Sejarah Kota Yogyakarta, Kerajaan di Atas Hutan Pabringan

SABTU, 14 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Sebagai salah satu kota tua di nusantara, Yogyakarta memiliki sejarah yang sangat panjang. Keberadaannya sebagai pusat pemerintahan kerajaan Kasultanan Yogyakarta maupun Ibu Kota Propinsi DIY, tak bisa dilepaskan dari kerajaan Mataram Islam sejak abad ke 15 yang berpindah-pindah dari Kotagede ke Kerta, lalu ke Plered hingga ke Kartasura. Adanya perjanjian Palihan Nagari atau lebih dikenal dengan Perjanjian Giyanti menjadi tonggak berakhirnya kerajaan Mataram Islam sekaligus awal pendirian Kota Yogyakarta pada tahun 1755.
Kraton Yogyakarta
Sebagai sebuah rekayasa Belanda, Perjanjian Giyanti membagi wilayah kekuasaan Mataram menjadi dua bagian. Wilayah kekuasaan di sebelah timur diberikan kepada Pakubuwono III yang berpusat di Surakarta, sementara wilayah kekuasaan di sebelah barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan berkedudukan di Yogyakarta.
Sebelum dibangun kerajaan, daerah Yogyakarta merupakan wilayah kekuasaan Mataram berupa hutan yang disebut alas Pabringan. Sebagai raja pertama, Sultan Hamengkubuwono I membangun istana kerajaan dengan konsep Catur Gatra Tunggal atau Catur Sagotra serta Sumbu Imajiner yang syarat dengan nilai-nilai filosofis. Hingga saat ini, kosep tata kota Yogyakarta dengan Kraton sebagai pusatnya tersebut, masih dapat dilihat sekaligus menjadi ciri khas serta identitas kota Yogyakarta.
Sebagai pusat kerajaan, Kraton Yogyakarta sendiri dibangun tepat di antara dua aliran sungai, yakni sungai Winongo di sebelah barat, serta sungai Code di sebelah timur. Seperti halnya kerajaan Jawa pada umumnya, Kraton Yogyakarta juga dibangun dengan konsep Catur Sagotra, yang memadukan empat komponen utama yakni Kraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat, masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, serta pasar sebagai pusat perekonomian.
Pintu masuk kraton
Sejarawan yang banyak meneliti tentang kerajaan Mataram, Hanif Adrian menyebutkan, konsep Catur Sagotra ini selalu ditemukan pada hampir semua ibukota kerajaan Islam di Jawa seperti Demak, Pajang, Mataram hingga Surakarta dan Yogyakarta. Konsep ini bahkan sebenarnya juga sudah mulai diterapkan sejak zaman kerajaan Hindu seperti Majapahit sekitar abad 12. Diyakini konsep Catur Sagotra ini sebenarnya mengadopsi konsep tata kota kerajaan di zaman Hindu.
“Sebenarnya di zaman kerajaan Hindu, konsep ini juga sudah digunakan. Seperti kerajaan Majapahit di Jawa Timur itu kalau kita lihat juga menggunakan konsep ini. Ada Kraton sebagai pusat, lalu didepannya ada alun-alun. Dan disebelahnya lagi ada pasar. Sementara pusat kegiatan keagamaan pada zaman Hindu berupa candi. Setelah Islam masuk, baru bangunan candi digantikan masjid. Namun secara konsep tetap sama,” ujarnya kepada Cendana News, belum lama ini.
Yang menarik, tak seperti kota kerajaan lainnya, Yogyakarta juga dibangun dengan menggunakan konsep sumbu imajiner. Konsep ini diyakini sebagai buah pemikiran Sri Sultan Hamengkubuwono I sendiri. Dimana bangunan kraton dibangun tepat di tengah-tengah garis lurus utara-selatan yang menghubungkan laut selatan, Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan, kraton sendiri, jalan Pangurakan, Jalan Margo Mulyo, Jalan Malioboro, Jalan Margo Utomo, Tugu, serta Gunung Merapi.
Sejarawan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Sumardiyanto, yang banyak meneliti konsep arsitektur bangunan tradisional Jawa menyebukan, sejak dulu masyarakat Jawa sudah mengetahui bahwa bumi berputar mengikuti peredaran matahari pada sebuah poros atau sumbu yang ada di utara dan selatan. Konsep inilah yang diterapkan dalam membangun bangunan baik rumah tradisional maupun kraton. Utara dan Selatan menjadi sesuatu yang mutlak bagi orang Jawa. Hal itu juga tidak terlepas karena orang Jawa meletakkan diri sebagai mikro kosmos dan makro kosmos, sehingga perjalanan hidup orang Jawa selalu mengikuti konsep tersebut.
“Sumbu imajiner mulai dari kraton hingga ke Tugu itu menggambarkan perjalanan hidup seorang manusia. Memang ada beberapa versi makna. Saya sendiri melihat kraton itu menggambarkan orang yang baru saja lahir. Lalu dia harus berjalan ke Utara, melewati jalan Pangurakan, dan jalan Margo Mulyo atau jalan kemuliaan. Dalam perjalanan itu seseorang akan mendapat banyak godaan. Salah satunya kekayaan yang disimbulkan pasar di sisi timur jalan. Jika ia belok ke pasar, maka ia tidak akan mencapai kemuliaan,” ujarnya.
Setelah berhasil melewati jalan Margo Mulyo, Lanjutnya orang tersebut kemudian akan berjalan ke utara melewati Jalan Malioboro. Di jalan Malioboro ini dikatakan Sumardiyanto, orang tersebut akan kembali mendapat godaan berupa kekuasaan yang disimbulkan dengan kompleks pemerintahan kepatihan. Bila ia lulus, maka ia akan mencapai jalan keutamaan atau jalan Margo Utomo sehingga sampai ke Tugu.
“Bangunan Tugu Yogyakarta yang ada saat ini sendiri sebenarnya kurang memiliki makna karena sudah berubah setelah rusak akibat gempa tahun 1867. Bangunan Tugu yang asli merupakan kombinasi dua komponen utama dari bentuk silinder (gilig) dan bulatan (golong), sehingga disebut Tugu Golong Gilig. Gilik melambangkan bahwa puncak keutamann hidup manusia itu ke arah vertikal. Sementara pada puncaknya berupa golong atau bulatan yang berarti tidak ada ujungnya atau keabadian,” ujarnya.
Tugu Jogja
Bangunan Tugu yang ada saat ini merupakan bangunan hasil buatan Belanda. Selain jauh lebih pendek dari bangunan asli, bentuk bangunan tugu juga telah jauh berubah. Untuk mengenalkan bentuk asli bangunan Tugu, pemerintah daerah Yogyakarta sendiri membuat replika Tugu Golong Gilig tepat di seberang jalan Tugu Yogyakarta yang ada saat ini.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...