Bambang Irianto Merintis Kampung Hijau Glintung

KAMIS 5 JANUARI 2017
MALANG —Berbicara mengenai Kampung Glintung Go Green (Kampung 3G) tidak bisa dilepaskan dari sosok ketua Rukun Warga (RW) 23, Bambang Irianto. Berkat perannya, kampung yang berada di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, yang dulunya terkenal sebagai kampung kumuh, rawan banjir dengan angka kesehatan rendah dan angka kematian tinggi, kini berubah menjadi kampung yang hijau, terbebas dari banjir, inovatif, produktif serta menghasilkan. Disebutkan, di RW 23 terdiri dari 4 Rukun Tetangga (RT) dan dihuni oleh 303 Kepala Keluarga (KK).
Bambang Irianto. 
“Tidak mudah memang untuk menyadarkan warganya agar peduli akan pentingnya kesehatan, kebersihan dan penghijauan. Dibutuhkan waktu satu tahun untuk secara perlahan merubah cara berfikir mereka,” jelas Bambang Irianto saat ditemui Cendana News di gedung Balai RW usai menerima kunjungan dari warga Sidoarjo, Rabu (4/1/2017).
Dengan rutin mengadakan rapat dan musyrawarah, Bambang coba merombak cara berfikir warganya sehingga perlahan mereka bisa tersadarkan. Setelah warga mulai sadar, di tahun kedua ia mulai menggunakan ‘power’ dengan memanfaatkan kewenangannya sebagai ketua RW dengan menggunakan stempel RW.
“Warga yang mau mengurus  surat, tapi tidak memiliki tanaman di rumahnya, saya tolak suratnya dengan tidak memberikan cap stempel. Power saya ya stempel ini sebagai alat ‘paksa’ agar warga mau menanam di rumahnya masing-masing,” ungkapnya.
Semula warganya merasa tertekan dengan kebijakannya tersebut. Bahkan dirinya pernah dituduh korupsi, dzolim, diktator karena pemikiran masyarakat kepada  pemimpinnya kebanyakan sudah tertanam seperti itu. Namun setelah mereka merasakan hasilnya dan virus penghijauan sudah masuk kedalam jiwa mereka, akhirnya semua warga akhirnya mau menanam. Dari situ kemudian ia mulai menggandeng berbagai pihak baik dari perguruan tinggi maupun dinas-dinas terkait untuk belajar mengenai cara menanam yang benar, ujar pria lulusan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya tersebut.
Menurutnya, untuk merubah cara berfikir masyrakat terlebih dulu harus membangun kearifan local (Local wisdom) dan hukuman sosial (social punishment).
“Misalnya saja ada warga yang tidak mau ikut kerja bakti, saya anggap orang itu sakit karena hanya orang sakit yang tidak mau keluar dari rumah. Sehingga nantinya mereka malu sendiri kalau tidak ikut kerja bakti,” ujarnya.
Bambang juga tidak mau  menerima alasan warganya tidak mau ikut kerja bakti karena tidak ada waktu. “Masak kerja 24 jam, masak Senin sampai Minggu tidak ada waktu,” katanya.
Vertical garden di gang yang sempit.
Agar warganya tidak bisa memberikan alasan seperti itu, Bambang akhirnya menyiasati dengan mengadakan kerja bakti pada malam hari yang ia namakan ‘Suku Dalu’ (dalam bahasa Jawa, dalu berarti malam). Jadi warga yang tidak bisa ikut kerja bakti pagi atau siang hari karena sibuk, bisa ikut kerja bakti malam harinya sehingga tidak mengganggu pekerjaan warga.
Memang tidak bisa selalu dipaksakan, butuh kesadaran. Oleh karena itu sangsi-sangsi sosial harus dikembangkan, disamping  juga membuat regulasi kebijakan. 
“Tidak menanam, kita tolak suratnya. Membuang puntung rokok di jalan, denda Rp10 ribu dan itu tertuang dalam peraturan kampung 2014,” tuturnya.
Namun mengenai peraturan membuang sampah sampai saat ini belum ada sangsinya. Bambang lebih mendorong memberikan motivasi bagaimana menjaga kebersihan melalui bak sampah, biopori, program bank sampah hingga daur ulang sehingga jumlah sampah di luar tidak ada dan lingkungan akan tetap bersih.
Lebih lanjut Bambang mengungkapkan selain dikenal dengan kampung yang kumuh dan rawan banjir, Kampung Glintung dulunya juga terkenal sebagai kampung preman dan banyak warganya yang terjerat hutang pada rentenir. 
“Beberapa bulan yang lalu sempat ada orang yang tidak suka dengan kegiatan ini akhirnya merusak beberapa tanaman yang ada di dekat balai RW. Tapi saya tidak takut, saya maju paling depan dan saya katakan kepada mereka ‘saya atau kamu yang mati’,” ceritanya. Bambang juga tidak menampik kalau dulunya Kampung Glintung dikenal sebagai kampung preman karena banyak tindak kriminal terjadi di kampungnya tersebut.
Namun dengan semakin dikenalnya kampung 3G saat ini oleh masyarakat dari luar Malang bahkan sekarang telah menjadi tempat studi banding maupun wisata dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga Kampung 3G mendapatkan pemasukan dari tiket masuk para pengunjung yang ingin belajar di kampung tersebut.
“Dengan semakin terkenalnya kampung 3G, akhirnya kami banyak mendapatkan bantuan dari rbagai pihak, baik berupa bantuan fisik maupun pendanaan. Pengunjung yang melakukan studi banding kesini juga menjadi salah satu sumber pemasukan kami karena mereka yang belajar disini tidak gratis tapi ada biayanya,” ungkapnya. 
Gerbang Masuk Glintung  Go Green.
Dari pemasukan-pemasukan tersebut, kampung 3G akhirnya membentuk sebuah koperasi dengan bunga yang ringan untuk membantu warga terlepas dari jeratan hutang kepada rentenir. Bahkan selama tiga tahun ini penghasilan RW 23 dari yang awalnya Rp0 sekarang menjadi hampir mendekati angka satu miliar rupiah. 
Bambang mengatakan, target akhir kampung 3G bukan sekedar pada infrastruktur lingkungan penghijauannya, tetapi lebih kepada manusianya. Green yang dimaksud disini adalah orangnya pinter, perutnya kenyang, orangnya sehat dan uangnya ada, itulah manusia yang lengkap. Sekarang tinggal bagaimana cara meningkatkan pendidikan dan perekonomian warga. Oleh karena itu di tahun ke empat, 
Dia mengaku lebih berkonsentrasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warganya. Sehingga selain infrastruktur lingkungannya yang dibangun, warganya juga harus meiliki inovasi-inovasi baru supaya wajah kampung 3G dari tahun ke tahun selalu berubah sehingga orang yang sudah pernah datang ke Kampung Glintung tidak akan bosan untuk datang lagi ke tempat ini.
“Jabatan ketua RW pasti suatu saat berganti, maka selama saya menjadi ketua RW, regenerasi harus dipaksakan agar warga tidak tergantung kepada saya,” tegasnya.
Untuk menjamin program ini terus berlanjut meskipun dirinya suatu saat tidak lagi menjabat sebagai ketua RW, Bambang membuat koperasi 3G di luar kepengurusan RT/RW.
“Koperasi dan kelompok tani memiliki badan hukumnya masing-masing sehingga tidak terpengauh dengan kepengurusan RT/RW,” akunya. Glintung Go Green (3G) memiliki manajemen sendiri. 3G dipimpin oleh General Manager (GM) yang dijabat oleh saya sendiri, yang dibantu oleh 4 manajer area. Ada juga supervisor disetiap bagian seperti supervisor hidroponik, supervisor biopori dan lain sebagainya. Dan di bawah supervisor juga ada kapten lorong, jelasnya.
Langkah berikutnya, tentu tidak akan berguna kalau program seperti ini hanya ada di Kampung Glintung saja. 
“Kita harus menularkannya antar RW dalam kelurahan, antar kelurahan dalam kecamatan, antar kecamatan dalam kota, antar kota dalam provinsi dan seterusnya hingga bisa diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia,” harapnya.
Warga yang dulunya malu menyebutkan nama kampung Glintung, sekarang justru bangga menjadi warga Kampung Glintung Go Green, pungkasnya.
Hidroponik. 
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...