YOGYAKARTA — Selain potensi budidaya ikan daratan, Dusun Morobangun, Madurejo, Prambanan, Sleman, juga memiliki potensi obyek wisata sejarah berupa Goa Jepang dan Monumen Bendera. Dua tempat tersebut merupakan bagian dari sejarah perang kemerdekaan di tahun 1949. Namun, saat ini pengembangannya sebagai upaya obyek wisata masih banyak menemui kendala.
Goa Jepang.
Goa Jepang secara administratif berada di Dusun Sentonorejo, Pedukuhan Blambangan, Jogotirto, Berbah, Sleman. Namun, keberadaan Goa Jepang ini terkait erat dengan Monumen Pertempuran Serut 1949 yang dibangun di Komplek Kantor Balai Desa Madurejo. Selain itu, kawasan wisata Goa Jepang juga lebih berada di kawasan Keluharan Madurejo, sehingga pengembangan kawasan lebih banyak dilakukan oleh warga Desa Madurejo.
Dalam sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, secuil peristiwa penting dan berdampak besar terjadi di Desa Madurejo. Saat itu, pada 10 Maret 1949, para pejuang kemerdekaan RI dari berbagai kesatuan melakukan penghadangan terhadap konvoi pasukan Belanda yang hendak menuju Piyungan, Wonosari, Gunungkidul.
Monumen Pertempuran Serut mengisahkan, saat itu pada 10 Maret 1949, konvoi pasukan Belanda terdiri dari kendaraan lapis baja, bren carrier, jeep dan truk, bergerak dari Prambanan menuju Piyungan, melewati sebelah barat Dusun Serut, Madurejo, Prambanan, Sleman. Di tempat itu, konvoi dihadang dengan trek bom oleh Batalyon 151, Pleton Zahid Husein, Kompi IV Brigade 10, Divisi III Diponegoro TNI, 1 Regu Tentara Genie Pelajar (TGP), Kompi IV Brigade 17 TNI, yang dibantu rakyat setempat.
Akibat penghadangan itu, sebuah Panser Wagen pasukan Belanda meledak dan terlempar kurang lebih 7 meter dari jalan, karena menginjak trek bom. Penghadangan itu menewaskan puluhan pasukan dan beberapa perwira Belanda, sedangkan korban dari para pejuang RI, nihil.
Sepenggal peristiwa bersejarah di masa Clash Belanda II di Yogyakarta itu, menimbulkan kesan mendalam bagi rakyat, sekaligus berdampak luas. Dunia semakin mengakui kemerdekaan RI, yang saat itu masih saja hendak dirongrong oleh Belanda.
Sebagai penghargaan terhadap para pejuang dan rakyat Madurejo, Paguyuban Wehrkreis III, lalu membangun Balai Desa Madurejo dan ruang-ruang pelatihan, serta sebuah monumen yang diberi nama Monumen Pertempuran Serut 1949 di depan Kantor Balai Desa Madurejo. Monumen tersebut diresmikan oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada 2 Oktober 2004.
Kepala Desa Madurejo, Sukarjo, ditemui pekan ini, mengatakan, pada 10 Maret 1949 itu sebenarnya sudah terjadi gencatan senjata. Namun, komunikasi yang di masa itu tidak secepat sekarang, membuat para pejuang di Madurejo tak mengetahui perihal gencatan senjata tersebut.
“Ketika terjadi penghadangan itu, para pejuang dibantu warga membawa bom peninggalan Belanda yang disimpan di gudang senjata di dalam Goa Jepang,” ungkapnya.
Dengan serangkaian peristiwa bersejarah itu, Sukarjo berkeinginan membangun kawasan Goa Jepang sebagai obyek wisata sejarah. Namun, keterbatasan anggaran menyulitkan upaya pengembangan itu. Saat ini, akses jalan menuju Goa Jepang belum mendukung. Kontur tanah yang gembur mengakibatkan akses jalan dan halaman Goa Jepang pun becek setiap kali turun hujan.
“Kecuali akses jalan, Goa Jepang juga belum memiliki fasilitas apa pun. Beberapa kendala seperti lahan di kawasan Goa Jepang yang masih milik warga juga menyulitkan penataan,” ungkapnya.
Sukarjo, Kades Madurejo.
Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko