Nelayan Pantai Timur Lampung Diharapkan Jaga Terumbu Karang Pulau Mundu

JUMAT, 2 DESEMBER 2016
LAMPUNG—Warga Desa Berundung yang tinggal di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan berharap masyarakat nelayan di wilayah tersebut ikut menjaga dan memperhatikan kondisi terumbu karang yang saat ini sebagian mengalami kerusakan terutama di wilayah Pulau Mundu. Pulau Mundu merupakan satu wilayah yang saat ini memiliki kekayaan alam bawah laut yang cukup bagus terutama dengan keanekaragaman hewan air yang menarik dan juga ekosistem terumbu karang yang masih cukup baik. Meski demikian, kondisi tersebut sebelumnya menurut tokoh pemuda sekaligus warga di Desa Berundung, Erwinsayh, sempat dirusak dengan aktivitas nelayan yang melakukan penangkapan ikan menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan.

Upaya menjaga lingkungan perairan Pulau Mundu yang ada di perairan pantai Timur Lampung bisa ditempuh dengan jarak sekitar 30 menit dari Pulau Sumatera dengan menyusuri sungai. Selain menuju ke destinasi Pulau Mundu yang menawarkan air yang jernih dengan terumbu karang yang bisa terlihat dari atas perahu, sebelum sampai di pulau tersebut jajaran tanaman mangrove dengan burung-burung yang tinggal di sekitar sungai menjadi suguhan yang menarik bagi para pecinta bird watching (pengamatan burung) dan penghobi fotografi.

Aktivitas nelayan di perairan pantai Lampung Timur.

“Sebetulnya, sosialisasi terkait larangan penangkapan ikan menggunakan alat tangkap yang merusak terumbu karang di antaranya jaring, bom ikan, dan bahan kimia sudah dilarang dan nelayan sudah banyak yang tahu namun tetap ada yang membandel,” ungkap Erwinsyah, salah satu tokoh pemuda yang mempedulikan kelestarian terhadap terumbu karang di wilayah tersebut kepada Cendana News, Jumat (2/12/2016).

Selain kerusakan akibat aktivitas para nelayan yang menggunakan berbagai metode tangkap ikan laut, faktor kerusakan juga disebabkan aktivitas nelayan dan penyelam yang sengaja menginjak koral, terumbu karang di beberapa titik. Sosialisasi tersebut, sebelumnya melibatkan kepolisian air (Polair) Polres Lampung Selatan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta komunitas peduli lingkungan perairan. Kelestarian terumbu karang, ungkap Erwin, harus selalu diperhatikan karena menurutnya pertumbuhan terumbu karang pada umumnya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Untuk itu, bersama karang taruna desa setempat sekaligus memperhatikan kelestarian lingkungan perairan ia terus mengajak para nelayan untuk lebih memperhatikan kelestarian terumbu karang. Erwin bahkan mengaku, saat ini sebagian nelayan yang beraktivitas di sekitar Pulau Mundu merupakan nelayan dari wilayah lain yang belum memiliki kepedulian terhadap kelestarian terumbu karang dan hanya ingin mencari keuntungan sesaat dengan penangkapan ikan yang berpotensi merusak terumbu karang dan biota laut.

Aktivitas menyelam pecinta bawah air.

Keberadaan terumbu karang yang masih sering dikunjungi di beberapa titik, menurut Erwinsyah, sebetulnya telah memberi pemasukan bagi para nelayan yang menyediakan jasa bagi para penghobi menyelam (diving), snorkeling, di sekitar Pulau Mundu. Keberadaan destinasi wisata Pulau Mundu bahkan sempat menjadi tujuan yang banyak dikunjungi saat gerombolan ikan lumba-lumba mengunjungi wilayah perairan tersebut untuk mencari makan.  Namun sejak beberapa tahun terakhir keberadaan ikan lumba-lumba di wilayah tersebut sulit dijumpai.

“Sepertinya keberadaan lumba-lumba di sekitar pulau Mundu dan beberapa pulau di sekitarnya di antaranya Pulau Keramat dan pulau lain tinggal kenangan karena aktivitas nelayan yang tak memperhatikan kelestarian biota laut,” ungkap Erwin.

Berbagai upaya untuk mengurangi tingkat kerusakan terumbu karang juga dilakukan oleh sebagian pecinta alam di antaranya oleh Sungkowo. Sungkowo mengungkapkan, keindahan terumbu karang di sekitar Pulau Mundu hanyalah merupakan satu bagian dari keindahan di wilayah tersebut. Hutan mangrove yang berada di sekitar Sungai Berundung tersebut hingga kini masih dalam kondisi alami sehingga kerap digunakan untuk kegiatan wisata susur sungai.

Kondisi terumbu karang di daerah perairan pantai Lampung Timur.

“Tanpa harus merusak terumbu karang nelayan di sini sebagian sudah memodifikasi perahunya untuk digunakan sebagai perahu wisata yang bisa digunakan untuk mengantarkan wisatawan,” ungkapnya.

Nelayan yang memodifikasi perahunya untuk kegiatan susur sungai, melihat hutan mangrove, burung bangau dan menikmati terumbu karang Pulau Mundu sebagian menawarkan perahu dengan biaya Rp 250 ribu-Rp 400 ribu per perahu sesuai dengan kesepakatan. Perahu tersebut bahkan bisa mengantarkan wisatawan melihat beberapa satwa yang jarang ditemui di antaranya buaya muara, biawak, burung bangau, dan burung camar. Ia berharap dengan pengembangan wisata yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan bisa tetap mempertahankan keasrian Pulau Mundu dan wilayah perairannya. Pulau Mundu yang sebelumnya banyak digunakan untuk bersandar kapal nelayan saat datang badai atau ombak besar tersebut merupakan pulau tanpa penghuni namun memiliki keindahan alam bawah laut yang eksotis.

Koral yang masih terjaga.

“Kita masih rencanakan untuk melakukan transplantasi terumbu karang bersama para pemuda pecinta alam untuk memperbaiki terumbu karang yang mulai rusak dan akan dipasang peringatan bagi nelayan untuk tidak merusak terumbu karang,” terang Sungkowo.

Ia berharap, pengembangan wisata perairan dan sungai di pesisir Timur Lampung tidak semata-mata untuk mencari keuntungan semata sehingga tetap bisa memperhatikan kelestarian tempat wisata yang ada di wilayah tersebut. Selain himbauan bagi nelayan, ia juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar sungai untuk tidak membuang sampah sembarangan. Karena sampah terutama jenis plastik berpotensi mengganggu dan merusak pertumbuhan biota laut terutama terumbu karang yang membutuhkan kurun waktu lama dalam pertumbuhannya.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...