur juga pernah memesan Bakmi Jawa buatan Mbah Geno. Harjo mengaku pernah diundang sekali ke Istana untuk melayani Gus Dur. Sama seperti Pak Harto, Gus Dur juga memesan bakmi Godog buatannya. 
Cucu Mbah Geno menunjukkan foto Pak Harto
Tak seperti bakmi jawa pada umumnya, bakmi Jawa mbah Geno dibuat dengan resep tradisional. Mbah Geno yang sudah mulai berjualan bakmi Jawa sejak 1952 itu, selalu mencampurkan telur bebek untuk menambah cita rasa. Kaldunya ia buat dari rebusan empat potong ayam kampung betina yang lebih banyak memiliki lemak sehingga terasa gurih. Tak hanya itu, untuk menciptakan rasa istimewa, dia juga menambahkan udang sebagai pelengkapnya. Resep inilah yang tetap dipertahankan hingga saat ini. 
“Resep ini dulu dibuat oleh bapak saya sendiri. Resepnya memodifikasi bumbu masakan bakmi orang Cina. Karena sebelum jualan bakmi sendiri, dulu bapak saya pernah kerja di rumah makan orang Cina,” ujar lelaki 4 anak itu. 
Harjo menuturkan, lima dari 11 anak mbah Geno, termasuk dirinya, kini meneruskan usaha berjualan bakmi jawa. Masing-masing membawa nama Geno dan berlokasi di sekitar Jalan Parangtritis Yogyakarta. Ia sendiri mendapatkan warisan gerobak serta tempat usaha bapaknya di depan Pasar Prawirotaman, karena menjadi yang terakhir membuka usaha. 
“Dulu sebelum alm bapak meninggal adik-adik saya sudah lebih dulu membuka warung bakmi jawa. Sementara saya masih membantu bapak saya. Setelah bapak meninggal, baru saya meneruskan usahanya,” kata anak nomer dua mbah Geno itu. 
Harjo Geno, anak mbah Geno yang kini meneruskan usaha bakmi jawa
Buka mulai pukul 18.00 hingga 24.00, Harjo mengaku mampu menjual bakmi hingga 100 porsi lebih dalam sehari. Untuk mencukupi jumlah tersebut ia mengaku menghabiskan empat ekor ayam jawa, dan 12 kilogram bakmi serta tiga panci kaldu dalam sehari. Selain bakmi jawa, ia juga menyediakan menu lainnya seperti bakmi goreng, nasi goreng hingga magelangan. Satu porsinya ia patok dengan harga Rp18ribu. 

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...