RABU, 4 JANUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Program simpan pinjam Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) yang diluncurkan Yayasan Damandiri sejak 2012 membidik sektor pengembangan ekonomi mikro masyarakat. Tabur Puja sendiri adalah bagian utama dari seluruh Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Indonesia binaan Yayasan Damandiri.
| Sri Hartini yang sukses mengembangkan usaha mikro berkat simpan pinjam Tabur Puja. |
Sri Hartini, warga RW 012 Kebayoran Lama Selatan adalah seorang pelaku usaha mikro di pasar tradisional bernama Pasar Kedip, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Selain itu, ia juga adalah anggota Posdaya Soka RW 012 Kelurahan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kelompok 2 Tabur Puja. Di Pasar Kedip, Sri berdagang sayuran, bumbu dapur, dan ikan asin sejak tahun 1980.
Suatu ketika, ia merasa dagangannya kurang laku jika tidak dilengkapi, terutama melengkapi dagangan ikan asin miliknya. Apa yang dirasakan Sri berbanding terbalik dengan keadaan keuangannya. Ia merasa tidak sanggup untuk membeli berbagai jenis ikan asin untuk melengkapi dagangannya, dengan kata lain ia memiliki masalah dengan modal dagang. Akhirnya pada awal 2016, ia berkenalan dengan seorang kader Posdaya dan mendapat penjelasan lengkap mengenai Tabur Puja.
“Saya kebingungan, di satu sisi saya ingin dagangan saya semakin maju, di sisi lain saya tidak punya modal. Padahal saya hanya butuh dua setengah juta rupiah saja sebagai tambahan modal. Dan itulah awal perkenalan saya dengan Posdaya Soka serta Tabur Puja,” tutur Sri kepada Cendana News di kediamannya.
Singkat cerita, Sri Hartini akhirnya masuk menjadi anggota Posdaya Soka untuk ikut Tabur Puja. Lewat Tabur Puja ia mendapat pinjaman awal sebesar Rp 2.000.000 angsuran selama 10 bulan untuk mengembangkan usaha dagangnya di Pasar Kedip. Lalu setelah menambahkan uang sebesar Rp 500.000 dari tabungan pribadi, akhirnya Sri memiliki modal sebesar Rp 2.500.000 yang dibelanjakan keperluan ikan asin untuk dijual kembali di Pasar Kedip. Tidak tanggung-tanggung, 20 jenis ikan asin, atau dengan kata lain seluruh jenis ikan asin yang ada di distributor ikan asin Pasar Kebayoran Lama ia beli demi menambah keragaman dagangan ikan asin miliknya. Masing-masing jenis ikan asin ia beli antara 1-2 kg saja untuk modal awal. Mulai dari ikan teri medan, teri lampung, gabus sampai ikan peda, yakni ikan kembung serta beragam ikan lain yang diasinkan.
“Satu kilogram teri medan saya jual seharga Rp 140 ribu, teri lampung Rp 90-100 ribu per kilogram, ikan gabus Rp 105-150 ribu dan ikan peda Rp 45-55 ribu. Akan tetapi masyarakat bisa juga membeli eceran, sesuai kebutuhan saja,” Sri melanjutkan penuturannya.
Pertimbangan Sri dalam mengambil keputusan melengkapi dagangan ikan asinnya adalah jika dagangannya lengkap, pembeli tidak akan lari kepada penjual lain. Tinggal bagaimana Sri bernegosiasi dengan pembeli saja agar pembeli tersebut jangan sampai pindah tempat belanja. Strategi Sri ternyata sangat jitu, dagangannya bisa habis dalam waktu beberapa jam saja. Dengan tambahan modal untuk 20 jenis ikan asin, omset dagangan Sri per hari sekarang sudah mencapai Rp 2.000.000 dengan keuntungan bersih sebesar Rp 300.000.
“Saya senang, karena impian saya menjual beragam jenis ikan asin bisa kesampaian. Tabur Puja datang di saat yang tepat kepada saya. Sudah garis hidup saya untuk mengenal Posdaya dan ikut Tabur Puja,” sambung ibu dua anak asal Desa Ngemplak Bothi, Ngemplak, Kartasura ini kepada Cendana News.
Ternyata, selain sudah berdagang lama di Pasar Kedip, Sri Hartini juga adalah pelopor pertama yang berdagang di Pasar Kedip sejak 1980. Artinya, ia merupakan pedagang pertama yang berdagang di sana lalu membuka jalan bagi rekan-rekan pedagang lainnya untuk ikut berdagang di pasar tersebut. Dan dari hasil berdagang selama 36 tahun di Pasar Kedip inilah ia bisa menyekolahkan dua orang anaknya. Anak pertama buah pernikahan Sri dengan suaminya, sudah bekerja sebagai staf Event Organizer sebuah hotel berbintang ternama di Jakarta. Anak kedua mereka berhasil masuk Akademi Kepolisian dan sekarang bertugas di Polda Metro Jaya. Dari kedua anaknya tersebut, Sri dikaruniai tiga orang cucu yang lincah dan lucu.
| Jalan masuk menuju Pasar Kedip, Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan. |
“Cucu itu bagaikan matahari kehidupan bagi saya. Memberi semangat saat saya berangkat ke pasar untuk berdagang,” pungkas Sri.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw