Perjuangan Hidup Ibu dari Kampung Ayapo Papua

KAMIS, 22 DESEMBER 2016

JAYAPURA — Tak ada satu pun di dunia ini yang dapat membayar seorang perempuan yang tak terhitung kasih sayang miliknya kepada anak-anaknya, yaitu ibu. Satu dari sekian banyak ibu di dunia, ada perempuan asli kampung Ayapo, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, ini yang menjadi contoh kecil bagaimana sosok seorang ibu dalam perjuangannya.

Mama Ibo yang hingga kini terus berkarya untuk tanah Papua.

Mariana Pulanda Ibo, menginjak usia 72 tahun ini, tetap kokoh berjuang di bidang seni demi sesuap nasi. Mama Ibo, sapaan akrab mama yang telah mempunyai 8 orang cicit ini, awalnya terjun di dunia pelayanan Tuhan di Yayasan Pendidikan Katolik (YPK) Gereja Kristen Indonesia (GKI) Papua (kala itu Irian Barat)  tahun 1961 silam. Di tahun yang sama, dirinya menikah dengan seorang pria bernama Hans Ibo hingga kini. Hari demi hari, Mama Ibo yang bekerja untuk yayasan tersebut, di usia 17 tahun, sering berpindah tempat dari satu kampung ke kampung lain, untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat. Tak ada keluh kesah yang ada di dalam benaknya. Perempuan Papua yang sejak kecil dulu mengenakan pakaian dari rumput dan  kulit kayu ini, terus menerus menyuarakan betapa pentingnya hidup saling tolong menolong.

“Saya melahirkan dan membesarkan anak-anak, semua saya lakukan sesuai kehendak Tuhan agar mereka menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara, terlebih terhadap Tuhan,” kata Mama Ibo yang memiliki delapan orang anak kepada Cendana News, belum lama ini.

Sejak menjadi pelayan Tuhan di tahun 1961 dan pada tahun 1980 dirinya diangkat menjadi Koordinator GKI Klasis Sentani dari yayasan tempat dirinya bekerja, bahkan sampai saat ini, dirinya masih tetap mengabdi sebagai pelayan Tuhan, di mana setiap Sidang Sinode, sidang gereja, di situ ada dia.

“Jalan hidup manusia, bukan manusia itu yang atur, melainkan Tuhan mengatur semuanya. Saya sebagai seorang perempuan, sebelum menikah saya sudah harus bekerja sebagai pelayan Tuhan. Saat itu zaman Belanda di tahun 1961,” tutur perempuan tangguh yang jarang mengemis kepada pemerintah.

Keluarga besar Mama Ibo berpose bersama pada 1996.

Di zaman Belanda, Mama Ibo salah satu perempuan terbaik Papua yang dapat mengetik 170 kata dalam lima menit dengan cepat dan ringkas yang biasa disebut dengan stenografi. Kala itu, dirinya banyak mendapat job dari pemerintah Indonesia.

“Jadi, setiap saat Belanda minta Sidang Sinode, saya dipanggil untuk mengetik apa yang terjadi dan apa yang dibahas dalam sidang tersebut. Kalau sekarang dibilang notulen,” kata Mama Ibo dengan raut wajah kendur yang sudah di makan usia.

Dari hasil perkawinannya dengan suami tercinta yang berasal dari kampung Khameyaka, Distrik Ubumfauw, Kabupaten Jayapura, Tuhan mengaruniai delapan orang anak, terdiri dari seorang laki-laki, dan tujuh perempuan.

“Saya kerja sampai larut malam, suami juga orangnya baik, datang ke tempat kerjanya menunggu saya pulang. Ada saat di mana saya mengurus anak dan putar otak untuk membiayai anak-anak. Saya tak putus asa, saya terus mencari pemasukan atas petunjuk Tuhan untuk menyekolahkan mereka sampai di perguruan tinggi,” ungkap mama yang murah senyum ini. Sampai  suatu ketika, dirinya ingin membuktikan kalau perempuan dari Kampung Ayapo bukan perempuan biasa yang di luar dikatakan perempuan tak punya kemampuan mandiri. Akhirnya, di tahun 1991, dirinya belajar bagaimana caranya membatik. Saat itu, dirinya belajar membatik dan mengukir dari Yayasan Pengembangan Irian Barat (Irian barat Development Foundation/IDF) yang bekerjasama dengan GKI di Papua. Tahun terus berlalu, Mama Ibo, anak dari Bernadus Pulanda dan Barbalina Tokoro ini, terus semangat membatik, Dirinya pun diangkat sebagai instruktur di tahun 1992. Kala itu ada 60 siswi yang ia berikan pelajaran membatik, sayang tak satu pun yang berhasil mengembangkan keterampilan itu.

Semangat membatik menggebu-gebu di benaknya. Dirinya nekad membuka Sanggar Batik Putri Dobonsolo tahun 1995 dibantu delapan orang anaknya.

“Semua anak saya tahu membatik, mulai dari proses awal hingga akhir. Tapi, setiap anak memiliki keahlian masing-masing, ada yang mahir mewarnai, ada yang mahir mencanting, dan lainnya,” kata Mama Ibo. Ke delapan anaknya itu, yakni Almarhum Margareta Ibo (5 Feb 1963), Mirian Amelia Ibo (28 Mei 1966), Hari Tonci Theys Ibo (5 Januari 1968), Almarhum Marce Albertina Ibo (17 Agustus 1970), Maria Haneke Ibo (28 Agustus 1972), Sri Miati Ibo (10 Mei 1975), Matelda Alfonsina Ibo (20 November 1978), dan Mareke Ibo (10 Juli 1981).

Mama Ibo mengajari turis asing membatik di Batik Putri Dobonsolo miliknya.

“Saya membesarkan anak-anak saya dari hasil kerja keras saya dan suami saya. Karena tanpa suami, saya juga tak bisa seperti ini,” kata Mama Ibo yang memiliki 36 cucu ini.

Dari tekad dan keinginan yang kuat itulah, Mama Ibo perlahan mengubah ekonomi keluarga. Awalnya omset yang ia dapatkan dari sanggar batik miliknya berjumlah Rp 10 juta tiap tahun, lama kelamaan naik menjadi Rp 20-40 juta tiap tahun. Bahkan, dikatakan Mama Ibo, pernah di tahun 2000-an dirinya dapat keuntungan bersih Rp 130 juta dalam satu tahun.

“Dalam batik ini saya bekerja menggunakan cara-cara Belanda, siapa yang kerja, dia yang dapat uang. Tahun ini, Puji Tuhan, saya dapat hampir Rp 200 juta,” ujarnya.

Awalnya, di Batik Putri Dobonsolo ini hanya batik tulis, karena dirinya cuma bermodalkan hasil kerja sebagai pelayan jemaat di GKI Klasis Sentani. Lama kelamaan, dirinya dapat membeli dengan uang sendiri peralatan untuk mengeprin kain motif batik.

“Saya kerja membatik malam hari, pagi hingga sore, kerja seperti biasa di yayasan. Suami saya juga mendukung apa yang saya lakukan,” katanya. Sebagai perempuan, dirinya menyampaikan kepada perempuan-perempuan yang masih muda agar jangan patah semangat dan terus percaya diri. Supaya bisa menjadi ibu yang baik, menjadi perempuan yang memberikan tali asih, dorongan dan motivasi kepada perempuan lainnya.

“Perempuan di luar sana jangan cepat putus asa, karena dunia ini kita tak hidup sendiri. Ada suami, ada keluarga, ada orang-orang lain yang bisa menolong kita, asal ada keterbukaan. Omong kosong kalau kita bisa hidup sendiri di dunia ini. Dunia ini membutuhkan satu dengan yang lain, supaya kita sama-sama saling tolong menolong,” kata Mama Ibo.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...