Gema MKGR: Pertahankan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

SELASA 24 JANUARI 2017
JAKARTA—Menyoroti beragam persoalan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia belakangan ini, Generasi Muda musyawarah gotong royong (MKGR) menyelenggarakan dialog publik bertema “Krisis Konstitusi dan Ancaman Kedaultan NKRI” di Museum Kebangkitan Nasional, Gedung Stovia Jl.Dr. Abdurrahman Saleh, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (24/1/2017).
Dialog Publik di Gedung STOVIA.
Ketua Umum Gema MKGR, Sugandha Situmorang dalam sambutannya mengemukakan bahwa pihaknya tetap fokus menyoroti isu teranyar yakni “Penghinaan Pancasila” oleh oknum militer Australia Defence Force (ADF) yang dalam pelatihannya mengubah kata Pancasila menjadi Pancagila.
Melihat penghinaan yang sangat tidak patut dilakukan oleh negara tetangga tersebut, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahkan sudah membuat keputusan tegas dan memutuskan antara militer Indonesia dan Australia.
“Mirisnya lagi menurut kami ada anggota DPR RI Fraksi PDI-P bernama Charles Honoris mengatakan sikap tegas Panglima ini sebagai simbol langkah pencitraan hal ini tidak masuk akal dan logika sehat kita sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan penuh,” pungkasnya.
Hal ini ternyata, sambungnya, masih banyak masyarakat  yang kurang peka bahwa penting pembelaan dan penjagaan terhadap simbol-simbol kedaulatan negara itu dilakukan dengan cara yang maksimal sesuai koridor tertentu.
Untuk itu, dia menghimbau kepada semua masyarakat bahwa pancasila sebagai ideologi negara dan bangsa Indonesia merupakan simbol kedaulatan yang kokoh dan harus dipertahankan dengan segala cara.
Selain itu, MKGRI kemudian menyoroti undang-undang Dasar 1945 yang telah mengalami amandemen sebanyak empat kali menurut MKGR, Perlu dikaji ulang kembali apakah lebih baik jika undang-undang Dasar 1945 dikembalikan lagi ke asalnya sebelum diubah pasca reformasi. hal tersebut, mengingat tingginya kisruh politik dalam negeri nilai-nilai moral bangsa yang semakin terdegradasi pembangunan dan kesejahteraan rakyat yang tak kunjung merata sejahtera serta lemahnya pengetahuan generasi kini tentang pondasi-pondasi dasar dalam berbangsa dan bernegara.
Amandemen undang-undang Dasar 1945, jelas dia, perlu dikaji secara mendalam karena kami menduga pengubahan tersebut sangat sarat akan nilai-nilai neoliberalisme yang terus merusak setiap persendian bangsa.
“Kami Gema MKGR tidak tinggal diam, akan mengawal terus pembahasan tentang dasar negara (UUD 1945). kami akan berdiri paling depan ketika Pancasila dan simbol kedaulatan negara dihina. Kami akan terus berperan aktif membentuk kesadaran bersama untuk bersikap kritis terhadap kondisi bangsa, dan berbagai ancaman kedaulatan NKRI,” tutupnya.
Jurnalis: Adista Pattisahusiwa/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Adista Patisahusiwa
Lihat juga...