Menyusuri Kampung Pulau Parumaan Sikka (2-Habis)“Kambing Berkeliaran Bebas di Sela Rumah-rumah Panggung”

RABU, 11 JANUARI 2017

MAUMERE — Menginjakan kaki di dermaga kapal bantuan pemerintah di Pualu Parumaan, Desa Parumaan, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, pandangan mata langsung tertuju kepada deretan rumah panggung yang berada persis di ujung dermaga ini.
Kambing-kambing piaraan warga tampak bebas berkeliaran.
Semua rumah warga di pulau dengan panjang sekitar 500 meter, lebar sekitar 300 meter ini merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan juga semen. “Hampir semua penduduk pulau ini merupakan suku pendatang dari Bajo dan Bugis di Sulawesi. Rumah panggung merupakan budaya Suku Bajo dan Bugis yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan,” ujar Muhdir.
Sekertaris Desa Parumaan itu juga menyebut, semua lelaki di pulau dengan penduduk sebanyak 625 Kepala Keluarga dengan total jiwa 2.234, tersebut berprofesi sebagai nelayan. Kebanyakan rumah panggung di pulau ini berdinding bambu belah (halar -red) dan ada beberapa yang seluruh bangunannya berdinding tembok. Atap rumah menggunakan seng.
Rumah Panggung di Kampung Parumaan Kabupaten Sikka.
Beberapa rumah terlihat berumur tua. Dinding bambunya sudah kusam dan kecokelatan. Kayu rumah panggung juga terlihat mulai rapuh, sehingga harus ditopang dengan bambu atau kayu bulat. “Meski hidup sederhana, rata-rata pendapatan warga di sini cukup besar. Namun, saat musim badai, mereka tidak melaut, “ terang Muhdir.
Hal menarik di Desa Parumaan ini, hampir semua warganya memelihara kambing, yang dilepas-liarkan sehingga bebas mencari makan di sekeliling pulau ini. Kotoran kambing terlihat berserakan di sepanjang jalan, halaman Kantor Desa, halaman rumah ibadah, bahkan di depan rumah warga sekalipun. Pada leher kambing diikat tali berwarna-warni yang dipakai sebagai tanda oleh pemiliknya.
“Memang kotoran kambing sangat meresahkan dan mengotori lingkungan. Namun, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun warga di sini,’ terang Muhdir.
Baca Juga:
Kambing-kambing ini berkeliaran hingga ke pesisir pantai, perumahan warga dan juga di hutan-hutan sekitar perkampungan setempat, bahkan juga tidur di setiap bangunan dan jalan. Kambing-kambing ini terlihat jinak dan tidak takut, meskipun pengunjung mencoba menangkapnya. Mungkin, karena sudah terbiasa, kambing-kambing ini pun seakan sudah bersahabat dengan siapa saja selain pemiliknya. “Kalau malam hari, kambing-kambing ini akan kembali ke rumah pemiliknya dan tidur di kolong rumah pannggung,” jelas Muhdir.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...