Pengabdian Damandiri untuk Anak Bukit Duri

SELASA 17 JANUARI 2017

JAKARTA—Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri—Tawa dan celoteh bocah usia 2-6 tahun terdengar lucu di telinga. Berlari kian kemari bersama alat tulis dan berserakannya alat permainan jadi pemandangan yang tidak asing lagi.  Begitulah suasana ruang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Posdaya Melati 1, RW011 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan binaan Yayasan Damandiri setiap pekannya mulai Senin hingga Kamis.
Murid PAUD Posdaya Melati 1 Bukit Duri dan ekpresi alami masing-masing.
Tidak stabilnya ekonomi warga Bukit Duri akibat dibekap siklus banjir kiriman sejak 1998 hingga pertengahan 2016 turut mempengaruhi program pendidikan anak-anak Bukit Duri, khususnya usia 2-6 tahun. Proyek normalisasi Ciliwung akhir 2016 oleh Pemprov DKI Jakarta untuk menanggulangi banjir ternyata berimbas juga terhadap banyaknya anak usia dini pindah sekolah bahkan putus sekolah sejenak menunggu tahun ajaran baru.

Masuknya Yayasan Damandiri
Di tengah tidak menentunya program pendidikan anak usia dini di Bukit Duri inilah Yayasan Damandiri masuk pada 2014 melalui pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya. Memahami keadaan warga Bukit Duri RW011, Yayasan Damandiri melalui Posdaya Melati 1 binaannya mulai menggiatkan beragam aspek kegiatan pemberdayaan masyarakat, dua diantaranya aspek wirausaha melalui Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) dan aspek pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD.
Yayasan Damandiri yakin jika bisa memperbaiki ketimpangan ekonomi warga Bukit Duri, program pendidikan akan berjalan lancar. Melalui Tabur Puja, warga mulai diberdayakan membuka usaha kreatif mikro. Perlahan tapi pasti, perekonomian mulai bisa diperbaiki hingga warga bisa konsentrasi untuk meneruskan pendidikan anak-anak usia dini mereka di PAUD Posdaya Melati 1 RW011, Bukit Duri.
Perjalanan Program Pendidikan Anak Usia Dini
Keberhasilan Yayasan Damandiri melalui Tabur Puja secara ekonomi mengembalikan konsentrasi warga Bukit Duri melanjutkan program pendidikan anak-anak mereka bukan berarti sudah membuat warga sanggup berdiri sendiri, masih perlu sentuhan lebih jauh. Tidak seperti PAUD di lingkungan elit pada umumnya, PAUD Posdaya Melati 1 tidak bisa memberikan standar iuran bagi warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Keadaan masih tidak memungkinkan untuk hal itu.
“Kami mengerti dan memahami keadaan warga Bukit Duri karena saya sendiri juga warga Bukit Duri. Oleh karena itu, kami tidak pernah dan tidak akan mengenakan iuran yang melebihi kemampuan warga. Bahkan iuran saat ini sebesar dua puluh lima ribu per bulan juga adalah cukup
habis untuk operasional saja. Bagi kami, menjadi guru di sini adalah murni sebuah pengabdian untuk anak-anak Bukit Duri,” tutur Martuti,Kepala PAUD Posdaya Melati 1 RW011, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan kepada Cendana News, Sabtu (14/01/2017).
Yayasan Damandiri melangkah semakin jauh ke dalam untuk pendidikan anak-anak usia dini Bukit Duri. Sinergi antara Yayasan Damandiri dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Trilogi turun ke lapangan untuk memberi Pelatihan dasar bersertifikat bagi guru-guru PAUD Posdaya Melati 1. Keterbatasan warga dalam biaya maupun keadaan ekonomi keluarganya bukan sebuah alasan mengorbankan pendidikan anak usia dini. Begitulah proses perjalanan PAUD Posdaya Melati 1 akhirnya terus berjalan hingga saat ini.
Buah Manis Pengabdian Yayasan Damandiri di Bukit Duri
Pengabdian Yayasan Damandiri serta seluruh warga Bukit Duri memperjuangkan PAUD Posdaya Melati 1 berbuah manis. Di tengah keterbatasan, PAUD terus berjalan maju tanpa menoleh ke belakang. Saat ini ada 36 orang anak usia Batita (bayi usia tiga tahun) dan Balita (bayi usia lima tahun) aktif mengikuti proses belajar di PAUD Posdaya Melati 1. Mereka dibagi dalam 3 kelas, yakni Kelas A untuk kelompok usia 3 tahun ke bawah, Kelas B untuk kelompok usia 4-5 tahun serta
Kelas B Siang, berupa program tambahan bagi kelompok usia 5-6 tahun dalam persiapan mereka masuk Sekolah Dasar (SD).
Guru PAUD Posdaya Melati 1 hingga Januari 2017 berjumlah 5 orang, termasuk Martuti sebagai Kepala PAUD di dalamnya. “ Saya mengajar Kelas A untuk anak Batita,” sebut Martuti. 
Para guru juga sudah menggunakan kurikulum tiga belas revisi (Kurtilas revisi) sebagai acuan dalam mengajar. Pelatihan untuk kurikulum tersebut juga sudah diterima melalui pelatihan dari LPPM Universitas Trilogi. Selain itu, melalui PAUD turut pula berkembang Bina Keluarga Balita (BKB), yang bertujuan mengedukasi para orangtua mengenai pola serta bahan makanan sehat bagi anak, cara bermain anak yang mendidik serta bagaimana cara mengasuh anak usia dini.
Dalam sebuah lomba permainan edukatif tingkat Jakarta Selatan yang diadakan di Taman Impian Jaya Ancol pada 2016, murid-murid lucu dan kreatif PAUD Posdaya Melati 1 Bukit Duri berhasil mendapat Juara II jenis lomba mengambil bendera sesuai angka dan Juara Harapan I jenis lomba memindahkan bola. Hal kecil bagi segelintir orang, tapi bagi seorang bapak yang begitu dekat dengan anaknya, hasil yang didapat anak-anak Bukit Duri PAUD Posdaya Melati 1 merupakan kebahagiaan tak ternilai bagi Yayasan Damandiri.
Buah yang manis rasanya pasti diminati setiap pembeli. Entah pembeli tersebut hanya sebatas mendengar dari orang lain atau sudah pernah melihat sekaligus mencicipi langsung. Tapi dalam konteks pemberdayaan pendidikan anak-anak Bukit Duri, pemerintah tidak mau belajar dari lingkaran program pemberdayaan Yayasan Damandiri. Namun hal itu tidak terlalu dipikirkan, karena bagi Yayasan Damandiri keberhasilan memperjuangkan pendidikan anak-anak Bukit Duri adalah sebuah pengabdian untuk anak-anak Indonesia.

 Anak-anak Bukit Duri bermain di bekas lokasi normalisasi Ciliwung. 

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw/Martuti

Lihat juga...