Sejarah Kota Malang (1): Awalnya Watu Gong Dekat Danau Purba

SENIN 9 JANUARI 2017

MALANG —Jika berbicara sejarah kota Malang, tentunya tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut sebagai wilayah Malang raya, karena tiga daerah di Malang raya yaitu kota Malang, kabupaten Malang dan kota Batu itu sebagai suatu entitas, baik sebagai entitas ekologis, entitas historis , entitas sosial dan entitas budaya. Hal tersebut dapat di pahami karena kehadiran kota Malang sendiri pada 1 April 1914 adalah sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Malang. 
Peninggalan Sejarah Watu Gong di daerah Tlogomas.
Oleh karena itu tidak heran apabila di lihat sejarah perkembangan Kota Malang pra 1914, masih sangat terintegrasi dengan sejarah Kabupaten Malang. Karena  sebelum dipisahkan antara kota Malang dengan Kabupaten Malang pada 1914, Kota Malang masih termasuk bagian yang dulu disebut dengan Kadipaten Malang, Katemanggungan Malang  atau Kabupaten Malang. 
Sehingga, secara  historis terdapat relasi hubungan antara kesejarahan kota Malang dengan Kabupaten Malang khususnya sebelum tahun 1914. Begitu pula secara ekologis juga tidak jauh berbeda antara kedua daerah tersebut, seperti sungai-sungainya,  gunung, dataran tingginya ada yang sebagaian masuk di wilayah 

Kabupaten Malang dan ada juga yang masuk wilayah  Kota Malang.

Sebelum berbicara sejarah Kota Malang. Terlebih dulu perlu dibedakan antara sejarah pemerintahan Kota Malang  dengan sejarah daerah yang sekarang bernama kota Malang. Sejarah Kota Malang memang dimulainya pada tahun 1914, tapi bukan berarti sebelum tahun tersebut wilayah yang sekarang disebut kota Malang ini tidak memiliki sejarah. 
Kesejarahan daerah yang bernama kota Malang sebenarnya sudah ada sejak jaman pra sejarah, terutama pada jaman becocok tanam yang kemudian berlanjut pada masa perundagian. Pada jaman Prasejarah sudah hadir jejak-jejak sejarah, budaya, maupun jejak sosial di wilayah kota Malang kendati pada masa itu wilayah tersebut belum bernama kota. Setelah melalui masa Prasejarah kemudian berlanjut ke masa Hindu Budha, masa perkembangan Islam, masa awal kolonial sampai dengan era yang disebut dengan era pemerintahan kota Malang.
“Jadi era pemerintahan kota Malang itu sebenarnya hanyalah salah satu dari sejumlah era dari wilayah yang kini bernama kota Malang. Ada era prasejarah, era Hindu Budha, era perkembangan Islam, dan era awal kolonial,”jelas Arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM), M. Dwi Cahyono kepada Cendana News. Jadi, sejarah daerah yang sekarang bernama kota Malang ini tidak hanya bermula dari 1914, tetapi sudah dimulai jauh sebelumnya bahkan sejak jaman prasejarah,” tandasnya.
Disebutkan, pada masing-masing era tersebut, wilayah yang kini bernama kota Malang sudah menjadi tempat penting. Di era prasejarah misalnya, walaupun temuan yang ada tidak terlalu banyak, namun sudah didapati jejak-jejak pra sejarah di Malang raya khususnya di lembah-lembah sungai. Baik daerah yang berada di lembah Sungai Metro  maupun daerah yang berada di lembah sungai Brantas yang juga  masuk wilayah kota Malang,
“Di lembah Metro kita mendapati kapak Neolitik yang ditemukan di daerah sekitar Kacuk di sub area Selatan kota Malang yang berkembang di masa bercocok tanam. Kemudian kita juga mendapati perangkat dari bahan perunggu dan besi di  Lembah Brantas yang masuk wilayah Kota Malang di mana perangkat itu dari masa perundagian (masa sesudah masa bercocok tanam),” ungkapnya.
Jadi kalau dalam urutan masa prasejarah itu ada masa berburu dan mengumpulkan makanan, yang terbagi dalam dua sub yaitu yang disebut sebagai tingkat permulaan dan tingkat lanjut.  Jejak masa berburu dan mengumpulkan makanan ini yang belum didapati di Kota Malang. Kemungkinan saat itu wilayah Kota Malang belum menjadi hunian, karena pada era tersebut area Kota Malang itu masih merupakan kawasan genangan air danau purba yang belum mengering. Yang kemudian perlahan-lahan mengering, makin lama makin kering sehingga dasar danau itu menjadi daratan.
Setelah proses pengeringan, di sejumlah tempat yang sudah mengering tersebut kemudian baru dijadikan hunian, khususnya daerah-daerah di sekitar lembah sungai, atau di daerah sekitar genangan air yang merupakan sisa dari danau purba dan salah satu danau purba di Malang itu terdapat di daerah Tlogomas. 
Nama Tlogomas sendiri menggambarkan bahwa di daerah tersebut ada genangan air yang sebenarnya merupakan salah satu sisa dari danau purba Malang yang kemudian di masa bercocok tanam dan perundagian di jadikan hunian. Di daerah bekas danau ini banyak dijadikan hunian karena merupakan daerah yang subur, memiliki kandungan air sehingga memungkinkan untuk dipakai memenuhi kebutuhan kehidupan. 
Selanjutnya, menurut pria kelahiran 1962 tersebut selain berupa peninggalan kapak Neolitik dan perangkat dari perunggu besi, telah ditemukan juga jejak-jejak dari tradisi megalitik. Salah satu di antaranya yang didapati di kota Malang adalah yang disebut dengan Watu Gong yang ditemukan di dua lokasi yaitu di Daerah  Tlogomas yang sampai sekarang masih dapat dilihat di Pendopo Situs Watu Gong yang berlokasi di Jalan Kanjuruhan Gang IV, Kelurahan Tlogomas, Kota Malang. Watu Gong juga ditemukan di Ketawang Gede. 
“Seperti namanya, batu ini berbentuk seperti gong sehingga dinamakan Watu Gong yang merupakan tradisi Megalitik dan berkembang di masa perundagian,” terangnya.
Dari data-data tersebut akhirnya dapat memberikan petunjuk bahwa perjalanan sejarah daerah yang kini bernama kota Malang sebenarnya sudah ada jauh sebelum 1914. 
Bahkan sejak jaman prasejarah sudah ada kehidupan sosial dan budaya di tempat-tempat tetentu di wilayah yang sekarang masuk di dalam wilayah kota Malang. 
“Kehidupan tersebut terus berlanjut, termasuk di daerah Malang Barat yaitu di Lembah Metro terus berlanjut sampai dengan memasuki  jaman Hindu Budha,” kisahnya.
M>Dwi Cahyono.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq

Lihat juga...