Irian, Mutiara Hitam yang Diperebutkan

RABU  14 DESEMBER 2016

Oleh: Gani Khair (Bagian pertama dari dua tulisan)

JAKARTA—Berbagai teori mengemuka tentang asal usul kata ‘Papua’, salah satu teori menyebutkan kata Papua berasal dari bahasa Tidore dengan dua suku kata yakni papo (dekat) dan ua (tidak) yang berarti daerah yang jauh. Van der Ploeg seorang linguis Belanda menyebutkan kata ‘Papua’ berasal dari bahasa melayu pua-pua  yang artinya orang berambut keriting. Sementara sejarawan Sollewijn Gelpke berpendapat kata ‘Papua’ berasal dari bahasa Biak sup I papwa yang berarti tanah tempat matahari terbenam. Sementara Marcus Kaisepo seorang pejuang antikolonial Belanda memperkenalkan pertamakali sebutan ‘Irian’ yang berasal dari bahasa Biak, Serui, Waropen dan Merauke yang memiliki arti tumbuhnya semangat perjuangan.

Sejatinya Irian/Papua atau New Guinea, merupakan wilayah taklukan para bajak laut Kesultanan Tidore, namun sejarawan barat mengklaim daerah ini pertamakali ditemukan oleh pelaut Portugis Antonio d’Abreu dengan kapal Santa Caterina pada musim gugur 1511. Pelaut Portugis berikutnya Jorge de Meneses setelah berlayar dari Gowa Sulawesi Selatan dengan rute menuju Ternate pada  1526 menjadikan Pulau Waigeo (Raja Ampat Irian) sebagai tempat persinggahan hingga 1527. Baru pada tahun 1528 pelaut Spanyol Alvaro de S Ceron Saavedra pernah terdampar di sana selama 30 hari. Pada tanggal 13 Juni 1545 pelaut Spanyol Ynigo Ortiz de Retez berlayar dengan Kapal San Juan dari Tidore menuju Mexico, dia singgah ke pulau-pulau bagian utara Irian yang dia beri nama Le Selvillana (Pulau Supiori), La Callega (Pulau Biak), dan Los Martyre (Pulau Numfor).
Beberapa hari kemudian dia singgah di daerah timur sungai Mamberamo yang dia beri nama San Agustin. Menurutnya daerah ini memiliki kesamaan dengan daerah jajahan Spanyol di pantai barat Afrika yang bernama ‘Guinea’ karenanya dia beri nama ‘Nueva Guinea’ (Guinea Baru).Perusahaan Hindia Belanda VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, 1602-1799) diberikan mandat untuk mengelola daerah jajahan negeri Belanda oleh pemerintahnya oleh sebab keterbatasan koordinasi pusat pemerintahan Belanda di Amsterdam dengan daerah-daerah jajahan timur Asia.

Pada  1605 VOC mengirim tim ekspedisi ke daerah bagian timur dengan kapal Duyfken yang di pimpin Abel Tasman hingga mencapai pantai selatan Irian untuk berburu emas. Demi mengamankan bisnisnya VOC membujuk kesultanan Tidore dan Ternate agar menghentikan kegiatan bajak laut Kesultanan tersebut di daerah Irian, sekaligus meminta kesultanan Tidore dan Ternate agar melarang pihak Inggris dan Spanyol menjadikan daerah Irian sebagai tempat transit/persinggahan. Makanya pada masa penjajahan Belanda, VOC melakukan monopoli hasil rempah-rempah Nusantara dan bekerjasama dengan beberapa kerajaan local untuk mengamankan bisnisnya. Karena pada masa itu ramai pelayaran dari benua Eropa berburu rempah-rempah yang berpengaruh besar bagi perekonomian dunia saat itu. Daerah utama penghasil rempah-rempah tersebut adalah Maluku Kepulauan yang terdiri dari 1000-an pulau dimana Pulau Waigeo Raja Ampat merupakan tempat ideal kapal-kapal untuk transit.
Kolonisasi pertama kali oleh bangsa Eropa pada semenanjung Papua/Irian (Irian Barat dan Papua Nugini) dilakukan oleh Inggris yang dipimpin  Letnan John Hayes pada t 1793 di Manokwari. Melalui proses yang panjang pada 17 Maret 1824, dicapailah kesepakatan antara Inggris dan Belanda melalui Perjanjian London yang membagi daerah kekuasaan jajahan di mana Belanda menguasai Irian, Maluku, Jawa dan Sumatera, sementara Inggris mendapatkan Malaysia, Sarawak dan Singapura (kisah ini berkaitan dengan kompensasi Belanda kepada Inggris dengan memberikan wilayah Manhattan, Amerika Serikat).

Pemerintahan kolonial Belanda pertamakali dijalankan di Kaimana pada tahun 1828 sebagai basis pertahanan bagian timur hingga 1836 setelah bernegosiasi dengan para pembajak laut Tidore yang menguasai wilayah itu. Selanjutnya pada 1898 pemerintahan kolonial Belanda bagian timur berpusat di Fakfak dan Manokwari.
Pada 1884 pihak Jerman yang dipimpin oleh  Kaiser Wilhelmsland menjajah daerah timur laut Irian, pada 6 November di tahun yang sama giliran Inggris menjajah bagian tenggara Irian. Lalu pada tahun 1906 Australia memerintah British New Guinea (New Brittain) yakni bagian timur Irian yang mereka sebut dengan “Papua”. Pada 1921 German New Guinea dan Kepulauan Salomon menjadi wilayah New Guinea, di bawah pemerintahan Australia dengan mandat League of Nations (PBB setelah Perang Dunia I). Pada 1945 Australia menggabungkan administrasi pemerintahan ‘Papua’ dengan ‘New Guinea’ menjadi Papua New Guinea (Papua Nugini) dengan Ibukota Port Moresby sampai kemerdekaan penuh Papua Nugini pada 16 September 1975.

Wajah polos anak perbatasan RI-PNG di kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua .
Sementara Irian bagian barat (sekarang Propinsi Papua Barat dan Papua) di bawah kendali Belanda, pada masa meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia, gerakan antikolonialisme merebak di daerah jajahan termasuk di Pulau Jawa. Aktivis-aktivis gerakan berideologi kiri yang menentang pemerintah kolonial Belanda diasingkan di Boven Digul Irian Barat. Selama masa pengasingan para tahanan ini memberikan pengaruh yang besar bagi pergerakan antikolonialisme di Irian.
Pada masa Perang Dunia II Australia dengan sekutunya Amerika Serikat mempertahankan wilayah Pasifik dari serbuan Jepang. Selain perang itu sendiri yang memakan korban, medan tempur yang berat serta penyakit endemik malaria memakan korban lebih dari 20.000 pasukan di kedua belah pihak. Sampai akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945.
Dengan berakhirnya Perang Dunia II, maka tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya serta mengklaim wilayah jajahan Belanda masuk ke dalam kedaulatan Indonesia.
(Bersambung)

*Gani Khair adalah Pimpinan Redaksi Cendana News
Editor: Irvan Sjafari/ Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...