RABU, 4 JANUARI 2017
MAUMERE — Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka mengimbau agar kepala sekolah membiarkan siswa-siswi yang selama ini melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang rubuh mempergunakan sementara rumah dinas guru.
| Kepala BPBD Sikka, Ir. Frederikus Kadju Djen. |
Demikian disampaikan Ir. Frederikus Kadju Djen, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News, Rabu (4/1/2017) sore. Dikatakan Fred, dirinya sudah melihat bangunan yang rubuh tersebut pada 26 Desember 2016 dan memang diminta untuk memasang tenda darurat di lokasi sekolah agar bisa dipakai sebagai ruang kelas sementara.
“Kalau bangun tenda saja kami siap dan dalam sehari sudah bisa langsung dibangun sehingga bila sudah dipastikan kami akan bangun paling lama lusa sudah dibangun,” ujarnya. Namun, lanjut Fred, dirinya tidak tega melihat siswa-siswi kepananasan sebab berada di tenda tersebut kondisinya tidak nyaman dan dijamin para siswa akan kepanasan.
“Saya sudah usulkan kepada kepala sekolah untuk memakai ruang guru dan rumah dinas yang tidak terpakai dan bila kurang memakai laboratorium,” ungkapnya.
Fred menjelaskan, rumah dinas yang ada di sekolah tersebut tidak pernah dipakai dan mubazir sebab di lokasi sekolah tidak ada air bersih. Dirinya pernah mencoba untuk mengebor di sebelah utara sekolah ke arah pantai namun airnya asin. Selain itu, bila dibor di tempat tersebut, lanjutnya, akan membutuhkan mesin pompa air untuk mengalirkannya ke lokasi sekolah yang berada di tempat yang lebih tinggi di sebelah selatan.
“Saya juga heran, kenapa sekolah dibangun di lokasi ini sebab airnya saja tidak ada sehingga siswa harus bawa air dari rumah buat ditaruh di kamar mandi,” pungkasnya.
![]() |
| SMPN 2 Reroroja yang berada jauh dari pemukiman warga. |
Disaksikan Cendana News, lokasi SMPN 2 Reroroja berada sekitar 500 meter dari pemukiman warga dan berada di bukit. Di sekelingnya hanya ada bukit dan beberapa kebun warga. Untuk sampai ke sekolah ini para murid harus menumpang angkutan kota atau menumpang ojek sepeda motor. Namun, banyak siswa yang lebih memilih berjalan kaki menuju lokasi sekolah.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
