Damandiri Fokus Bangun Desa Lestari Impian Pak Harto

SENIN, 16 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sebuah desa tampak lesu dari kegiatan sehari-hari, sehingga warganya terbekap kemiskinan. Begitulah suasana Desa Cantigi, Indramayu, Jawa Barat, sebelum ada uluran tangan dari Yayasan Damandiri. Potensi lokal untuk memanfaatkan laut tidak tergarap maksimal, karena tidak ada satupun instansi yang turun ke desa itu untuk mengedukasi warganya.
Siti Hediati Soeharto dan Subiakto Tjakrawerdaja potong tumpeng HUT Ke- 21 Damandiri
Yayasan Damandiri melihat, bahwa masyarakat di desa tersebut bisa diberdayakan menjadi petani tambak rumput laut. Dan, bibit rumput laut pun digelontorkan agar warga bisa diberdayakan. Perlahan tapi pasti, inisiatif Yayasan Damandiri untuk memberdayakan masyarakat Desa Cantigi berbuah manis dalam tiga bulan saja. Tambak rumput laut warga mulai menghasilkan, namun masih terkendala tempat menjual hasil budi-dayanya.
Yayasan Damandiri kembali memberikan jalan keluar. Setelah dilihat ekonomi warga mulai stabil serta terbuka celah industri kreatif lainnya, Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja), pun dijalankan.
Setelah keadaan ekonomi Desa Cantigi membaik, sejumlah instansi terkait masuk membawa program masing-masing. Seperti itulah keadaan di Indonesia dewasa ini, dan pengalaman itu semakin meneguhkan Yayasan Damandiri untuk segera menjalankan program atau inovasi terbarunya, Desa Lestari. 
Program Desa Lestari merupakan desa sejahtera berkelanjutan, dengan kesejahteraan warga desa yang tercapai berkat kemandirian warganya sendiri. Bukan seperti kebanyakan program lain, yang seringkali hanya menggelontorkan sebanyak mungkin dana bantuan ke desa-desa, tanpa memperhatikan keadaan warga desa yang sebenarnya. Warga butuh perhatian, edukasi dan pemberdayaan, bukan sekedar uang.
Impian dan cita-cita pendiri Yayasan Damandiri, H.M. Soeharto, adalah membangun Desa Lestari. Inilah yang dikejar Yayasan Damandiri mulai Januari 2017 ini. Mulai digagas membangun 15 desa sebagai role model di wilayah Jawa, bahkan hingga Bogor dan Depok di Jawa Barat. Tugas luar biasa ini membutuhkan dana serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup besar. Karena itu, Yayasan Damandiri membutuhkan sinergi dengan Yayasan yang didirikan oleh Pak Harto lainnya, salah-satu Yayasan Supersemar.
Sentuhan-sentuhan Yayasan Damandiri yang selama ini menjadi ciri khas seperti Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) dan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) bisa mewujudkan Desa Lestari impian Pak Harto. Kekuatan finansial dan SDM yang dimiliki turut mendukung rencana besar ini. 
“Rakyat punya UUD 1945 Pasal 33, yang bermakna pemanfaatan kekayaan alam sebesar-besarnya dari, oleh dan untuk rakyat. Damandiri bertekad menghadapi globalisasi dengan memperkuat ekonomi dalam negeri,” sebut Subiakto Tjakrawerdaja, Senin (16/01/2017).
Karena itu, lanjut Subiakto, tidak ada kata berhenti atau memperlambat laju pemberdayaan. Rakyat harus terus diedukasi agar mengerti, jika mereka merupakan pemilik semua potensi lokal yang ada, baik di darat, laut dan udara. “Itulah langkah awal kami, masuk langsung ke masyarakat, melakukan edukasi untuk memberdayakan mereka. Dengan cara itu, kami akan membangun Desa Lestari impian Pak Harto. Pengalaman kami dalam membentuk Posdaya akan menjadi pelajaran berharga dalam misi besar ini,” pungkasnya.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...