Permintaan Ikan untuk Makanan Tradisional Meningkat di Lampung

SENIN, 26 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Selatan sejak sepekan sebelum Natal 2016 mulai menyediakan ikan dalam jumlah banyak. Penambahan jumlah pasokan bahkan berasal dari sejumlah nelayan dari wilayah perairan Banten dan Teluk Lampung. 
Proses penimbangan ikan di Tempat pelelangan ikan Muara Piluk Bakauheni Lampung Selatan
Sumini (34), salah satu penjual ikan di TPI Labuhan Ratu Lampung Timur saat dikonfirmasi mengakui, permintaan akan ikan laut didominasi untuk pembuatan bahan makanan, diantaranya kerupuk ikan, makanan tradisional berbahan ikan laut diantaranya mpek mpek, tekwan. Selain dihidangkan saat liburan Natal juga dijadikan oleh-oleh.
Sumini mengungkapkan, permintaan yang ikan laut tersebut bahkan bisa mencapai kenaikan hingga Rp5.000 hingga Rp15.000 per kilogram dibandingkan hari hari biasa. Kenaikan itu cukup beralasan, selain permintaan dari konsumen untuk produksi pembuatan bahan makanan tradisional yang meningkat, konsumen yang membeli untuk diolah langsung juga meningkat. 
Ikan yang mengalami peningkatan tersebut diantaranya jenis simba, dari semula Rp45.000 per kilogram menjadi Rp55.000 per kilogram, ikan tengkurungan dari Rp16.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. Kenaikan signifikan terutama pada ikan-ikan yang akan digunakan untuk pesta malam tahun baru diantaranya tongkol, cakalang serta ikan lainnya yang semula Rp50.000 bisa menjadi Rp65.000 per kilogram.
Ikan-ikan tersebut selain dibeli oleh para pedagang, pengecer juga dibeli oleh pengepul yang akan menyimpan ikan dalam freezer sepekan menjelang Tahun Baru dan akan dijual saat permintaan ikan meningkat. Ia bahkan mengaku, selain menjual ikan dalam bentuk utuh, juga mendapat permintaan akan daging ikan giling yang dijadikan bahan pembuatan mpek mpek dan tekwan. Seperti jenis ikan tenggiri, parang, kurisi yang digiling semula Rp60.000 per kilogram kini bisa menjadi Rp80.000 per kilogram setelah digiling.
“Langganan kami mengaku permintaan pembuatan mpek-mpek lenjer yang merupakan makanan tradisional meningkat terutama untuk dijadikan oleh-oleh yang sudah dipesan warga Jakarta yang berlibur ke Lampung,”ungkap Sumini saat dikonfirmasi Cendana News di tempat pelelangan ikan Labuhan Maringgai Lampung Timur, Senin (26/12/2016).
Epson Cahyadi dan Elin pembuat otak otak ikan di Kalianda
Sumini mengakui, tren peningkatan ikan utuh dan ikan giling selalu terjadi saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Natal serta liburan panjang. Selain digunakan untuk konsumsi kecenderungan masyarakat yang belibur ke Lampung dari berbagai wilayah di Jawa Barat, Jakarta untuk membeli oleh-oleh khas Lampung diantaranya mpek mpek, tekwan dan kemplang ikan, otak otak ikan membuat sejumlah pembuat makanan tradisional tersebut membuat stok cukup banyak.
Permintaan ikan yang meningkat tersebut juga diakui oleh Sadide, pembina nelayan di TPI Muara Piluk Bakauheni. Beberapa kapal ikan berukuran 30 GT bahkan yang melaut di Perairan Laut Jawa mendarat di TPI Muara Piluk untuk memasok sejumlah besar ikan yang banyak dibeli oleh masyarakat terutama saat hari raya Natal dan Tahun Baru. Tradisi bancakan dan membakar ikan di pantai saat Tahun Baru menjadi penyebab meningkatnya permintaan ikan, selain itu kuliner atau makanan berbahan dasar ikan menjadi penyebab banyaknya masyarakat membeli ikan.
“Meski permintaan meningkat namun kondisi cuaca yang kurang baik untuk melaut membuat perolehan ikan saat melaut berkurang dan ini juga menjadi penyebab harga ikan naik selain memang permintaan meningkat,”terang Sadide.
Meningkatnya harga ikan untuk bahan pembuatan makanan tradisional tersebut diakui oleh Epson Cahyadi (41) dan isterinya, Elin (39) yang merupakan pembuatan makanan tradisional otak-otak berbahan ikan. Ia mengakui membeli ikan giling jenis Tenggiri Rp150.000 perkilogram yang akan digunakannya sebagai bahan pembuatan otak-otak akibat permintaan yang meningkat yang sebagian dipesan untuk dibawa pulang ke Jakarta.
“Kami biasanya mendapat pesanan sepekan sebelum diambil karena otak otak dikerjakan dengan cara manual dan dibungkus menggunakan daun pisang,”ungkap Epson Cahyadi warga Kalianda bawah.
Peningkatan permintaan tersebut menurutnya terlihat dari hari biasa dengan jumlah otak otak yang dibuat mencapai 200-300 bungkus otak otak oleh pemesan. Namun selama jelang Natal dan Tahun Baru permintaan meningkat menjadi sekitar 500-800 bungkus pesanan. Pemesan biasanya akan mengambil di rumahnya saat selesai diibuat dan baru dipanggang beberapa jam sebelum pemesan datang sementara sebelum dibakar otak otak yang sudah dibungkus daun pisang disimpan di freezer.
Pedagang Ikan di TPI di Lampung
Dalam sekali pembuatan otak otak Epson dan Elin sang isteri mengaku menghabiskan sebanyak 15 kilogram ikan giling terutama saat pesanan meningkat. Selain dikerjakan bersama sang isteri saat pesanan meningkat ia terpaksa mempekerjakan beberapa karyawan. Selain pembuatan makanan tradisional berbahan ikan berupa otak otak,ia juga mengaku membuat makanan lain diantaranya bakso ikan, pastel dan mpek mpek berbahan daging ikan segar.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...