JUMAT, 6 JANUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Terus bertambahnya jumlah anggota program simpan pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri di wilayah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Soka RW012 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan, sudah menyentuh kurang lebih 105 orang pada akhir 2016. Dengan pinjaman masing-masing anggota antara 1-3 juta rupiah. Pencapaian itu tidak lepas dari para pengurus Posdaya Soka yang menjadi contoh awal mengikuti Tabur Puja Posdaya Soka, untuk kemudian menggerakkan warga RW 012 secara perlahan masuk menjadi anggota Posdaya Soka dalam Program Simpan Pinjam Tabur Puja.
![]() |
| Cemilan kue-kue buatan Tabur Puja Posdaya Soka. |
Sri Sutanti adalah salah satu perintis Posdaya Soka Jakarta Selatan sekaligus program Tabur Puja di RW 012. Ia juga adalah Ketua PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Posdaya Soka Jakarta Selatan. Sri menjadi salah satu proyek percontohan Tabur Puja di wilayah kerja Posdaya Soka RT 08, RW 012, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan.
Usaha awal Sri adalah membuat cemilan akar kelapa dan katering. Untuk usaha katering inilah ada inovasi unik Sri dalam memberdayakan warga dengan tujuan supaya warga bisa melihat bagaimana berkembangnya sebuah usaha mikro melalui Tabur Puja. Setelah mendapatkan modal usaha, Sri langsung menggagas usaha katering kecil-kecilan. Akan tetapi ia bukan sekadar menjalankan usaha tersebut, melainkan turut memberdayakan warga sekitarnya untuk sama-sama menjalankan usaha katering terutama jika ada orderan baik kecil maupun besar. Caranya adalah jika ada orderan katering, ia akan membagi tugas memasak kepada beberapa orang. Ibu A memasak ayam, Ibu B memasak sayur, lalu setelah semua selesai dikumpulkan dikemas menjadi nasi kotak. Dengan demikian keuntungan nantinya akan dinikmati bersama.
“Melalui cara tersebut, warga akan tertarik untuk menjalankan usaha. Bukan hanya katering, tapi ia bisa membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Modal awal usahanya adalah lewat Tabur Puja,” kata Sri membuka perbincangan.
Usaha katering milik Sri membidik konsumen strata menengah ke bawah. Ia mematok harga mulai Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per nasi kotak. Untuk nasi kotak seharga Rp 30.000, menu yang diberikan Sri biasanya terdiri dari; nasi, ayam bakar, telur balado, sayur, sambal, kerupuk, buah dan air mineral. Langganan tetap Sri dan rekan-rekannya dari PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) Kecamatan Kebayoran Lama.
“Mereka biasa melakukan pemesanan nasi kotak untuk harga Rp 20.000 per kotaknya. Menu untuk harga tersebut adalah nasi, ayam bakar, sambal dan air mineral. Memang saya kemas harga ekonomis dan mereka cocok dengan masakan saya,” sambung Sri.
Untuk memperlancar usahanya, Sri juga merekrut warga sekitar untuk bagian memasak, kemasan serta pengiriman nasi kotak. Mereka biasa diberi honor Rp 75.000 sampai Rp 200.000 per orang untuk setiap hari selama memang masih mengerjakan orderan yang diterima. Besaran honor disesuaikan juga dengan tugas masing-masing. Untuk keuntungan kotor, Sri biasa menerima Rp 5000 dari setiap nasi kotak dagangannya.
Laba bersih yang didapat dari satu nasi kotak setelah dipotong biaya-biaya lain adalah Rp 3000. Keuntungan memang tipis, oleh karena itu Sri biasanya akan mencari orderan besar serta mencari langganan-langganan rutin. Agar bisa mendapatkan menjaga langganan, ia tetap menjaga kualitas rasa serta kemasan nasi kotak yang bersih dan menarik.
Warga yang kerap ikut diberdayakan Sri melalui usaha kateringnya akhirnya perlahan menyadari mereka juga bisa memiliki usaha kecil di rumah dengan melihat bagaimana praktek gotong royong usaha katering Sri tersebut. Akhirnya perlahan tapi pasti mereka mulai bergabung dengan Posdaya Soka melalui Program Tabur Puja.
Hasil dari inovasi Sri ini ternyata memberi sumbangsih bertambahnya jumlah anggota Posdaya Soka yang ikut Tabur Puja. Setiap bulannya antara 2-3 orang bisa bergabung untuk ikut Tabur Puja. Ini terus terjadi sejak 2012 hingga 2016 dimana anggota Posdaya aktif Tabur Puja mencapai 105 orang di penghujung 2016. Warga yang bergabung banyak membuka usaha sendiri di rumah seperti warung minuman, rokok dan berjualan nasi uduk sampai kue-kue basah buatan sendiri. Namun begitu, mereka tetap diberdayakan Sri untuk terus ikut bergotong royong mengerjakan katering setiap ada orderan.
“Orderan nasi kotak terbesar kami waktu itu adalah saat MTQ di senayan. Kami mendapat orderan sebanyak 1.500 nasi kotak. Saat itu kami benar-benar sibuk sampai kurang tidur. Tapi karena semua dilakukan bersama-sama, terasa nikmat. Apalagi setelah pembagian keuntungan, kami semua bisa pulang dengan senyuman ke rumah masing-masing,” tutup Sri mengakhiri perbincangan.
Selain usaha katering, Sri juga sebenarnya sudah memiliki usaha salon rias pengantin yang dilakoninya sejak 1994. Namun karena memang usaha tersebut ada pasang surut, Sri tidak bisa sepenuhnya menggantungkan diri pada satu usaha. Kehadiran Posdaya dengan Tabur Puja pada 2012 di wilayah RW 012 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan telah memberi solusi untuk menjalankan usaha bagi Sri maupun warga sekitarnya.
| Usaha salon rias pengantin milik Sri Sutanti. |
Harapan Sri ke depan, usaha katering bisa terus berjalan sekaligus memberdayakan lebih banyak lagi warga sekitarnya. Hal itu bisa dicapai jika orderan tetap lancar dan semakin besar. Selain itu, ada sedikit harapan Sri bahwa batas minimum pinjaman dalam Tabur Puja bisa dinaikkan dari Rp 2.000.000 ke Rp 2.500.000 atau Rp 3.000.000. Karena kebutuhan usaha mikro di saat ini mulai terasa agak berat seiring dengan tidak stabilnya harga barang maupun bahan-bahan makanan.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw