SOLO — Melonjaknya harga cabai akhir-akhir ini menjadi salah satu permbicaraan hangat. Komoditi cabai itu banyak dikeluhkan masyarakat. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Supangat yang menyiasati pedasnya harga cabai dengan menanam di halaman rumah sendiri.
![]() |
| Supangat dan tanaman cabai di polybag. |
Tidak perlu halaman yang luas untuk bisa menanam cabai. Warga Kampung Krapyak, Kecamatan Sragen Kota, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini, berhasil mengantisipasi mahalnya harga cabai dari depan rumahnya. “Tak harus luas, halaman rumah 1-2 meter saja sudah cukup,” ucap Supangat yang mengaku tidak ada pengalaman sedikit pun soal pertanian, Kamis (25/1/2017).
Dengan memanfaatkan halaman rumah yang tak begitu luas, pria 78 tahun itu memilih menanam cabai dengan plastik polybag. Hasilnya, pria yang merupakan pelatih badminton di Sragen itu mampu mencukupi kebutuhan cabai sendiri, bahkan lebih. “Saya itu suka cabai yang segar. Kalau sudah 2 hari dipetik baru dimakan, menurut saya itu cabai tidak enak,” aku Supangat sambil memetik beberapa cabai.
Ia juga mengaku tak ambil pusing dengan tingginya harga cabai di pasaran. Bahkan, lonjakan harga cabai yang diakibatkan kendala cuaca itu dibantahnya dengan keras. “Kalau alasannya cuaca itu bohong. Cuma permainan tengkulak saja. Contohnya, banyak hujan cabai saya juga baik-baik saja. Memang ada yang mati, tapi tidak seberapa,” jelas dia.
Yang disayangkan Supangat adalah kesadaran masyarakat saat ini sangat rendah untuk gerakan menanam sendiri. Terlebih, saat ini masyarakat sering dibodohi dengan berita-berita yang tidak benar. Ironisnya, saat kondisi Indonesia pelik dengan harga sejumlah komuditi, pemerintah seolah tidak sigap dalam menghadapi harga cabai yang masih terus tinggi tersebut. Menurut dia, jika pola tanam cabai menggunakan polybag itu ditekankan pada setiap keluarga, maka tidak akan terjadi harga cabai melonjak tajam seperti saat ini.
“Bisa kita bayangkan, jika pemerintah memerintahkan satu keluarga menanam 5 pohon cabai saja. Bisa-bisa Indonesia tidak akan kekurangan cabai dan harganya tidak sepedas sekarang. Bahkan, kita bisa impor cabai ke negara lain,” tandas Supangat.
Ditambahkan, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk menanam ini perlu digalakkan. Gerakan menanam, menurut Supangat, tidak ada ruginya, karena suatu hari pasti akan memanen. “Kalau tidak kita, ya anak cucu nanti yang akan menerima hasilnya,” tekannya.
Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid