JUMAT, 6 JANUARI 2017
MALANG — Perkembangan teknologi jika dimanfaatkan dengan baik akan dapat menghasilkan sesuatu yang positif bagi penggunanya, termasuk bagi para seniman dan juga budayawan. Hal tersebut disampaikan wakil pimpinan Padepokan Gunung Wukir, Agus Mardianto, usai memimpin pawai budaya Artjuno Festival, Jumat (6/1/2017).
![]() |
| Aktivis Padepokan Gunung Wukir, Agus Mardianto. |
Menurutnya dengan adanya perkembangan zaman dan semakin majunya teknologi seperti Whatsapp (WA) harusnya dapat juga dimanfaatkan oleh para seniman untuk menjalin komunikasi dan kekompakan antarsesama seniman.
“Contohnya saja pada acara Artjuno Festival, para peserta pawai berasal dari kampung yang berbeda-beda namun mereka bisa tetap kompak dalam melakukan petunjukanya. Kekompakan tersebut dapat dicapai salah satunya berkat adanya WA sehingga mereka yang kampungnya saling berjauhan, bisa tetap saling berdiskusi,” ujarnya.
Melalui teknologi dalam hal ini adalah WA, mereka bisa berlatih sendiri-sendiri di kampungnya tanpa harus bertemu. Sehingga tidak perlu hari atau waktu khusus untuk mereka bisa berlatih bersama. Hasil latihan mereka nantinya kemudian dibagikan (share) ke teman-teman di kampung yang lain melalui WA. Teman-teman yang memiliki ide juga bisa di-share serta didiskusikan lewat WA.
“Kita jangan mau hanya diakalin oleh teknologi, tetapi kita juga harus bisa memanfaatkan teknologi. Kami memang berasal dari kampung, tapi kami tidak kampungan. Jika tidak ingin sampai tergilas oleh tekonologi, maka kita harus terus mengikuti perkembangan teknologi agar tetap bisa bersaing,” ujarnya.
Selain melalui WA, lebih lanjut Agus menyampaikan, bahwa di jaringan kampung Nusantara memiliki kegiatan rutin bernama Sambang Dulur yang biasa dihelat setiap hari Rabu. Dengan kegiatan sambung dulur, kita tetap bisa membuat koreo dengan kompak dan dalam satu komando.
![]() |
| Kesenian yang bisa terwujud dengan mobilisasi teknologi misalnya melalui WA. |
“Sambung dulur merupakan kegiatan saling berkunjung ke kampung-kampung yang termasuk Japung secara bergiliran,” terangnya. Dengan adanya kegiatan tersebut, para seniman maupun budayawan bisa tetap menjaga kekompakan dan tali persaudaraan mereka.
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq
