Tambahan Modal dari Damandiri, Titin Raih Omset Satu Juta per Hari

SABTU, 14 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Bagi Titin Sumartini, gadis asal Subang, Jawa Barat, 1990 adalah desimal tahun paling berbahagia, karena saat itulah ia dipersunting sebagai isteri oleh Imam, sang kekasih hati. Kebahagiaan Titin bersama suaminya Imam semakin lengkap dengan kehadiran buah cinta mereka dari yang pertama, kedua sampai ketiga, hingga lengkap menjadi dua orang putera dan satu orang puteri. 
Lokasi rumah Titin dan Imam lengkap dengan warung dan usaha budidaya ayam dan love bird
Keseharian Titin di lingkungan tempat tinggalnya, RW011 Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan banyak diisi dengan kegiatan PKK baik tingkat RW maupun Kelurahan. Sementara suaminya bekerja, Titin juga menjadi ibu rumah tangga yang baik karena mampu meluangkan waktu mendampingi pertumbuhan anak-anaknya dengan baik di sela seluruh kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukannya.
Namun bencana datang pada 2001, ketika suami Titin harus terkena kebijakan pemutusan hubungan kerja atau PHK. Tidak mau terpuruk oleh keadaan, roda kehidupan Titin dan suaminya terus berputar untuk membesarkan seluruh anak mereka kemudian merintis usaha warung sembako pada 2003. Sementara itu, suaminya yang hobby memelihara hewan unggas, mulai melihat celah usaha kecil-kecilan untuk budidaya ayam kate (sejenis ayam bertubuh mungil) dan love bird (sejenis burung kicau).
Berputarnya roda kehidupan berjalan seiring dengan keadaan keuangan yang terus menyusut akibat bertambah besarnya kebutuhan hidup. Warung Titin juga butuh varian dagangan agar lebih menarik yang nantinya berimbas pada bertambahnya pembeli sekaligus omzet. Namun Titin terus manjalankan usahanya sambil berharap suatu saat ada jalan keluar. Sampai suatu ketika, Titin mengenal Tabungan Kredit Pundi Sejahtera disingkat Tabur Puja milik Yayasan Damandiri pada 2015 melalui Posdaya Melati 1 RW011, Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Titin berembuk dengan suami, dan mengambil dana pinjaman modal usaha mikro dari Tabur Puja sejumlah 2 Juta rupiah untuk keperluan menambah barang dagangan warung sembako. Tanpa terasa, hingga hari ini, Titin sudah masuk putaran ketiga Tabur Puja dengan pinjaman sudah mencapai jumlah 4 Juta rupiah. Semakin lengkap saja warung sembako Titin, dan terus bertambah para pembelinya. 
“ Dalam satu hari, omzet warung Alhamdulillah bisa tembus sampai satu juta rupiah bahkan lebih dari itu jika memang sedang ramai. Dan dagangan saya lengkap mulai dari sembako, kebutuhan sehari-hari sampai mainan anak-anak,” terang Titin kepada Cendana News di kediamannya.
Di sisi lain, dengan adanya tambahan modal usaha dari Tabur Puja Yayasan Damandiri, Imam melihat hal tersebut sebagai momentum mengembangkan budidaya ayam kate dan love bird. Dengan persetujuan Titin juga, Imam mengalokasikan sedikit laba usaha warung untuk membeli induk ayam kate dan love bird. Imam memanfaatkan keterbatasan lahan dengan membudidayakan ayam kate di balkon lantai kedua rumah dan menempatkan sangkar-sangkar love bird di halaman depan rumah.
“ Tantangan budidaya unggas itu adalah rajin membersihkan kandang maupun sangkar agar tidak mengganggu kenyamanan tetangga. Berikutnya sudah tentu merawat hewan-hewan tersebut agar bisa bertelur, menetas lalu anak-anaknya nanti tumbuh besar kemudian bisa di jual,” jelas Imam kepada Cendana News.
Titin Sumartini (kiri) saat ditemui bersama Ketua Posdaya Melati 1, Trisno Budiarti (Kanan)
Sejauh ini, usaha warung Titin terus berkembang, dan Titin Sumartini sekarang menjadi Bendahara merangkap kasir Tabur Puja di Posdaya Melati 1 RW011, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Dan Imam suaminya, semakin sibuk menekuni budidaya ayam kate dan love bird, dan baru-baru ini dua puluh anak ayam kate imam habis terjual, seharga 50 ribu rupiah per ekornya. Yang tersisa sekarang hanya tiga pasang induk ayam kate di kandang, serta beberapa ekor love bird siap jual yang masih menunggu negosiasi atau kecocokan harga untuk melepasnya. Kisaran harga love bird milik imam mulai 250 ribu rupiah hingga 1 Juta rupiah.
Anak-anak Titin dan Imam sudah besar, dua diantaranya sudah menyelesaikan bangku pendidikan perguruan tinggi dan bekerja di bidangnya masing-masing. Sedangkan si bungsu, Rifqi, yang baru masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), menjadi pekerjaan rumah terakhir bagi Titin dan Imam. Dan lembaran kisah Titin dan Imam menjadi bagian besar dari pendampingan serta pemberdayaan setiap keluarga Indonesia di dalam lingkungan masyarakat oleh Yayasan Damandiri melalui Tabur Puja.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...