RABU 18 JANUARI 2017
JAKARTA—Fenomena Hoax (kabar bohong) akan sangat berpengaruh dalam peristiwa politik seperti pemilihan legislatif (pileg), bahkan dikhawatirkan akan semakin marak menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.
![]() |
| Diskusi di Press Room Gedung Nusantara III “Waspada Berita Hoax Jelang Pilkada” |
Hal ini dikatakan, Anggota Komisi II DPR RI, Yandri Susanto dalam diskusi “Waspada Berita Hoax Jelang Pilkada Serentak” di Press Room, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Rabu (18/1/2017).
Menurut Yandri, hoax akan menyebabkan persaingan politik, baik di internal partai atau antar partai politik akan semakin berbahaya. Calon legislatif bisa menggunakan Hoax untuk menghantam lawan politiknya.
“Ujungnya menghasilkan demokrasi kita tidak bermutu dan anggota DPR juga tidak berkualitas,” imbuhnya.
Yandri pun menyampaikan bahwa kejahatan hoax akan lebih sadis jelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017. Pendukung Parpol saling menyerang antar kandidat.
Sementara, Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arwani Thomafi, menganggap Hoax merupakan konsekuensi dari sistem pemilihan terbuka. Dia menilai media massa turut berperan dalam penyampaian hoax.
“Media juga menjadi medium penyampaian fitnah,” ujar Arwani.
Namun, Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menganggap hoax tidak perlu ditakutkan, yang terpenting adalah tindakan pengklarifikasian terkait hoax itu.
“Hoax menurut saya, mestinya buktikan secara ilmiah. Jika tidak dibuktikan Sebab Hal tersebut sulit dibenarkan dalam NKRI,” imbuhnya.
Untuk itu, untuk menangkal berita berita Hoax tersebut, Pangi menghimbau agar mayoritas di negeri ini, harus melindungi minoritas, begitu pun minoritas mesti hargai mayoritas agar terciptanya kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
“Tidak ada tempat untuk Hoax di negeri ini. Karena mengganggu kebhinekaan,” tutup Pangi.
Jurnalis: Adista Pattisahusiwa/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Adista Pattisahusiwa