Sukma dan Kerajinan Tangan Beromzet Puluhan Juta

KAMIS, 8 DESEMBER 2016

SURABAYA— Dibalut busana berwarna merah dengan dipadukan bawahan batik dilengkapi pula kerudung merah, Sukma, saat ditemui di acara Awarding Pahlawan Ekonomi 2016 yang digelar di Taman Surya Surabaya, Sabtu (3/12/2016) terlihat elegan dan sopan. Perempuan yang memiliki nama lengkap Sukma Trilaksasih ini saat ditemui sedang menjadi salah satu peserta dalam acara bertajuk penganugerahan pahlawan ekonomi yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya.

Sukma berdiri di antara kerajinan tangannya didampingi suami.

Acara yang telah digagas Pemerintah Kota Surabaya sejak 2010 ini, menjadi wadah pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat kota yang berjuluk Kota Pahlawan ini. Di sela-sela kesibukannya dalam memamerkan karya kerajinan di stan miliknya, Sukma mengatakan, agenda yang diselenggarakan  Pemerintah Kota Surabaya dapat menjadi salah satu pendorong bagi masyarakat untuk dapat mandiri dalam bidang ekonomi.

“Ini juga yang ditekankan  Bu Risma kalau bisa masyarakat punya usaha sendiri dan tidak hanya mengandalkan jadi pegawai saja,” ujar perempuan berkacamata ini.

Sukma bisa menjadi peserta Awarding Pahlawan Ekonomi 2016 karena dirinya memiliki usaha di bidang industri kreatif yang diberi nama Dian Collection. Usaha yang telah ia geluti sejak 5 tahun lalu menawarkan barang kreatif hasil karya tangannya berupa suvenir boneka Nusantara dan piring hias.

Kerajinan piring hias berfigur Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan ikon Bambu Runcing.

Boneka Nusantara merupakan karya menghias boneka karet yang diberi pakaian-pakaian adat Nusantara  yang umumnya dipesan konsumen untuk keperluan hiasan rumah atau suvenir untuk perayaan acara tertentu. Sedangkan piring hias merupakan seni membuat gambar figur, ikon daerah, kota, atau yang lainnya di atas media kayu khusus dengan teknik yang digunakan sistem dekopit.

“Kelebihan produk kami setiap konsumen yang memesan bebas menentukan bagaimana dan mau seperti apa produk yang dipesan. Selain itu, dalam pengerjaan, kami sangat memperhatikan detail hasil produk yang dipesan. Jika konsumen kurang puas bisa komplain ke kami dan segera akan kami ganti sesuai yang dinginkan,” kata Sukma.

Sementara untuk ide awal dalam membuat boneka Nusantara, Sukma mengaku, tercipta dari keprihatinan makin hilangnya budaya-budaya Nusantara di era serba modern ini.

“Saya sangat menyayangkan generasi sekarang yang makin tidak kenal dengan budayanya sendiri. Apalagi anak-anak. Seperti contoh di pusat perbelanjaan, banyak boneka yang pakaiannya seksi dan sebenarnya sangat tidak pantas untuk anak-anak,” jelasnya.

Berlatar belakang hal itu, perempuan yang tinggal di Jalan Rungkut Permai II Blok C11 Surabaya ini menggagas terciptanya usaha boneka Nusantara dengan hiasan pakaian adat Nusantara yang segmentasi awalnya anak-anak.

“Sebenarnya sasaran awal ialah anak-anak. Karena ini juga sebagai pengajaran  kepada anak-anak bahwa Indonesia memiliki berbagai macam pakaian adat. Maka kita buatlah mainan boneka ini dan kita beri nama boneka nusantara,” papar Sukma.

Akan tetapi, lanjut Sukma menjelaskan, makin lama makin ke sini serta karena kita juga sering mengikuti pameran-pameran, sekarang tidak hanya anak-anak yang menjadi segmantasi pasar dari produk kerajinan ini. Instansi-instansi pemerintahan, para mahasiswa, dan perusahaan-perusahaan juga ikut tertarik untuk membeli produk kerajinan boneka nusantara.

“Contohnya kalau ada mahasiswa yang pesan untuk dibuatkan boneka berpakaian karate, kita melayani. Dari perusahaan-perusahaan ingin dibuatkan boneka dengan pakaian khas para karyawannya, kita juga melayani. Ada lagi yang ingin pesan boneka untuk perayaan wisuda, kita pun juga melayani,” katanya. 

