JUMAT, 23 DESEMBER 2016
SUMENEP — Akibat kerusakan mesin kapal motor Dharma Bahari Sumekar (DBS) 1 membuat ratusan penumpang tujuan Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terlantar. Pasalnya pada hari ini tidak lagi ada jadwal keberangkatan kapal menuju wilayah kepulauan tersebut, sehingga mereka terpaksa harus berada di pelabuhan daerah setempat sambil menunggu ada keberangkatan kapal selanjutnya. Para penumpang yang terlantar mulai mengeluh, karena mereka sudah bertahan di daratan dalam waktu cukup lama akibat kondisi cuaca buruk yang belum ada jadwal keberangkatan kapal. Namun, ketika kondisi cuaca membaik, ternyata kapal jurusan kepulauan mengalami kerusakan. Akibatnya, mereka harus kembali bertahan di pelabuhan dengan bekal yang sudah mulai menipis. Hal itu perlu adanya perhatian serius dari pihak-pihak terkait.
| Ratusan penumpang tertahan di Pelabuhan Kalianget, sebagian di antara mereka ada yang tertahan 10 hari. |
“Di sini ada sekitar 300 penumpang asal kepulauan yang terlantar di sekitar pelabuhan. Bahkan, ironisnya, bekal yang mereka bawa sudah mulai menipis. Sehingga jika sampai perbaikan kapal memakan waktu lama kami di sini akan kebingungan,” kata Zainuddin, salah seorang penumpang asal Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jumat (23/12/2016).
Disebutkan, para penumpang hanya bisa pasrah dan merasa kecewa karena tidak bisa pulang ke kampung halamannya untuk bisa menikmati liburan Natal dan tahun baru. Karena bagi mereka memang tidak memiliki pilihan lain, apalagi keberadaan transportasi laut jurusan kepulauan juga sangat terbatas. Ketika terjadi kerusakan terhadap salah satu kapal, maka penumpang harus menunggu kapal selesai diperbaiki agar bisa pulang ke rumah masing-masing.
| Penumpang asal kepulauan yang tertunda kepulangannya, tertahan di Pelabuhan Kalianget. |
“Dari pihak kapal solusinya suruh balikin tiket saja. Saya sudah sepuluh hari di sini karena jadwal kapal kemarin kan tidak berangkat. Jadi, mestinya ada solusi yang baik bagi penumpang yang tidak bisa berangkat ini, karena jika lama mereka akan kehabisan bekal,” jelasnya.
Sejak dulu sampai sekarang, keberadaan transportasi menuju wilayah kepulauan memang sering dikeluhkan. Selain minim, kapal yang tersedia sangat terbatas. Akibatnya, jika terjadi kerusakan terhadap salah satu kapal, maka penumpang harus menunggu selesai perbaikan untuk bisa pulang ke kampung halamannya di wilayah kepulauan.
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: Satmoko / Foto: M. Fahrul