Tiap Musim Hujan, Sawah di Desa Sedarat Ponorogo Jadi Kolam

RABU, 18 JANUARI 2017

PONOROGO – Simin (66), petani di Dusun Prengguk, Desa Sedarat, Kecamatan Balong, harus ekstra bersabar menghadapi musim tanam tahun ini. Pasalnya, sepanjang 2016 kemarin, hujan selalu mengguyur kawasan Desa Sedarat, yang menyebabkan sekitar 3 hektar sawah milik warga di desa tersebut terendam air setinggi dada orang dewasa. Simin dan sejumlah petani lain pun terpaksa tak bisa bercocok-tanam, dan ironisnya kejadian ini telah berulang selama puluhan tahun.
Kondisi areal persawahan Desa Sedarat
“Ini air kiriman dari kampung-kampung dan juga air dari kawasan tiga gunung, Gunung Rajegwesi di bagian selatan, Gunung Bobrok di sebelah barat dan Gunung Prengguk di sebelah utara,” jelas Simin, saat ditemui, Rabu (18/1/2017).
Simin sendiri mengaku sepanjang tahun 2016 kemarin, ia hanya bisa merasakan satu kali panen padi. Selebihnya, lahan miliknya dibiarkan saja akibat tergenang air. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah terkait hal ini. Pasalnya, jika saja dibuatkan sudetan air, maka kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi.
Simin mengakui, penyebab tergenangnya hektaran sawah sebenarnya karena faktor geografis dan saluran irigasi yang kurang lebar. Jika ada saluran irigasi serta sudetan yang dijaga penuh, kejadian tergenangnya sawah tidak mungkin terjadi. Padahal, lahan di Desa Sedarat termasuk lahan subur. Tiap kali musim kemarau pun bisa ditanami, dan hasil panenannya tidak mengecewakan. Hanya saja, saat musim penghujan, sawah di area ini berubah menjadi kolam air besar. “Kejadian sawah tergenang ini sudah terjadi puluhan tahun lalu, tapi perhatian dari pemerintah tidak ada,” ujarnya.
Setiap kali musim hujan dan tergenang air, di sepanjang jalan tampak beberapa warga tengah asyik duduk sembari membawa alat pancing. Kawasan ini seolah menjelma seperti kolam pemancingan yang besar, dengan panorma kawasan pegunungan.
Salah-satu pemancing, Mul (35), mengatakan, ia selalu menyempatkan diri datang untuk sekedar memancing di kawasan ini mulai dari pukul 08.00-14.00 WIB. Ikan yang didapat pun lumayan banyak jenisnya, seperti nila, gabus, mujair dan wader. Hasilnya bisa dibawa pulang langsung. “Di sini enak, tidak ada yang melarang. Selain itu, juga gratis. Ikan hasil pancingan bisa langsung dibawa pulang. Hanya saja, tidak tersedia warung kopi dan jajanan, karena di sini area persawahan,” pungkasnya.

Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : Koko Triarko / Foto : Charolin Pebrianti

Lihat juga...