Sungai Kecil di Wilayah Posdaya Jingga, Diduga Saluran Irigasi Zaman Presiden Soeharto

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

JAKARTA — Wilayah RT 015, RW 05 Kelurahan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dibelah oleh sebuah Kali atau Sungai kecil. Namun, menurut Koordinator Penghijauan dan Lingkungan Hidup Posdaya Jingga, Sumargo, sungai tersebut sebenarnya merupakan jalur aliran air irigasi di zaman dahulu.
Kiri atas/Kanan atas: Saluran irigasi diduga peninggalan Orba sekarang dianggap sebuah kali atau sungai kecil. Kiri bawah/Kanan bawah: Pintu rumah warga RT015 dipasang papan penangkal masuknya ke dalam rumah air saat banjir.
Sumargo yang juga Ketua RT 015, RW 05, Gang Gotong Royong, Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan, mengungkapkan, tidak ada tanggal jelas kapan dibangunnya saluran irigasi itu. Namun, saluran tersebut diduga sudah ada sejak era Pemerintahan Orde Baru, atau sejak dibangunnya Kebun Binatang Ragunan. Sejatinya, Kebun Binatang Ragunan atau akrab disebut warga sejak dulu dengan Bonbin Ragunan, berawal pada 1864. Namun, resmi menjadi Kebun Binatang pertama di Indonesia setelah diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 1966.
Menurut Sumargo, wajar jika ada saluran irigasi di wilayahnya, karena daerah Kelurahan Ragunan, khususnya yang dilewati saluran irigasi tersebut, dulu merupakan kawasan subur penghasil sayuran dan komoditas palawija. Dan, saluran irigasi yang oleh warga pada saat ini dianggap sebagai Kali atau sungai kecil itu terintegrasi juga dengan waduk-waduk yang ada di dalam Kebun Binatang Ragunan sebagai jalur air, jika pintu air terpaksa harus dibuka karena kapasitas air waduk tidak memadai lagi.
Sumargo dari Posdaya Jingga sekaligus Ketua RT 016, RW 05, Gang Gotong Royong, Ragunan, Jakarta Selatan.
Di samping itu, saluran irigasi ini juga terhubung dengan anak-anak sungai yang ada di sekitar Kelurahan Ragunan. Ada tanda-tanda, bahwa Kali atau sungai kecil ini dulu merupakan saluran irigasi, karena tingginya yang rendah agar mudah diakses oleh petani untuk merawat tanamannya. Saat ini, saluran irigasi terlihat tinggi karena sudah diapit tembok-tembok rumah pemukiman penduduk yang semakin padat di kawasan tersebut.
“Daerah ini dulu daerah subur. Buktinya kami bisa menanam tanaman apa saja dengan pupuk kompos seadanya dan tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Coba bayangkan, jika di daerah ini sekarang masih ada lahan bertani maupun berkebun, warga Jakarta sepertinya tidak perlu terlalu mengandalkan dari luar daerah untuk mendapatkan sayur-mayur maupun palawija atau buah-buahan,” ujar Sumargo.
Perkembangan Jakarta memang pesat. Laju pertumbuhan penduduknya juga pesat seiring berubahnya Jakarta dari sekedar Kota menjadi Metropolitan, lalu sekarang menjadi Megapolitan di Indonesia. Otomatis akan banyak sekali lahan kosong disulap menjadi pemukiman penduduk. Dan, Posdaya Jingga adalah sekelompok kecil pemerhati sekaligus pemberdaya masyarakat modern saat ini untuk memanfaatkan lahan sempit yang tersisa dengan atau tanpa saluran irigasi.
“Tidak bisa menyalahkan siapapun, ini kebutuhan laju perkembangan zaman. Sekarang tergantung manusianya saja, mau terlindas zaman atau memilih bangkit memberdayakan diri dan masyarakat sekitar menghadapi laju pesatnya perkembangan zaman,” tegas Sumargo.
Wilayah RT 015, RW 05, Kelurahan Ragunan, di bawah pimpinan Sumargo sebagai Ketua RT, masih memiliki kendala dalam menanggulangi banjir saat ini. Namun, sudah tidak separah pada Agustus 2016, ketika banjir datang seminggu dua kali menerjang pemukiman penduduk. Saluran irigasi atau sekarang dianggap sebagai Kali atau sungai kecil juga tidak sanggup menampung debit air yang datang. Karena itu, masih banyak ditemukan warga RT 015 yang memasang papan pembatas di depan pintu rumah.
“Fungsi papan-papan itu untuk menangkal, jika daerah ini diterjang banjir besar. Wilayah tinggi di Gang Gotong Royong memang tidak mengalami banjir, namun warga saya di wilayah rendah seperti ini pastinya sangat menderita. Untungnya masalah air dari waduk Bonbin Ragunan sudah selesai, sehingga warga bisa bernafas lega walaupun kewaspadaan dalam bentuk memasang papan-papan penangkal air masih dilakukan warga,” pungkasnya.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...