RABU, 4 JANUARI 2017
YOGYAKARTA — Memasuki tahun 2017, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta akan kembali menggulirkan program perbaikan atau renovasi sejumlah museum yang ada di DIY. Tahun ini Disbud DIY berencana memperbaiki dua museum yakni Museum Monumen Jogja Kembali yang berada di Sleman dan Museum Tani Jawa yang berlokasi di Bantul.
![]() |
| Kepala Seksi Fasilitas dan Pengembangan Bidang Museum, Dinas Kebudayaan DIY, Marsudi. |
Kepala Seksi Fasilitas dan Pengembangan Bidang Museum, Dinas Kebudayaan DIY, Marsudi, kepada Cendana News, Rabu (04/01/2017) menyatakan, pihaknya telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 3,7 millar untuk program renovasi tersebut. Masing-masing sebesar Rp 1,3 miliar untuk Museum Monumen Jogja Kembali dan Rp 2,4 miliar untuk Museum Tani Jawa. Dana ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DIY.
“Untuk museum Monumen Jogja Kembali renovasi dilakukan memperbaiki atap serta jaringan kelistrikan. Karena memang museum ini sudah lama tidak direnovasi sehingga banyak atap yang bocor serta jaringan kelistrikan yang rusak. Sementara untuk Museum Tani Jawa, renovasi dilakukan untuk menambah sejumlah ruangan. Karena memang bangunan museum yang ada saat ini kurang memadai sehingga perlu diperluas,” katanya.
Untuk renovasi Museum Tani Jawa sendiri dijelaskan meliputi perbaikan ruang pameran, pembangunan ruang pengelola, penambahan ruang audio visual, serta gudang untuk menyimpan koleksi yang tidak dipamerkan. Selain itu Museum Tani Jawa ini nantinya juga akan dilengkapi dengan sumur model tradisional, serta kamar mandi kuno khas orang Jawa.
“Bulan Februari ini rencananya akan segera memasuki proses lelang. Diharapkan lelang dapat selesai paling lambat bulan Maret. Sehingga proses renovasi bisa selesai bulan Juni. Namun yang jelas kedua renovasi ini harus selesai tahun 2017 ini,” tegasnya.
Dijelaskan proses renovasi kedua museum tersebut dilakukan setelah masing-masing pihak pengelola sebelumnya mengajukan proposal ke Disbud DIY dan melewati sejumlah kajian untuk kemudian disetujui. Program renovasi museum ini, sebelumnya telah berjalan beberapa tahun belakangan. Sejumlah museum seperti Museum Wayang Kekayon, Museum Geologi, hingga Museum Diponegoro sebelumnya juga telah direnovasi.
“Sebenarnya banyak pengelola museum yang mengajukan proposal renovasi ke kita. Kita juga sudah membuat DED untuk sebanyak 14 museum. Namun renovasi berapa museum urung dilakukan karena persoaan regulasi. Ada beberapa museum seperti Museum Batik dan Museum Tembi yang ternyata diketahui bermasalah soal kepemilikan tanahnya, tidak sinkron dengan pihak yayasan pengelola. Sehingga memang tidak bisa dilakukan renovasi,” katanya.
Museum Monumen Jogja Kembali sendiri merupakan museum dengan bentuk kerucut yang terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serba guna. Museum ini dibangun pada tahun 1985 sebagai peringatan dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibu kota RI Yogyakarta pada 29 Juni 1949 yang menjadi tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda. Pada Museum Monumen Jogja Kembali terdapat benda-benda koleksi sejarah perjuangan selama masa perang mempertahankan kemerdekaan seperti diorama, replika, foto, dokumen, berbagai jenis senjata, alat perang, dan sebagainya.
Sementara Museum Tani Jawa merupakan museum yang dibangun pada 2005. Museum ini menyimpan berbagai alat pertanian tradisional jawa, khususnya alat pertanian yang dipakai oleh masyarakat di Yogyakarta. Museum ini memiliki ratusan koleksi terdiri dari alat masak dan alat pertanian yang berasal dari batu, besi, bambu, kayu, dan aluminum mulai dari tahun 1930-an. Di antaranya lesung, sabit/arit, luku/bajak, garu, gerobak, cangkul, keranjang, wajan, cowek, ani-ani, caping, genthong, dandang, dorang atau gagang pacul, hingga beruk atau tempat untuk menakar beras yang terbuat dari batok kelapa.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana