Posdaya Durian Berdayakan Lansia Berwirausaha

SABTU, 14 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Posdaya Durian yang didirikan Yayasan Damandiri di Jalan Khair RW04, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada 2015, selain memberdayakan penanganan warga lanjut usia (Lansia) melalui Posyandu lansia, juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui aspek wirausaha dalam bentuk Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau disingkat Tabur Puja.
Atidjah dan beberapa contoh barang dagangannya
Dengan kehadiran Tabur Puja, diharapkan warga RW04 dapat memajukan perekonomian masing-masing keluarganya dengan membuka usaha kecil atau mikro. Salah satu anggota Posdaya Durian yang tersentuh Tabur Puja pertama kali adalah Ibu Atidjah Salimun, seorang warga lansia sekaligus janda berusia 62 tahun. Sebelumnya, ia sudah menjalankan usaha berdagang kecil-kecilan namun belum terarah akan permodalan dan pengelolaan administrasi usaha.
Ketua Posdaya Durian, Sumarti menyebutkan, Tabur Puja Yayasan Damandiri memberikan Atidjah sebuah perspektif baru dalam berdagang, yakni bagaimana menggunakan modal yang ada, memutar keuangan secara perlahan untuk kemudian berkembang dalam tahapan yang terukur keberhasilannya kelak.

Atidjah diberikan dana pinjaman awal sebesar 2 Juta rupiah. Sumarti juga mulai mengarahkan Atidjah untuk mempertimbangkan barang apa yang bisa dijadikan komoditas untuk mendapatkan laba.

“ Saya katakan, kamu harus tahu barang apa yang banyak dicari oleh warga golongan menengah ke bawah di daerah ini. Dan Atidjah memilih berdagang busana muslim,” kenang Sumarti yang asal Semarang ini tentang awal usaha Atidjah.
Atidjah mulai berdagang busana muslim satu minggu setelah menerima modal dari Tabur Puja. Ia berbelanja busana muslim dari Pasar Tanah Abang, Jakarta, sesuai daftar barang yang sudah disusun sebelumnya. Atidjah membeli hijab dan baju koko masing-masing tiga helai, gamis berhijab setengah lusin (enam helai), gamis tanpa hijab tiga helai dan blouse wanita trendi untuk remaja tiga helai. Sesampai ia dirumah, barang belanjaan mulai dipilah untuk kemudian masing-masing diberi harga. Selanjutnya, Atidjah pun menjelma sebagai seorang pedagang busana muslim keliling.
“ Saya belanjakan uang yang saya dapat semaksimal mungkin. Ini usaha pertama saya dari Tabur Puja, jadi harus saya gunakan sebaik-baiknya kesempatan berharga ini,” terang Atidjah, wanita asli Betawi asal Sawangan, Bogor, kepada Cendana News.
Harga busana muslim milik Atidjah sangat ekonomis, karena hanya berkisar 100 hingga 400 ribu rupiah per helainya. Ia juga melayani pembelian secara kredit (bayar dua kali) tapi hanya kepada keluarga dekat saja. Perlahan tapi pasti usaha Atidjah mulai berkembang.

Ada dua indikator perkembangan usaha Atidjah, yaitu dagangannya mulai laku dan cicilan Tabur Puja Atidjah lancar. Begitu seterusnya perjalanan usaha Atidjah, hingga tak terasa cicilan Tabur Puja putaran pertamanya lunas.

Atidjah semakin bersemangat, ia mengajukan pinjaman keduanya. Tabur Puja mencairkan pinjaman sebesar tiga Juta rupiah untuk Atidjah. Jumlah itu diberikan dengan dua pertimbangan teknis, bahwa cicilan Atidjah lancar dan tabungan Atidjah di Tabur Puja sudah menyentuh angka hampir satu Juta rupiah.

“ Saya sempat takut dengan uang sebanyak itu, tapi pikir saya, jika dibelanjakan barang dagangan semuanya pasti akan ada juga hasilnya, jadi jangan takut,” pungkas Atidjah.

Atidjah Salimun bersama cucu
Benar saja, keputusan Atidjah untuk kembali menerima Tabur Puja kedua berhasil menggandakan barang dagangannya. Semangatnya semakin berlipat ganda dibanding sebelumnya. Atidjah memasuki fase berikutnya dalam berdagang, yakni berpacu dengan waktu.

Dalam usia yang sudah diatas 60 tahun, Atidjah terus berkeliling menawarkan barang dagangannya kepada warga sekitar RW 04 serta arisan keluarga besarnya untuk mencari laba dan membayar cicilan lebih baik lagi dari sebelumnya. Alhasil, Bajunya laku, perputaran uangnya bagus dan cicilan Tabur Pujanya teramat sangat lancar. Dan Atidjah menjadi prioritas untuk mendapatkan pinjaman ketiga dengan jumlah yang lebih besar lagi.

Laba bersih penjualan Atidjah tidaklah besar, hanya sekitar 700 ribu sampai satu juta rupiah dalam satu bulan. Tapi itu dipergunakan Atidjah sebaik-baiknya untuk membayar cicilan sekaligus menabung di Tabur Puja. Jika Atidjah mendapatkan satu Juta rupiah setiap bulan, dan membayar cicilan sekaligus menabung sebesar 350 ribu rupiah per bulan, masih ada sisa uang di tangan buat Atidjah. Saat ditanya untuk apa uang tersebut, jawaban Atidjah adalah untuk memanjakan cucu kesayangannya.
Bukan main Atidjah, teruslah berjuang, anda seorang wanita hebat dari sekian banyak wanita hebat di negara ini.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...