Sinergi Pengurus Posdaya Jingga dan Warga Temukan Penyebab Banjir Aneh

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

JAKARTA — Bahaya banjir memang menjadi momok bagi seluruh warga Jakarta. Wilayah yang baru saja terkena banjir pasti akan berubah menjadi kumuh. Butuh waktu dan tenaga ekstra untuk melakukan pembersihan kembali. Hal itulah yang dirasakan warga RW 05 dan RW 08, ketika pada bulan Agustus 2016 wilayah mereka kerap diterjang banjir dua kali dalam seminggu.
Penjaga pintu air waduk sisi barat Kebon Binatang (Bonbin) Ragunan
Selain karena curah hujan yang cukup tinggi, banjir tersebut juga dirasa cukup aneh, karena terjadi dua kali dalam seminggu dua kali. Wilayah RT 015, RT 07 dan RT 05 adalah wilayah yang masuk daerah kerja RW 05 dan RW 08 dan yang terkena banjir. Warga RT0 15 pun mengadukan keresahan mereka akan banjir tersebut kepada Ketua RT0 15, yakni Sumargo. Kebetulan saat itu Sumargo juga sangat terganggu dengan banjir yang kerap datang ke wilayahnya seminggu dua kali dan sempat merendam tanaman cabai untuk gerakan Kampung Hijau yang sedang digagasnya bersama Posdaya Jingga.
Sumargo langsung berkoordinasi dengan jajaran RT maupun RW terkait banjir ini. Semua akhirnya sepakat untuk melakukan penyelidikan maupun investigasi terlebih dahulu sebelum membuat pernyataan. Keadaan masih sama-sama tidak mengerti, mengapa sampai banjir bisa datang menerjang pemukiman dengan jadwal seminggu dua kali. Bagi warga asli di Kelurahan Ragunan, hal ini sangat aneh.
Pintu air yang mengarah ke pemukiman penduduk dari waduk Bonbin Ragunan
“Saya dan teman-teman sesama Ketua RT maupun pengurus RW langsung bergerak mencari informasi. Kelurahan Ragunan juga kami mintakan petunjuk demi menemukan penyebab banjir aneh itu. Bagi saya, kala itu, pasti berhubungan dengan sebuah penampungan air dalam skala besar,” kenang Sumargo.
Kembali Sumargo coba memetakan wilayahnya satu persatu. Ia mencari sumber-sumber air, dari mana kira-kira asal muasal air, ke mana aliran air itu berujung dan tentunya penyelidikan ini nantinya mengarah ke suatu tempat di mana air itu berasal.  Akhirnya di awal September 2016, Sumargo dan pengurus RT maupun RW lainnya menemukan, bahwa air yang selama ini datang membanjiri wilayah pemukiman penduduk di daerah mereka diduga berasal dari waduk-waduk di dalam Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan atau dikenal warga dengan Bonbin Ragunan. 
Bonbin memiliki waduk penampungan air hujan di wilayah barat dan selatan. Wilayah barat memiliki 1 waduk dan selatan memiliki 4 waduk.  Kembali Sumargo dan rekan-rekannya bermusyawarah, lalu sama-sama sepakat mendatangi otoritas pengelola Bonbin Ragunan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh perwakilan pimpinan pengelola Bonbin Ragunan, kala itu. Dan, setelah mengutarakan maksud kedatangan sekaligus menyampaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat berikut dugaan-dugaan yang sementara mengemuka, rombongan Sumargo dan kawan-kawan mendapat restu otoritas pengelola Bonbin untuk melakukan sidak langsung ke kawasan waduk di dalam Bonbin.
Waduk di dalam area Bonbin Ragunan
Di lokasi itu, akhirnya ditemukan jawaban yang selama ini dicari oleh masyarakat, yaitu penyebab banjir aneh sepanjang Agustus 2016 dan ditengarai akan terus berlanjut jika tidak ditemukan penyebabnya. Waduk sebelah selatan Bonbin tidak ada kaitannya walau kemungkinan itu bisa saja terjadi, namun waduk di sisi barat langsung berkaitan, karena pintu air mereka memang mengarah langsung ke wilayah yang selama ini dilanda banjir. Penjaga pintu air menjelaskan, bahwa tidak pernah sekalipun mereka membuka pintu air, jadi air yang selama ini seolah menjebol waduk sebenarnya luber melewati pintu air, kemudian mengalir kencang ke arah pemukiman penduduk.
“Setelah menemukan jawaban, saya dan teman-teman kembali menemui pihak pengelola Bonbin Ragunan untuk menjelaskan penemuan kami di lapangan. Mereka sangat terkejut dan memastikan akan segera melakukan perbaikan waduk bagaimanapun caranya, agar air di dalam waduk tidak luber dan menggenangi pemukiman lagi,” lanjut Sumargo.
Dalam beberapa bulan belakangan ini, akhirnya banjir yang datang menggenangi wilayah RT 015 tempat Sumargo serta RT lainnya sudah tidak aneh lagi, karena datang jika memang curah hujan tinggi serta hanya sekali lewat saja tanpa ada banjir susulan aneh yang seolah sudah ada jadwalnya dua kali dalam seminggu.
Intinya adalah, Sumargo dan rekan-rekannya bisa mencari solusi dengan tidak sembarangan menuduh. Waduk Bonbin Ragunan digunakan menampung air hujan demi keperluan hewan-hewan maupun penghijauan di kawasan internal Bonbin. Namun, saat waduk tidak mampu menampung kapasitas air berlebih akhirnya masyarakat yang dirugikan. Pihak Bonbin juga sangat kooperatif menanggapi aduan Sumargo dan rekan-rekannya. Mereka berbenah sekaligus membenahi apa yang menjadi penyebab banjir bagi pemukiman warga di bawahnya.
Sekali lagi, Sumargo, seorang penggiat lingkungan dan penghijauan Posdaya Jingga bisa menginspirasi warga sekaligus mengarahkan warga untuk menemukan solusi dari sebuah masalah. Tidak dengan serta-merta, melainkan menggunakan pemetaan akar masalah yang terukur. Sebuah sinergi yang layak dicontoh wilayah lain.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...