Harga Singkong Masih Rendah Warga Lampung Timur Olah Jadi Gaplek

SABTU, 03 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Rendahnya harga singkong dari kisaran angka Rp500 per kilogram hingga Rp700 per kilogram masih menjadi dilema bagi para petani di Lampung Timur. Bahkan warga Desa Giri Mulyo Kecamatan Marga Sekampung memanfaatkan singkong yang telah dipanen sebagian menjadi gaplek setelah proses pemanenan dari kebun yang dimiliki para petani. 
Amsaroh bersama anak dan cucu mengupas singkong
Seorang petani di Lampung Timur, Amsaroh (45) mengungkapkan, menjual sebagian besar singkong yang dimilikinya meski harga yang ditawarkan masih terbilang kurang memuaskan dan hanya cukup untuk menutupi biaya produksi selama melakukan proses penanaman hampir selama sekitar sembilan bulan. 
Ia mengaku menjual sekitar satu hektar tanaman singkong yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang sedang kuliah meski diakui harga jual yang diharapkan petani untuk komoditas singkong bisa di atas kisaran Rp1.000 per kilogramnya. Sebagai salah satu cara memanfaatkan hasil tanaman singkong yang telah dipanennya, Amasaroh bersama keluarganya terpaksa melakukan pengolahan singkong menjadi gaplek untuk diolah menjadi oyek. Sebagian bahkan mengolahnya menjadi makanan tradisional keripik singkong untuk makanan ringan dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Amsaroh melakukan proses membuat gaplek bersama sang suami, Umar (46) yang sehari-hari bekerja sebagai petani dengan memanfaatkan peralatan seadanya serta melakukan proses pengeringan dengan cara menjemur di terik sinar matahari. Proses penjemuran singkong untuk menjadi gaplek menyesuaikan kondisi cuaca jika cuaca cukup panas dalam waktu seminggu gaplek sudah siap diolah menjadi tiwul yang bisa dimasak untuk pengganti nasi. 
Amsaroh bersama anak dan cucu mengupas singkong
Sebagai daerah penghasil singkong, memanfaatkan tiwul sebagai nasi menjadi hal yang biasa dilakukan para petani terutama wilayah tersebut yang jarang memiliki lahan pertanian sawah.
“Kami membuat gaplek karena saat ini singkong dianggap tak ada harganya bahkan masih jauh dari harapan para petani, kami menjual juga terpaksa karena sudah terlanjur panen dan harus menutupi biaya produksi,”ungkap Amsaroh sambil mengupas singkong yang akan dibuatnya menjadi gaplek, Sabtu (3/12/2016).
Sementara sang suami, Umar mengungkapkan, tepung yang diperoleh dari mengolah gaplek menjadi butiran butiran untuk diolah menjadi nasi merupakan hal biasa bagi masyarakat di wilayah tersebut. Namun saat ini dengan harga singkong yang masih dianggap tidak menolong para petani singkong aktifitas membuat gaplek kembali menjadi sebuah pekerjaan sambilan yang dilakukan oleh para petani terutama kaum wanita.
Selain dikonsumsi sendiri, tepung gaplek yang sudah menjadi tiwul sebagian diolah menjadi kue tradisional yang dijual di pasar dan sebagian digunakan untuk proses pembuatan nasi. Pengolahan yang cukup sederhana oleh para perempuan di desa tersebut membuat tiwul yang dijual masih memiliki harga yang cukup lumayan dengan kisaran Rp7ribu hingga Rp10ribu per kilogram. Bahan tepung tiwul yang sudah siap untuk dimasak bisa diolah menjadi nasi serta berbagai jenis kreasi makanan lain sesuai selera.
