Menyusuri Kampung Pulau Parumaan Sikka (1)“Pohon Bakau di Tengah Laut dan Ratusan Kapal Nelayan Jadi Pemandangan Indah”

RABU, 11 JANUARI 2017

MAUMERE —  Pulau Parumaan merupakan salah-satu dari gugusan kepulauan di Laut Utara Flores di wilayah Kabupaten Sikka. Terdapat sekitar 8 pulau besar dan 2 pulau kecil di perairan ini. Selain Pulau Parumaan yang berpenghuni, juga terdapat Pulau Kojagete, Kojadoi, Pemana, Semparong dan Palue. Sementara pulau Kambing dan Pulau Babi tidak dihuni warga dan hanya dijadikan tempat singgah nelayan dan lahan perkebunan.
Tiga Pohon Bakau di tengah laut di Kepulauan Parumaan Kabupaten Sikka.
Pulau Parumaan berada di teluk sebelah timur Pulau Kojagete, yang merupakan pulau terbesar di gugusan kepulauan wilayah Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. “Semua warga desa di Pulau Parumaan beragama muslim, dari Suku Bajo dan Bugis Sulawesi dan berprofesi sebagai nelayan,” ujar Dahi Bacu, salah seorang sesepuh Desa Parumaan, Senin (9/1/2017).
Menurut Bacu, hampir semua warga Parumaan memiliki perahu motor penangkap ikan yang dikerjakan oleh beberapa warga di pulau ini. “Ada kapal motor yang harganya dua puluh lima juta, bahkan seratus juta rupiah, tergantung panjang dan lebar kapal tersebut,” tuturnya.
Kapal-kapal nelayan bersandar di Pulau Parumaan.
Perahu motor tersebut dibuat dari papan dan dipasangi mesin tempel yang dibeli seharga Rp. 10-25 Juta, tergantung daya mesin yang akan digunakan. Namun, rata-rata kapal yang dimiliki bermesin paling tinggi 100 PK (tenaga kuda).
Saat tidak melaut, kapal-kapal ini di parkir di sepanjang garis pantai di pulau ini, bahkan ada yang ditambatkan di belakang tanggul persis di belakang rumah warga yang berbentuk panggung. Semua kapal motor dicat warna-warni sesuai selera pemiliknya. Saat terparkir, ratusan kapal ini terlihat sangat indah, apalagi air laut di pulau ini terihat berwarna hijau dan kebiruan saat diterpa sinar mentari.

Selain itu, ada satu yang unik di Parumaan, yakni adanya 3 pohon bakau yang tumbuh di tengah laut berjarak sekitar 100 hingga 150 meter dari bibir pantai dan dermaga permanen bantuan pemerintah. Dua pohon bakau yang berukuran lebih besar dengan tinggi dari atas air laut sekitar 3 meter, letaknya berdekatan, sementara lainnya terletak agak ke tengah laut dan berjauhan, satu di timur dan satunya di sisi barat. “Mungkin dahulu tempat tersebut masih daratan, sehingga pohon bakau tumbuh di sana,” tutur Muhdir, Sekretaris Desa Parumaan.
Bila ke Kabupaten Sikka, wisatawan bisa mengitari gugusan kepulauan ini dan menikmati keindahan alam bawah lautnya, serta mengabadikan berbagai keunikan yang ada dengan mencarter kapal motor seharga Rp. 300-500.000 sehari.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...