Sumargo Gagas Kampung Hijau Gang Gotong Royong Posdaya Jingga

KAMIS 22 DESEMBER 2016

JAKARTA—Posdaya Jingga di Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan memiliki gagasan untuk mengembangkan Kampung Hijau. Untuk itu, di dalam Posdaya ada yang dinamakan Pos Penghijauan dengan Sumargo sebagai koordinatornya. Selain sebagai anggota Posdaya serta koordinator Pos Penghijauan, Sumargo juga adalah Ketua RT015 di wilayah RW05, Gang Gotong Royong, Kelurahan Ragunan.
Sumargo, Koordinator Penghijauan Posdaya Jingga dan Ketua RT015 / RW08 Kelurahan Ragunan.
Bagi Sumargo, penghijauan merupakan kegiatan yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat. Kewajiban masyarakat itu merintis sekaligus memulai kegiatannya, selanjutnya pemerintah tinggal memberikan dukungan saja dalam bentuk program atau apresiasi nyata. Hal ini sudah disadari Sumargo sejak lama dan semakin ia mendapatkan pencerahan ketika bergabung sebagai koordinator Pos Penghijauan di Posdaya Jingga.
Langkah pertama Sumargo adalah melakukan pemetaan wilayah yang dijadikan titik percontohan penghijauan untuk membentuk Kampung Hijau Terintegrasi. Wilayah kerja Sumargo adalah RT 015 yang berada di ujung selatan RW 05 Kelurahan Ragunan. Ia menarik garis lurus ke utara dan menemukan wilayah RT08 untuk dijadikan titik percontohan di tengah. Akhirnya garis lurus tersebut berujung di utara yaitu wilayah RT04. Berdasarkan pemetaan Sumargo inilah mulai dilakukan gerakan merintis Kampung Hijau yang dimulai dari RT 015 atau ujung selatan RW 05 Kelurahan Ragunan.
“Setelah pemetaan selesai, saya mulai melakukan pendekatan ke titik-titik yang dituju. Hasilnya sangat bagus karena ternyata ketua-ketua RT di wilayah itu antusias,” kata Sumargo saat ditemui Cendana News di kediamannya, Gang Gotong Royong No.56A, RT015/RW08, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Sumargo mulai melakukan gerakan menggagas Kampung Hijau dari wilayah RT015 yang dipimpinnya. Ia menjadikan tembok-tembok rumah warga di sepanjang gang gotong royong sebagai tempat untuk menempel atau menggantung media-media tanam berupa botol bekas minuman, plasti, kaleng dan pipa paralon. Sumargo mendapat bantuan bibit tanaman palem, pucuk merah, lengkuas, daun jarak, pohon markisa, cabe dan bawang merah dari Dinas Kelautan Perikanan dan Ketahanan Pangan (Dinas KPKP). Lalu secara swadaya ia membeli lagi bibit-bibit tanaman seledri, kangkung, jahe dan jahe merah, serta terong.
Rak Paralon di Kampung Hijau Gang Gotong Royong RT015/RW05 Kelurahan Ragunan.
Selain bibit tanaman tadi, Sumargo juga mendapat rak tanam paralon dari Dinas KPKP. Dengan semua bantuan itulah ia bergerak mengedukasi warga di wilayahnya untuk melakukan gerakan menggagas Kampung Hijau di Gang Gotong Royong.  Rumah Sumargo dijadikan percontohan awal preogram penghijauan tersebut.  Sumargo menempatkan rak tanam paralon berikut tanaman-tanaman lainnya di sepanjang badan jalan setapak di depan pagar rumah. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp2.500.000 untuk  40 meter deretan tanaman.
“Namun saya juga mempertimbangkan sekaligus memperhitungkan bagaimana penghijauan di jalan gang gotong royong yang sampai mengganggu kenyamanan pengendara sepeda motor yang kerap melintas disini entah milik warga maupun orang lain yang sekedar memotong jalan untuk keluar menuju jalan raya,” tambah Sumargo.
Rak tanam paralon juga ditempatkan Sumargo di depan rumah untuk ditanami selada, sawi dan kangkung.  Lambat laun apa yang dilakukan Sumargo mulai diikuti warga sekitarnya. Mereka mulai antusias dan Sumargo membagikan bibit-bibit tanaman kepada warganya untuk ditanam di depan rumah maupun pekarangan. Bahkan beberapa rak tanam paralon juga disebar Sumargo ke titik-titik tertentu di wilayah RT015 yang dipimpinnya.
Pupuk yang digunakan Sumargo serta warga Gang Gotong Royong untuk menyehatkan tanaman sederhana saja, yaitu pupuk kompos berupa campuran antara tanah dengan sampah daun-daun kering serta sampah rumah tangga seperti bekas sayuran dan sisa kulit buah-buahan. Semua dicampur menjadi satu tanah lalu digemburkan untuk kemudian ditempatkan di media tanam yang ada. Setelah selesai, didiamkan terlebih dahulu setengah hari barulah ditanami dengan tanaman apa saja yang diinginkan.
Perawatan tanaman-tanaman tersebut dilakukan juga secara bersama-sama tentunya dengan kesadaran masing-masing warga untuk menjaga tanaman agar tidak layu atau mati. Hasil pembibitan Sumargo juga berjalan baik, karena ia sudah dua kali melakukan panen kangkung dan saat ini sedang bersiap panen selada. Bibit-bibit maupun hasil panen dibagikan kepada warga RT015 untuk ditanam kembali di pekarangan atau di tembok-tembok rumah bagian luar.
“Ini gerakan bersama dari Gang Gotong Royong. Semua warga disini bergerak untuk satu tujuan positif yakni melakukan penghijauan. Dalam kapasitas saya sebagai Ketua RT 015, ini adalah upaya pembinaan kepada warga yang saya pimpin. Dan dalam kapasitas saya sebagai penggerak penghijauan dari Posdaya Jingga, ini adalah wujud bagaimana kami dari Posdaya mampu memberdayakan masyarakat dengan segala keterbatasan yang kami miliki,” pungkas Sumargo.
Kegiatan sehari-hari Sumargo boleh dikatakan tidak jauh dari mencari tanah untuk menanam, membuat media tanam, mencari lahan-lahan kosong baru disekitar wilayah RT 015 untuk ditanami, mengurus bibit tanaman, berkoordinasi dengan Ibu-ibu PKK melalui Posdaya, serta pendampingan kepada masyarakat binaannya untuk menyadarkan mereka bahwa gerakan penghijauan itu baik serta wajib dilakukan demi kebersihan dan keindahan lingkungan.  Lurah Ragunan yaitu Sih Purwanti Rahayu sangat antusias dengan gerakan penghijauan yang digalang Sumargo melalui Posdaya Jingga dengan kerap mengunjungi Gang Gotong Royong yang juga menyimpan sejarah cukup menarik.
Tanaman Selada di dalam media tanam rak tanam paralon.
 Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Miechell Koagouw

Lihat juga...