JUMAT 16 DESEMBER 2016
LOMBOK––Semenjak dikenal nelayan dan banyak diminati pasar dengan harga dan penghasilan menjanjikan, lobster menjadi primadona di tengah masyarakat Pulau Lombok, terutama masyarakat nelayan bagian selatan. Tidak heran lobster belakangan menjadi perburuan nelayan dan para pengepul sebagai sumber penghasilan.
![]() |
| Nelayan Desa Selong Blanak, Kabupaten Lombok Tengah nampak membawa alat tangkap lobster saat hendak melaut. |
Aktivitas melaut mencari ikan dari sebagian nelayan kurang dihiraukan dan nyaris banyak ditinggalkan. Setiap hari nelayan secara berlomba – lomba dari pagi sampai sore bahkan malam hari berlomba – lomba melakukan perburuan lobster memenuhi tengah lautan dan teluk.
“Seperti halnya tanaman tembakau bagi petani, lobster bagi nelayan juga telah menjadi primadona dan tetap melakukan penangkapan, meski ada aturan pelarangan dari KKP, karena lebih menjanjikan secara ekonomi,” kata Husen, nelayan Desa Mertak, Kabupaten Lombok Tengah kepada Cendana News.
Ia mengaku sekali turun bisa mendapatkan lobster tiga puluh sampai lima puluh biji lobster, bahkan bisa mencapai 100 biji, kalau sedang beruntug , dengan harga bervariasi, tergantung jenis lobster.
Salman nelayan lain mengatakan, lobster sendiri ada dua jenis, yaitu pasir dan mutiara dan lobster jenis mutiara termasuk lobster yang paling mahal, di mana satu biji harganya bisa sampai 50 ribu, sementara lobster jenis pasir harganya 20 sampai 25 ribu rupiah per biji.
“Bisa dikalkulasikan, kalau sehari saja bisa mendapatkan 50 biji lobster, keuntungan didapatkan cukup menjanjikan dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan, selain sering tidak menentu, harga juga murah.”
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi