Pedagang Pasar Kedip Jakarta Selatan Butuh Sentuhan Tabur Puja

JUMAT, 6 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sejak 1980, Sri Hartini, pedagang ikan asin asal Desa Ngemplak Bothi Kartasura, sudah berdagang di Pasar Kedip, Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan. Ia adalah pedagang pertama yang berdagang di Pasar Kedip yang dulunya adalah sebuah tanah kosong milik Kamut, warga asli Kebayoran Lama Selatan. Saat mengetahui keberadaan Sri dan melihat mulai berdatangan para pedagang lainnya mengikuti jejak Sri, Kamut akhirnya membebaskan para pedagang untuk berdagang di atas tanah kosong miliknya. Para pedagang tersebut hanya berdagang mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 10.00 pagi setiap harinya, atau hanya sekedip mata saja. Oleh karena itulah lokasi berdagang itu disebut dengan nama Pasar Kedip.

Rusmini, pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Kedip, Jakarta Selatan.
Lokasi Pasar Kedip ada di wilayah RT 07, RW 012, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan. Untuk mencapai Pasar Kedip dari Jalan Iskandar Muda, Jakarta Selatan, bisa masuk melalui Jalan Bungur II tepat di samping Bank Mandiri Capem Arteri Pondok Indah. Terus menyusuri Jalan Bungur II turun ke bawah, sampai menemukan pertigaan jalan pertama, belok kanan, langsung menepi ke kiri, perlahan sekitar 100 meter dari pertigaan itu ada sebuah jalan kecil dengan papan petunjuk arah berwarna hijau bertuliskan Pasar Kedip.
Jalan menuju Pasar Kedip awalnya melewati beberapa rumah penduduk, selanjutnya mulai tertata toko-toko kelontong, warung nasi, sampai akhirnya menemukan sebuah areal luas tempat para pedagang sayuran, bumbu dapur, ikan asin, daging sapi, ayam dan lain-lainnya tampak teratur dalam tenda-tenda permanen. Artinya tempat yang dituju sudah di depan mata, yakni Pasar Kedip Kelurahan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, yang dikelola oleh anak mendiang Haji Kamut, pendiri Pasar Kedip.
“Daerah sepanjang Jalan Bungur sampai ke Pasar Kedip, bahkan seluruh Kecamatan Kebayoran Lama ini dulunya adalah hutan karet. Lalu perlahan dibuka warga untuk pemukiman, diawali dengan pembangunan kompleks perumahan Kostrad tidak jauh dari sini selepas peristiwa Gestapu 1965. Saya juga tidak menyangka Pasar Kedip yang awalnya tempat para pedagang sayur keliling untuk singgah menghabiskan sisa dagangan akhirnya menjadi sebuah pasar tradisional yang ramai sekarang,” tutur Haji Hamdani, keponakan kandung mendiang Haji Kamut kepada Cendana News saat di temui di wilayah RW 02, Jalan Bungur II.
Mengawali penelusuran di Pasar Kedip, Cendana News singgah ke kios sayuran Rusmini, asal Desa Mantingan, Sragen, Jawa Tengah. Rusmini sudah 35 tahun lamanya berdagang di Pasar Kedip sebagai pedagang sayuran. Ia adalah generasi kedua setelah Sri Hartini, si pedagang ikan asin. Selain berdagang sayuran, Rusmini juga melengkapi dagangannya dengan bumbu dapur seperti cabai, bawang putih dan bawang merah. Harga yang dipatok Rusmini untuk semua dagangannya mengikuti pergerakan harga setiap hari yang menurut Rusmini tidak menentu. Harga sayuran jika musim panen akan turun, jika musim tanam akan naik, namun jika cuaca tidak menentu juga akan mempengaruhi harga-harga tersebut.
“Seperti cabai merah, awalnya dari Rp 100.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 120.000 per kilonya. Bawang putih juga naik tapi masih dapat dimaklumi jika harganya masih Rp 40.000 sampai Rp 45.000 per kilogram. Demikian juga bawang putih yang ada di harga Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per kilonya, menurut saya masih bisa ditolerir, karena pembeli di Pasar Kedip masih memaklumi pergerakan harga tersebut,” Rusmini coba menerangkan sedikit kepada Cendana News.
Untuk modal berdagang, Rusmini biasa mengeluarkan modal awal sebesar Rp 2.500.000. Jika pasar ramai dan dagangan laku, ia bisa mendapatkan keuntungan bersih untuk ditabung sebesar Rp 300.000 setiap harinya. Pendapatan itu bisa turun sekitar 20-30% jika keadaan pasar sedang sepi. Keadaan ini membuat Rusmini berpikir untuk mengadakan barang dagangan yang sekiranya bisa menjadi andalan di saat penjualan sayuran atau bumbu dapur sedang tidak stabil, contohnya seperti umbi-umbian, minyak goreng, ikan basah maupun ikan asin. Untuk ekspansi dagang tersebut, Rusmini butuh suntikan dana antara Rp 1.500.000 sampai Rp 2.500.000. Jika ia ikut Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) di Posdaya Soka seperti layaknya Sri Hartini si pedagang ikan asin, sudah semestinya Rusmini bisa.
“Tabur Puja Posdaya Soka? Saya belum pernah dengar, Mas. Kalau Pak Ngasimun saya tahu, tapi Tabur Pujanya saya tidak tahu. Kalau baru saja Mas ceritakan itu adalah simpan pinjam buat rakyat kecil, pastinya bagus buat tambahan modal. Pak Ngasimun, Ketua RW 012 saya tahu, tapi simpan pinjamnya saya belum tahu,” kata Rusmini setengah terkejut.
Untuk wilayah Pasar Kedip Jakarta Selatan, sudah ada beberapa pedagang yang ikut Tabur Puja Posdaya Soka. Sebut saja Sri Hartini pedagang ikan asin, Suwartono pedagang buah, sampai Nasuha pedagang sate keliling yang juga kerap mangkal di Pasar Kedip. Sepertinya bukan Rusmini tidak pernah mengetahui Tabur Puja, tapi ia belum secara utuh mendapatkan informasi mengenai Tabur Puja. Karakter warga desa seperti Rusmini pada umumnya memang memiliki karakter sungkan untuk bertanya. Para penggiat Tabur Puja Posdaya Soka bisa membuat sebuah program sosialisasi bagi para pedagang yang belum mengerti mengenai Tabur Puja, dengan harapan mereka bisa menolong para pedagang itu memperluas usahanya masing-masing.
Para pedagang Pasar Kedip sekarang sudah berjumlah sekitar 100 orang dengan 70% adalah pedagang tetap yang menempati kios-kios dengan harga sewa bervariasi antara Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per bulan. Sedangkan untuk yang menyewa harian biasa membayar iuran sebesar Rp 15.000 per hari, di luar retribusi keamanan dan kebersihan sebesar Rp 5000 yang juga dibayarkan setiap hari oleh pedagang kepada pengelola Pasar Kedip.
Kiri atas: jalan masuk menuju Pasar Kedip. Kanan atas: suasana kegiatan pedagang di Pasar Kedip.
Kiri bawah/kanan bawah: pedagang Pasar Kedip menyapa Cendana News.
Sebelum meninggalkan area Pasar Kedip, banyak pedagang yang bertanya mengenai kehadiran Cendana News di tempat mereka. Ketika mengetahui untuk keperluan peliputan, animo mereka untuk diambil dokumentasi merebak, sehingga bukan perkara sulit bagi Cendana Newsmengabadikan para pedagang beserta barang dagangannya sekaligus. Baik yang sedang bertransaksi maupun yang sedang menunggu pembeli.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw
Lihat juga...