Rukodaya Sugiarti, Apartemen Lele di Timur Megapolitan

SELASA 6 DESEMBER 2016

JAKARTA–Siang hari yang dihiasi rintik hujan, membawa Cendana News ke daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. Lebih tepatnya Rukodaya Damandiri Utan Kayu Selatan, Kebon Kelapa, Jalan Cengkir, RT009/RW012 Utan Kayu Selatan,Jakarta Timur. Jika menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan ke sana cukup mudah serta tidak memakan waktu lama. Hanya 30 menit darikawasan Atrium Senen.

Salah satu kolam ikan lele Rukodaya “Apartemen Lele” Sugiarti.

Lingkungan Jalan Cengkir, Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur cukup asri. Kesan sejuk terpancar dari tanaman hijau yang berada di setiap rumah. Hanya sekitar 20 meter dari gerbang masuk Jalan Cengkir, maka sampailah kami di sebuah ruko kecil yakni Sanggar Rias Putri yang melayani jasa rias pengantin tradisional sekaligus menyewakan peralatan pesta. Tidak jauh dari Sanggar Rias Putri, berdiri sebuah rumah dua lantai bertuliskan “Jual Ikan Lele Segar”. Sanggar rias serta rumah yang menjual ikan lele segar itulah yang kami maksudkan dengan Rukodaya Damandiri Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur.

