Interaksi Rutin Kelompok, Sukseskan Tabur Puja Posdaya Soka Jakarta Selatan

RABU, 4 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Untuk mempermudah pergerakan program simpan pinjam Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja), Posdaya Soka RW 012, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan, melakukan sistem pembagian kelompok dengan dikepalai seorang koordinator atau disebut Penanggung Jawab (PJ). Dengan begitu, akan memudahkan fungsi kontrol bagi Posdaya Soka kepada para anggota yang ikut program Tabur Puja.

Suratmi, PJ Kelompok 2, Tabur Puja Posdaya Soka, Jakarta Selatan.

Salah satu kelompok Tabur Puja di wilayah kerja Posdaya Soka adalah Kelompok 2 di bawah pengawasan PJ Suratmi, seorang warga RT 03 RW 012, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan. Seluruh warga RT 03 sudah tidak asing dengan sosok Suratmi, karena ia sudah tinggal di lingkungan tersebut sejak 2005. Disamping itu, mendiang suami Suratmi adalah Ketua RT 03 yang cukup dihormati warga semasa hidup bahkan hingga sekarang walau sudah tiada, hasil kerjanya tetap dikenang warga.

Sosok Suratmi yang pekerja keras dalam membantu suami mencari nafkah menjadi contoh yang positif bagi warga sehingga kala ia mempromosikan Tabur Puja, seketika itu juga banyak yang ikut bergabung. Sejak itulah Kelompok 2 dibawah PJ Suratmi terus berkembang. Berawal dari 5 orang, lalu bertambah menjadi 11 orang hingga saat ini sudah 16 orang anggota yang tersebar di berbagai wilayah seperti RT 03, RT 04, RT 05, RT 06 serta RT 08.

Menurut Suratmi, pembagian kelompok ini memang sangat membantu lancarnya gerakan Tabur Puja menyentuh kalangan akar rumput atau masyarakat bawah, bahkan sekarang sudah menyentuh masyarakat menengah ke bawah. Dengan dibagi kelompok akan mudah memetakan keberadaan anggota, usaha-usaha yang dijalankan anggota. Baik di rumah maupun tempat lain serta mengerucut pada kemudahan melakukan konsolidasi untuk kegiatan-kegiatan Posdaya Soka di luar kegiatan Tabur Puja.

“Anggota saya kebanyakan adalah warga asli wilayah ini. Usaha mereka seperti berjualan minuman, kue, tukang sate, tukang ikan asin di Pasar Kedip, tukang buah di Pasar Kedip, tukang soto bahkan pedagang makanan. Mereka menyebar ke berbagai wilayah saat berdagang, sehingga sistem pembentukan kelompok memudahkan saya memantau sekaligus bersosialisasi langsung. Selain itu, memudahkan pula untuk menghimpun mereka dalam kegiatan Posdaya lain seperti kerja bakti, Posyandu, PAUD, Bank Sampah sampai penghijauan,” terang Suratmi kepada Cendana News di kediamannya.

Mengenai sosok Suratmi sebagai PJ, seorang anggota Posdaya Soka yang ikut Tabur Puja bernama Sri yang sehari-harinya berdagang ikan asin di Pasar Kedip memang mengakui, PJ Suratmi sangat luwes dalam menggiatkan Tabur Puja. Selain itu juga Suratmi bukan sebatas seorang PJ saja, melainkan seorang teman yang bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan bagi sesama ibu-ibu.

“Itu kata mereka dan memang bagaimana diri seseorang ukurannya adalah penilaian dari orang lain. Terima kasih jika memang anggota merasa nyaman dengan saya, akan tetapi bukan itu saja inti pengayoman seorang PJ dalam sistem kelompok. Karena seorang PJ harus bisa membawa kelompoknya berkembang. Minimal membesarkan kelompoknya menjadi 25 orang sesuai kebijakan Yayasan Damandiri untuk pengelompokan anggota dalam Tabur Puja,” jelas Suratmi menanggapi.

Bagi para anggota Posdaya Soka Program Tabur Puja, pengelompokan ini juga berguna untuk mengatasi beberapa permasalahan terkait pelaksanaan Tabur Puja di lapangan. Salah satunya adalah jika terjadi sesuatu dan lain hal kepada salah satu anggota karena terlambat membayar cicilan, bisa diaktifkan sistem Tanggung Renteng untuk menutupi anggota tersebut. Keterlambatan ini dalam konteks anggota tersebut memang terbelit masalah karena keadaan usahanya yang tidak stabil sehingga butuh tambahan waktu untuk mempersiapkan uang cicilan.

“Selain itu, cara saya sebagai PJ untuk menyiasati masalah tersebut adalah dengan mengimbau para anggota  agar menyisihkan sedikit keuntungan usahanya setiap hari sebagai tabungan untuk persiapan pembayaran cicilan setiap bulan. Sehingga pada saat tiba jatuh tempo pembayaran, mereka tinggal menambahkan kekurangannya saja. Uang itu saya yang pegang atas permufakatan bersama,” sambung Suratmi.

Kepercayaan para anggota Kelompok 2 Tabur Puja kepada PJ Suratmi sangat beralasan, karena Suratmi adalah menjalankan usaha kredit barang. Beberapa anggotanya adalah pelanggan Suratmi sudah sejak lama, bahkan sejak Posdaya belum terbentuk di wilayah RW 012 Kelurahan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Artinya sudah ada keterikatan emosional antara para anggota dengan PJ Suratmi, hingga perjalanan Kelompok 2 Tabur Puja Posdaya Soka sejauh ini terpantau lancar.

“Hingga saat ini belum ada dari kelompok saya yang menunggak. Masing-masing menyadari, kepercayaan harus dipergunakan sebaik-baiknya dengan semangat tanggung jawab yang tinggi. Setiap hari saya juga berkeliling menyambangi mereka satu persatu, jadi kami semua saling kontrol melalui interaksi sehari-hari. Anggota mengerti keberadaan serta jadwal saya dan saya tahu keberadaan mereka,” lanjut Suratmi lagi.

Suratmi sendiri tidak ikut Program Tabur Puja. Karena ia memang sudah memiliki bisnis sendiri dan sudah punya ikatan simpan pinjam dengan salah satu bank di Jakarta untuk keperluan bisnisnya tersebut. Akan tetapi, menurut Suratmi, hal itu tidak menjadi masalah, karena baginya sebuah pengabdian kepada masyarakat memiliki berbagai cara. Hingga sekarang Suratmi memilih menjadi seorang kader Posdaya Soka dalam menggiatkan Program Tabur Puja.

Kegiatan Kelompok Tabur Puja Posdaya Soka dengan Posdaya asal Bogor.

“Bukan tidak mau ikut Tabur Puja, tapi bisnis saya ini butuh modal sangat besar dan lagi Tabur Puja adalah untuk usaha mikro. Sudah komitmen saya bahwa saya akan menggiatkan rekan ibu-ibu di wilayah ini dengan segenap kemampuan dan keterbatasan yang saya miliki bersama Posdaya Soka melalui Tabur Puja. Saya berpendapat, program ini sangat membantu warga, membawa kebaikan serta turut memupuk jiwa gotong royong,” pungkas wanita asal Kuala Timpang, Aceh Timur ini, menutup perbincangan dengan Cendana News.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...