Kampanye Lingkungan Melalui Pemanfaatan Sampah Sebagai Produk Kerajinan

RABU, 14 DESEMBER 2016

LOMBOK — “Sampah betapa telah menjadi permasalahan setiap negara di Dunia, termasuk di Indonesia dan bisa menyebabkan bencana seperti bajir dan pencemaran lingkungan,” kata Theo Setiadi Suteja, pemilik The Griya Lombok sekaligus pengerajin berbagai macam produk dari olahan sampah kertas, Kelurahan Gatep, Ampenan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Theo Setiadi Suteja  menunjukkan salah satu hasil kerajinan dari sampah kertas
Padahal, kalau diolah dengan baik, bisa dibuat menjadi barang bernilai seni dan ekonomi tinggi, sebagai solusi mengatasi permasalahan sampah dan pencemaran lingkungan.
Berangkat dari kegelisahan itulah, Pria 53 tahun, kelahiran Gianyar Bangli, Provinsi Bali tersebut sejak 2014 mulai merealisasikan idenya mengolah sampah menjadi produk kerajinan seni bernilai ekonomi tinggi.
Ia mengatakan, selama ini, sampah di mata sebagian masyarakat seringkali dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak jarang menjadi musibah banjir termasuk menimbulkan penyakit, tapi kalau dimanfaatkan dengan baik bisa menjadi berkah.
Ide dan kegelisahan itulah yang kemudian mndorong dan menginspirasi Theo mengolah sampah kertas menjadi berbagai macam produk kerajinan, mulai dari meja, kursi hingga beberapa jenis kerajinan lain yang telah dihasilkan.
“Ide pengolahan sampah kertas menjadi produk kerajinan sendiri dilakukan, tidak semata untuk mencari keuntungan secara ekonomi, tapi sebagai bentuk kampanye mengajak masyarakat menyelamatkan lingkungan,”cerita Theo kepada Cendana News.
Mengingat kondisi lingkungan sekarang ini yang telah banyak mengalami pencemaran akibat limbah dan sampah.
Selain itu, pengolahan sampah menjadi produk kerajinan juga sekaligus ingin mengajak masyarakat mengurangi eksploitasi kayu secara berlebihan, yang seringkali menyebabkan kekeringan, banjir dan longsor, dengan memanfaatkan sampah kertas sebagai bahan olahan.
“Harapannya ini akan bisa menginspirasi masyarakat menyelamatkan lingkungan untuk kehidupan generasi seribu tahun selanjutnya,” katanya.
Semenjak mulai membuat kerajinan sejak 2014 sampai sekarang, ayah tiga anak tersebut telah menghasilkan 200 produk kerajinan dengan harga variatif, mulai dari 50 ribu sampai 15 juta rupiah, tergantung seberapa lama proses pengerjaan dan smpah kertas dibutuhkan.
Namun kebanyakan yang dibeli maupun dipesan wisatawan berupa pelakat dan cendramata untuk dijadikan oleh-oleh pulang ke negara atau daerah asal.
Theo Setiadi Suteja  menunjukkan salah satu hasil kerajinan dari sampah kertas
Untuk proses pembuatan sendiri, sampah kertas yang menjadi bahan kerajinan terlebih dahulu direndam satu sampai dua hari, setelah itu disaring, baru kemudian dicampur dengan lem. Selanjutnya dibentuk kerajinan sesuai keinginan dan itu dikerjakan langsung Theo bersama beberapa tetangga sekaligus karyawan.
“Untuk bahan kerajinan berupa sampah kertas, selain didapatkan gratis dari pasar, juga dibeli dari warga dan pemulung, sehingga secara ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan,” tutupnya.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Lihat juga...