KAMIS 22 DESEMBER 2016
BANDUNG—Lewat seni, Eneng Subartin (32) seorang ibu asal Kota Bandung ingin berperan lebih besar untuk masyarakat. Lulusan Institut Budaya Seni Indonesia (ISBI) ini aktif dengan Smile Motivator gencar memberikan motivasi kepada warga berkebutuhan khusus. Eneng bercita-cita agar penyandang disabilitas bisa lebih produktif di kala memiliki keahlian dalam berkesenian, seperti seni tari, musik dan drama.
![]() |
| Eneng Subartin. |
Eneng turun langsung melatih para muridnya yang memang memiliki keterbatasan fisik. Awalnya, wanita yang juga berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar (SD) di Kota Kembang ini kewalahan ketika menangani murid-muridnya yang memiliki keterbatasan fisik.
“Saya dari umum di SDN Padasuka, Kota Bandung, tapi saya suka ke anak-anak yang berkebutuhan khusus karena dia potensinya sangat banyak,” kata Eneng.
Dia mengakui menjadi pengajar penyandang disabilitas memiliki tantangan yang lebih besar. Sejauh ini dia berhadapan dengan anak-anak tuna rungu, tuna daksa, tuna netra dan down sindrom.
Tantangan itu terasa sangat besar, sebab pertama menangani penyandang disabilitas pada 2012. Waktu itu dia sama-sekali awam. Bahkan Eneng mengaku mendapat banyak pengetahuan dari anak latihnya yang notabene memiliki keterbatasan itu.
“Salah satunya di awal saya sama sekali tidak tahu cara berkomunikasi dengan yang tuna rungu, tapi saya sering melihat mereka ketika berkomunikasi dan akhirnya saya bisa mengikuti,” paparnya.
Disampaikan, anak-anak asuhnya itu memiliki karakter dan tingkat emosional yang berbeda. Ada beberapa muridnya yang sangat sensitif, karena itu harus ekstra sabar.
“Intinya harus sabar karena mereka juga tidak bisa dipaksa untuk langsung bisa menguasai apa yang diajarkan,” kata Ibu dua orang anak ini.
Tak jarang dia kena marah oleh anak-anak asuhnya, terutama yang menderita down sindrom. Pernah ada cerita, anak latihnya itu menolak mengikuti arahannya untuk menari, lantaran tidak menyukai lagu pengiring.
“Saya sempat mau dipukul, tapi ya itu harus benar-benar sabar, kita harus turuti dulu keinginan mereka dulu,” tuturnya.
Eneng tak menampik, pernah ingin menyerah menamgani penyandang disabilitas ini. Namun dia memiliki prinsip bahwa hidup tak sekadar untuk bertahan hidup.
“Tapi juga untuk memberikan arti hidup dan agar semua juga bisa tersenyum itu prinsip saya. Dan juga seni memang hobi saya, bisa pusing jika tidak disalurkan,” pungkasnya.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudiansyah