JUMAT, 2 DESEMBER 2016
MAJALENGKA—Dalam acara dengar pendapat antara Komisi IV DPR RI dengan penduduk Desa Sukamulya terkait kisruh alih fungsi lahan produktif desa untuk kepentingan proyek pembangunan Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) diwarnai pengaduan maupun suara hati para ibu rumah tangga Desa Sukamulya. Penduduk desa pada dasarnya memilih hidup tenang dengan apa yang mereka miliki. Bukan sebuah dosa atau kesalahan jika seseorang mempertahankan sesuatu yang dimiliki sekaligus menjadi sandaran hidupnya. Demikian pula yang terjadi serta dirasakan oleh warga Desa Sukamulya.
“Kami hanya warga desa biasa, kami petani dan tidak tahu apa-apa mengenai rencana-rencana besar mereka yang di atas sana. Tapi tolong berikan kami kepastian dan kedamaian. Hanya tanah ini yang kami punya. Tolong Ibu dan Bapak bantu kami, kami juga tidak ingin seperti ini,” keluh seorang ibu bernama Noor di hadapan para pimpinan Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto), Herman Khaeron dan Oo Sutisna.
![]() |
| Titiek Soeharto bersama Boy Supanget, Ketua KTNA Majalengka. |
Jika diibaratkan seseorang yang sedang lapar, ketika makanan datang maka pastinya akan langsung disantap terlepas dari mewah atau sederhananya makanan tersebut. Tiba-tiba saat sedang makan, seseorang merebut makanan itu dan melemparkannya hingga tercerai berai di lantai. Pastinya manusia itu akan marah dan mempertanyakan mengapa ia diperlakukan seperti itu.
“Demikian pula halnya dengan kami, karena saat ini makanan kami dirampas dengan paksa lalu dilemparkan dengan semena-mena hingga tercerai berai di tanah saat kami sedang menikmatinya. Kami tidak pernah melakukan itu terhadap mereka, mengapa kami dibuat seperti ini?” keluh Nunung, seorang ibu rumah tangga warga Desa Sukamulya.
![]() |
| Titiek Soeharto melayani setiap usaha para ibu Desa Sukamulya untuk berjabat tangan. |
Satu yang diinginkan oleh para ibu, warga desa diajak bicara selayaknya manusia. Jangan menyembunyikan sesuatu di belakang yang nantinya akan merugikan mereka di kemudian hari. Saat kemiskinan menjadi langganan bangsa dan negara Indonesia saat ini, maka tidak seharusnya pemerintah menyia-nyiakan rakyatnya apalagi sampai membuat rakyat gelisah maupun gundah hati.
“Tolong manusiakan kami,” pinta seorang petani Desa Sukamulya yang tergabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.
![]() |
| Titiek Soeharto, Herman Khaeron, dan warga Desa Sukamulya. |
Isak tangis dan wajah-wajah sendu para ibu, geram amarah para suami dan pemuda desa serta tatapan kosong para lansia Desa Sukamulya menghiasi dengar pendapat antara Komisi IV DPR RI dengan warga desa yang dipusatkan di balai desa kemarin, Kamis (1/12/2016).
“Mendengar semua keluhan ibu-ibu dan bapak barusan maka saya bersimpati dan empati mendalam. Mengapa di zaman seperti sekarang ini masih saja ada saudara-saudara sebangsa yang tertindas. Sementara di tempat lain sudah mencapai kesejahteraan dan kebebasan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan suasana hati damai serta aman tenteram,” ucap Titiek Soeharto di hadapan warga Desa Sukamulya.
Titiek mengingatkan, sebenarnya tidak ada pemerintahan yang ingin menindas rakyatnya, akan tetapi butuh penanganan khusus dari hati yang paling dalam jika sudah menyentuh wilayah yang menyangkut kelanjutan hidup sehari-hari manusia.
“Kami akan berusaha sebaik-baiknya membantu bapak dan ibu sekalian menyelesaikan masalah ini. Mohon bantuan doa,” pungkas Titiek.
Kesimpulan yang ditarik baik secara langsung maupun tidak langsung dari curahan hati penduduk desa adalah mereka hanya ingin berada di desa mereka yang sudah sejak lama mereka diami serta menjadi sandaran kelangsungan hidupnya sekeluarga. Keinginan mereka sebenarnya sederhana, yakni hidup tenteram dan damai dengan apa yang mereka miliki walaupun hanya sederhana. Sepertinya pemerintah khususnya provinsi dan Kabupaten Jawa Barat harus melakukan pendekatan lebih menyentuh ke hati nurani dibanding bicara uang ganti rugi. Akan seperti apa nasib penduduk Desa Sukamulya jika ada BIJB di sana, akan seperti apa nasib mereka jika melepaskan lahan-lahan produktif yang selama ini menjadi andalan menghidupi keluarga serta bagaimana cara memulai sesuatu yang sebenarnya sudah berhasil mereka lakukan namun harus diulangi lagi dari awal di tempat lain yang asing bagi mereka?
Penduduk desa hanya orang biasa yang ragu-ragu bertanya serta malu untuk bicara jika berhadapan dengan pejabat negara.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