Pemilik rumah sekaligus Rukodaya bernama Sugiarti, istri Tedjo Lelono seorang pensiunan perusahaan BUMN di Jakarta. Sugiarti menerima kami di dalam ruangan sanggar rias pengantin miliknya. Dari awalnya Terkejut, disambung dengan saling memperkenalkan diri antara kami semua akhirnya obrolan berujung lancar dalam suasana kekeluargaan.
Cerita Sugiarti diawali pada  1997 memulai wirausaha sebagai perias pengantin tradisional dan penyewaan perlengkapan pesta pernikahan. Lalu pada 2000 ia bekerja sama dengan Yayasan Damandiri untuk program pemberdayaan UMKM menjadi salah satu Rukodaya dengan bantuan awal 10.000 ekor bibit ikan lele. Sugiarti memang memilih untuk budidaya ikan lele karena sudah pernah menjalankan usaha tambak ikan di Sukabumi. Namun karena satu dan lain hal usaha tambak tersebut
kandas karena kurang kontrol.
Berdasarkan pengalaman memiliki tambak yang jauh tempatnya sehingga tidak terkontrol itulah akhirnya Sugiarti memutuskan budidaya ikan lele untuk konsumsi dengan memanfaatkan pekarangan maupun ruangan-ruangan yang ada di dalam rumahnya.
“Saat suami pensiun maka uang pensiun kami gunakan membeli aset tanah dan sedikit demi sedikit membangun rumah diatas tanah tersebut sekaligus infrastruktur kolam-kolam lele didalamnya. Saya ambil bentuk menyerupai kamar-kamar kos atau kamar apartemen deh lebih kerennya,” tutur Sugiarti sambil tersenyum untuk mengawali kisah Rukodaya miliknya kepada Cendana News.
Ketika infrastruktur sudah dirasa memadai maka ia beserta suami mulai menaburkan bibit-bibit ikan lele untuk dikembangkan. Sugiarti mendapatkan kemampuan beternak ikan lele dari buku, kursus dan
pengalamannya bersama suami saat masih menjalankan usaha tambak ikan di Sukabumi. Sehingga dalam menjalankan usaha ikan lele miliknya, ia tidak sebatas membesarkan ikan lalu dijual dan membeli bibit lagi, akan tetapi ia berusaha bagaimana budidaya ikan lele yang sesungguhnya dari pembibitan sampai penjualan ikan lele yang sudah layak konsumsi. Sugiarti membesarkan bibit-bibit ikan lele dan mulai memilah bakal indukannya. Hal itu dilakukannya agar di masa mendatang ia dapat mengembangkan budidaya mulai pembibitan ikan lele secara mandiri.
Keunikan Rukodaya milik Sugiarti adalah tata letak kolam-kolam lele buatannya, dengan interior dalam bangunan menyerupai kamar-kamar kos (atau menurut istilah Sugiarti apartemen). Masuk melalui ruko rias pengantin miliknya, maka kami mendapati sebuah garasi yang dimanfaatkan sebagian untuk tempat peralatan pesta dan sebagian lagi untuk dua kolam lele yang dibuat bertingkat. Dua kolam di garasi ini diperuntukkan sebagai tempat memelihara indukan lele betina. Kolam pertama (bawah) adalah untuk memelihara indukan ikan lele dan kolam kedua (diatasnya) digunakan untuk proses memijah (kawin).
Dari garasi kami dibawa menyeberang ke ruangan berikut melalui sebuah ruang belakang yang penuh dengan peralatan pesta berupa baju-baju pengantin tradisional adat Sunda, Jawa, Padang, Betawi serta pengantin muslimah. Tidak mau kehilangan moment maka kami turut mengabadikan ruangan tersebut lengkap dengan para pegawainya yang terkejut dan malu-malu untuk di foto.
Keluar dari situ, kami mendapati sebuah garasi besar namun cukup rapih. Dan sekali lagi garasi tersebut memiliki dua kolam lele besar yang dibangun secara bertingkat. Dua kolam di garasi ini diperuntukkan sebagai tempat indukan lele jantan. Kolam pertama (bawah) adalah untukmemelihara indukan ikan lele dan kolam kedua (di atasnya) digunakan untuk proses memijah (kawin).
Disisi kolam indukan ikan lele jantan ada tangga kecil menuju lantai kedua diatas garasi. Kami diarahkan mengikuti seorang karyawan Sugiarti bernama Nono untuk naik ke atas. Di lantai dua inilah tempat kolam-kolam yang menampung ikan lele yang dipelihara sampai saatnya siap untuk dijual. Pengalaman luar biasa dengan suasana yang masih “asing” bagi kami. Mengapa demikian? karena inilah kali pertama Cendana News berdiri di lantai dua sebuah bangunan, di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, dikelilingi kolam-kolam yang menampung ribuan ekor ikan lele sambil melayangkan pandangan ke rumah-rumah penduduk dengan aktifitas masing-masing penghuninya.
Belum selesai kami takjub, Nono kembali menawarkan kami untuk menaiki anak tangga lebih ke atas. Apalagi kejutan yang disiapkan, begitu kira-kira yang ada dibenak kami. Ternyata takjub level berikutnya yang kami dapatkan, karena mendapati lagi kolam ikan lele ditambah pemandangan lebih jauh ke segala penjuru Jalan Cengkir RT009/RW012. Ikan-ikan lele di lantai ini  Menurut Nono tinggal menunggu panen saja, jadi sudah siap dijual.
“Total kolam lele disini ada 14 buah. Tapi sepertinya Ibu berencana melakukan penambahan ke depannya. Menurut saya masih bisa menambah dua sampai empat kolam lagi namun harus benar-benar memperhatikan tata letak. Ibu masih mencari format tata letaknya secara detil sekarangini,” tutur Nono.
Masih menurut Nono, dibawah bangunan kolam-kolam ikan lele lantai dua ada 5 kamar kos milik Ibu Sugiarti yang sudah berpenghuni. Sejak tahun 2000 hingga saat ini, tidak pernah ada keluhan maupun masalah tentangbocornya air kolam ke bawah maupun rembesannya yang mengganggukenyamanan penghuni kos.
Alhamdulillah tidak ada keluhan, karena Ibu memperhatikan betul pembangunan tempat ini sejak awal. Beliau sudah memikirkan jauh ke depan dengan mempertimbangkan beragam masalah yang akan timbul. Semoga lancar seterusnya tanpa masalah,” pungkas Nono.
Di lantai dua bangunan kolam ikan lele juga dilengkapi timbangan guna menakar ikan lele yang nantinya dibeli pelanggan. Sistem pengairan ke setiap kolam juga tertata rapih dengan penampungan air di atasnya. Dengan menjaga rotasi air serta kebersihan tempat secara teratur maka area kolam-kolam ikan Rukodaya atau ” Apartemen Lele” milik Sugiarti akhirnya bebas dari aroma tidak sedap selayaknya kolam-kolam lele di tempat lain.
Setelah mendapatkan keterangan serta dokumentasi yang cukup maka kami pun kembali ditemani turun ke bawah oleh Nono untuk menemui Sugiarti. Perbincangan kembali kami lanjutkan di ruang tamu kediamannya sambil menikmati segelas kopi hangat yang sudah disiapkan saat kami meninjau kolam-kolam ikan bersama Nono.
Menurut Sugiarti, langganan ikan lele Rukodaya berasal dari sekitar kelurahan Utan Kayu Selatan sampai ke Rawa Mangun, Jakarta Timur. Pedagang ikan lele di pasar, warung makan pecel lele, warga sekitar Jalan Cengkir bahkan pemancingan ikan adalah langganan tetap Rukodaya.
“Selain itu, untuk acara-acara bazaar di kecamatan kerap mengundang   ya ikut ambil bagian dengan membuat makanan berupa abon lele dan lain sebagainya. Ditambah lagi kolam pemancingan juga semakin bertambah banyak yang datang membeli ikan lele ke tempat saya. Bahkan mereka rutin tiap dua sampai tiga jam sekali per harinya belanja 3 kilogram lele untuk kolam pancing,” Sugiarti kembali menjelaskan.

Omzet Per Bulan Rp8 Juta

Omzet penjualan ikan Lele setiap bulan minimal bisa mencapai 8 juta rupiah. Ini hanya diambil rata-rata minimal saja, karena sebuah usaha ada pasang surutnya sehingga angka 8 juta rupiah adalah tepat untuk sebuah usaha kecil budidaya ikan lele di dalam rumah seperti yang dijalani Sugiarti. Namun begitu, Sugiarti semakin terpacu karena tidak mau sebatas itu saja. Ia menggabungkan semua pendapatan kotor usaha-usahanya yang dijalankan bersamaan Rukodaya agar bisa menghidupi 10 orang karyawan yang selalu setia membantunya setiap hari.

Kiri atas: Kolam indukan ikan lele betina. Kanan atas: Kolam Indukan ikan lele jantan dilihat dari lantai dua. Kiri bawah: Salah satu kolam ikan lele di lantai tiga bangunan. Kanan bawah: Kola-kolam lele dilihat dari atas kolam di lantai tiga

Selain budidaya ikan lele dan rias pengantin tradisional sekaligus menyewakan perlengkapan pesta, maka Sugiarti juga mengembangkan budidaya tanaman lidah buaya dan cabai rawit lengkap dengan rawithijau. Pertimbangan Sugiarti memilih mengembangkan lidah buaya adalah berdasarkan manfaat yang mulai diketahui khalayak sebagai salah satu obat alternatif penyakit lambung. Selain itu, lidah buaya juga bisa diolah menjadi minuman sehat yang menyegarkan tubuh. Sedangkan untuk budidaya cabai adalah usaha Sugiarti untuk menggalakkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah maupun ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah.