Untuk membuat sebuah kerajinan boneka hasil idenya itu, Sukma mengaku tidaklah terlalu rumit. Mulanya siapkan boneka karet. Siapkan kain sesuai permintaan konsumen. Kemudian potong hingga pas ukuran boneka yang disiapkan tadi, dan selanjutkan baru proses penjahitan dimulai. Setelah rapi lalu dipacking menggunakan mika bening atau bisa juga kaca tergantung permintaan. “Pembuatan boneka nusantara ini semuanya manual hanya menggunakan bantuan tangan saja,” tandasnya.

Sementara itu, untuk kerajinan piring hias Sukma menerangkan, sebenarnya prosesnya lebih mudah. Mulanya siapkan foto yang diinginkan untuk dijadikan gambar di piring hias. Kemudian ditempelkan pada kayu khusus yang sudah diberi lem sebelumnya . Selanjutnya dilakukan proses pernis lalu dikeringkan. Proses yang demikian biasa juga disebut dengan sistem dekopit.

“Sebenarnya kita yang utama menjual boneka Nusantara. Sedangkan yang piring hias lebih ke arah sampingan saja. Selain itu ada juga sampingan yang lain, di antaranya membuat miniatur rumah adat dan membuat botol lukis,” katanya.

Strategi pemasaran yang diterapkan Sukma, sering mengikuti pameran-pameran baik di dalam kota maupun luar kota dan juga aktif di dunia media sosial. Dalam sebulan tak kurang Rp 20-25 juta jumlah omzet yang dapat Sukma kantongi.

“Kalau pesanan banyak, jumlahnya bisa lebih dari itu,” tegas perempuan yang juga sebagai akuntan di salah satu instansi di Kota Surabaya ini.

Menurutnya, bisnis yang sedang digeluti sekarang merupakan sebuah hobi yang keterusan.

“Saya itu memang hobinya buat-buat kerajinan seperti ini. Karena ternyata menghasilkan, saya berusaha mengembangkan usaha ini hingga menjadi bisnis kreatif seperti saat ini,” ujarnya.

Demi menambah pengalaman dan ide, Sukma juga rajin mengikuti pelatihan yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya tiap sepekan sekali di Kapas Krampung Plaza. Sukma mengaku dari pelatihan-pelatihan yang dilakukan Pemkot Surabaya dirinya makin bisa memahami cara-cara pemasaran produk yang baik, dapat ide-ide kreatif lain dari mentor-mentor yang dihadirkan, dan yang terpenting bagaimana agar dapat lebih meningkatkan kualitas produk kerajinannya.

“Bu Risma kadang hadir langsung di Kapas Krampung Plaza untuk memantau dan memberikan masukan kepada para pelaku usaha kreatif agar lebih semangat  dalam melakukan kegiatan wirausaha,” katanya.

Sebenarnya, Sukma melanjutkan, pada pertengahan bulan November kemarin, dirinya berharap Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dapat hadir dalam agenda rutin pelatihan yang diadakan di Kapas Krampung Plaza. Sebab, dirinya berniat untuk memberikan hadiah ulang tahun yang ke-55 kepada Wali Kota Surabaya ini. Sukma telah menyiapkan dua piring hias bergambarkan wajah Wali Kota Surabaya dan Ikon Bambu Runcing Surabaya.

“Saya sudah menyiapkan dua kado khusus untuk Bu Risma. Kebetulan kan beliau berulang tahun  20 November kemarin. Kalau tidak salah usia beliau sekarang 55 tahun. Tapi kabarnya beliau waktu itu sedang ada agenda keluar kota atau keluar negeri gitu, sehingga beliau tidak dapat hadir di Kapas Krampung Plaza seperti biasanya,” ujar Sukma sambil menunjuk dua piring hias hasil buah karyanya yang diniatkan sebagai kado ulang tahun Wali Kota Surabaya.

Di samping itu, kini bisnis yang digeluti Sukma mampu menyerap setidaknya 6 pekerja harian. Tetapi jika pesanan banyak, Sukma mengaku juga melibatkan ibu-ibu PKK untuk membantu mengejar target pesanan yang ada. Rumah tinggal sekaligus rumah produksinya, kini juga digunakan sebagai tempat penjualan hasil kerajinan tangan kreatifnya. Selain itu, Sukma juga memasarkan di show room galeri kerajinan tangan yang disediakan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi. Ada pula di show room galeri kerajinan yang ada di Pemkot Surabaya, Siola, Merr, Bandara Juanda, dan di Kedungdoro.

Jurnalis: Nanang WP / Editor: Satmoko / Foto: Nanang WP

Lihat juga...