Umar menjemur singkong untuk dibuat gaplek
Umar berharap meski harga singkong cenderung membaik namun ia masih tetap berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib kaum petani singkong. Sebab ia mengungkapkan masa tanam hingga masa panen yang cukup lama membuat sebagian petani harus pintar pintar memilih lapangan pekerjaan lain sembari menunggu masa panen untuk mendapatkan uang. Sebagian petani yang sudah terlanjur menanam singkong bahkan sebagian rela bekerja keluar daerah untuk menjadi buruh bangunan dan buruh pengerjaan proyek jalan.
“Menanam singkong membutuhkan waktu lama namun saat harganya tidak sesuai membuat petani harus memikirkan untuk mencari sumber penghasilan lain, itulah yang harus diperhatikan oleh pemerintah,”terang Umar.
Ia juga menentang keras upaya untuk melakukan impor tepung tapioka dari luar negeri karena justru akan merusak pasaran singkong dalam negeri yang berakibat petani lokal mengalami kerugian. Selain berdampak bagi kerugian petani singkong, harga singkong yang murah diperkirakan mengakibatkan pengangguran dan angka kemiskinan yang semakin meningkat di pedesaan.
Peran Serta Pemerintah Daerah Dongkrak Harga Singkong
Anjloknya harga singkong di berbagai daerah di Lampung terutama sentra penghasil singkong besar di antaranya di Lampung Tengah membuat Bupati Lampung Tengah turun serta. Bupati Lampung Tengah, Mustafa, bahkan melakukan langkah untuk menyelamatkan petani singkong di wilayah tersebut dengan melakukan nota kesepahaman untuk menaikkan harga singkong berkoordinasi dengan beberapa perusahaan pengolah singkong menjadi tepung tapioka. Harga singkong yang semula terpuruk pada angka Rp560 per kilogram akhirnya menjadi Rp700 per kilogram.
Beberapa perusahaan bahkan dilibatkan bersama dengan para kelompok tani (Poktan) diantaranya empat perusahaan yang secara sepakat menaikkan harga singkong per 1 November 2016 di antaranya PT Aroma Mega Sari, PT Budi Makmur Perkasa, PT Budi Subur Tanindo dan PT Alu Aksara Pratama. Kesepakatan tersebut di antaranya perusahaan perusahaan yang ikut nota kesepahaman ikut serta mempedulikan kesejahteraan petani singkong di Lampung Tengah dan akan meninjau ulang rafraksi (potongan) yang berkaitan dengan kualitas singkong.
Proses menaikkan harga singkong tersebut merupakan langkah panjang yang dilalui oleh para petani singkong di Lampung Tengah dan beberapa kabupaten lain yang masih merasakan anjloknya harga singkong. Setidaknya beberapa langkah telah diambil oleh pemerintah daerah untuk memperjuangkan kenaikan harga singkong di antaranya mengumpulkan petani singkong, melakukan sidak ke perusahaan, melayangkan surat ke presiden dan mendampingi petani menemui Menteri Perdagangan.
Umar menjemur singkong untuk dibuat gaplek
Meski demikian pihak perusahaan salah satunya Eddy Liem mewakili PT Sungai Budi Group mengapresiasi langkah bupati dalam memperjuangkan nasib para petani singkong. Kenaikan harga singkong tersebut diantaranya menurut Eddy Liem harus diimbangi dengan memperhatikan kualitas singkong  diantaranya ideal masa panen singkong yang akan dijual berumur sembilan hingga 12 bulan, tidak memiliki bonggol dan tanah, sebab singkong yang berkualitas menghasilkan kadar pati tapioka sebanyak 50 persen.
Musim hujan diduga menjadi salah satu faktor rendahnya kualitas singkong sehingga menyebabkan harga menjadi rendah. Selama musim hujan bahkan menurut pihak perusahaan kadar rafraksi mencapai 20 persen. Sebagian petani bahkan harus rela menjual singkong dengan harga yang rendah bahkan sebagian mempergunakan singkong sebagai bahan baku pembuatan gaplek yang selanjutnya diolah menjadi butiran makanan yang dikenal dengan tiwul untuk bahan makanan tambahan.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...