Dari usaha rias pengantin Sugiarti mendapatkan omset kotor sebesar 50 juta rupiah setiap bulan. Dan dari lidah buaya, ia mendapatkan omzet masih mengandalkan bazaar di berbagai wilayah Jakarta dengan membuat minuman ringan Es Lidah Buaya. Sekali bazaar ia bisa mendapatkan pemasukan kotor sebesar  Rp500 ribu per galon dengan harga  Rp5.000 per gelasnya. Ditambah juga permintaan bibit lidah buaya dari berbagai wilayah dalam jumlah kecil turut menjadi pemasukan bagi Rukodaya walau belum rutin pemesanannya.
“Jadi total pendapatan dari ikan lele, rias pengantin serta menyewakan perlengkapan pesta dan lidah buaya minimal bisa mencapai 60sampai 70 juta rupiah setiap bulan. Itu yang saya subsidi silang untuk membayar karyawan sebanyak 10 orang dengan total pengeluaran kurang lebih 20 juta rupiah per bulannya. Ditambah pengeluaran operasional dan perawatan lainnya yang dikurangi dari pendapatan kotor sehingga masih ada untung yang lumayan untuk terus mengembangkan Rukodaya khususnya budidaya cabai,” lanjutnya.
Kendala yang dialami Sugiarti dalam menjalankan Rukodaya selama ini baru sebatas pasang surut usaha saja. Akan tetapi ada satu hal yangmenjadi beban pikirannya hingga hari ini yaitu Yayasan Damandiri belum sekalipun menghubunginya untuk mendengar atau datang mengunjungi Rukodaya demi melihat sudah sejauh mana perkembangan 10 ribu ekor bibit ikan lele yang pernah mereka berikan. Adalah tanggung jawab moral bagi Sugiarti untuk melaporkan apa saja perkembangan yang terjadi selama ini serta tidak tertutup kemungkinan mengembangkan kerja sama dengan Damandiri untuk budidaya lainnya khususnya mengembangkan budidaya cabai dan lidah buaya.
Harapan ke depan Sugiarti melalui Rukodaya adalah ia bisa terus menjadi contoh bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya agar bisa memanfaatkan lahan-lahan di rumah untuk bercocok tanam bahkan beternak baik ikan atau apapun. Tidak ada kata tidak mungkin jika memang ada niat dan keteguhan hati. Kerugian dan pasang surut harus dihadapi dengan hati besar. Itulah seni dari wirausaha, menurut Sugiarti.
Bahkan Sugiarti saat ini sedang mempersiapkan sebuah tempat kuliner dua lantai dimana lantai pertama sebagai rumah makan khusus pecel lele dengan minuman khas es sari lidah buaya. Di lantai dua ia menempatkan juga rias pengantin tradisional sebagai pendamping usaha kuliner tersebut. Dengan membuka usaha ini, Sugiarti berharap bisa menambah penghasilan para karyawannya yang menurut Sugiarti merupakan aktor-aktor penting dibalik Rukodaya yang selalu siap dan loyal membantunya.
Pesan Sugiarti bagi para wirausahawan muda yang baru mulai membangun usaha baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pemerintah atau yayasan seperti layaknya ia dan Yayasan Damandiri adalah usaha tersebut harus dikembangkan menjadi beberapa sayap usaha. Hal ini dimaksudkan sebagai antisipasi pasang surut usaha. Jika usaha A mengalami penurunan, maka ada usaha B sebagai subsidi silang untuk menutupi, begitu seterusnya.
Di lingkungannya Sugiarti menjabat  sebagai Ketua RW 012 Kelurahan Utan Kayu  Selatan, Jakarta Timur serta baru-baru ini sudah memegang lisensi resmi KKP RI dalam bidang peternakan ikan.
Tanpa terasa sudah hampir dua jam kami berbincang-bincang dengan Sugiarti pemilik Rukodaya Utan Kayu Selatan ini. Kopi hangat kami sudah kandas, dan tangan ini tidak tahan ingin bertemu keyboard komputer untuk menuangkan hasil rekaman pembicaraan kami. Sepertinya kode alam untuk berpamitan.   Dalam perjalanan pulang menuju kantor kami di bilangan Gunung Sahari Jakarta Pusat, tidak habis kami memikirkan betapa seorang Ibu paruh baya bisa memiliki inspirasi begitu besar bagi banyak orang, dalam berbagai hal, hanya berawal dari 10 ribu ekor bibit ikan lele.
Mungkin sekarang saatnya Yayasan Damandiri mengunjungi Rukodaya ” ApartemenLele ” milik Sugiarti untuk melihat bahwa bibit-bibit ikan lele tersebut sudah menjadi sandaran hidup bagi banyak orang.
Kiri atas: Jalan Cengkir yang begitu asri. Kanan atas: Sanggar Rias Pengantin milik Sugiarti.  Kiri bawah: Rumah tempat peralatan pesta milik Sugiarti. Kanan bawah: “Apartemen Lele” dilihat dari luar
Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Lihat juga...