‘Patsa’ Inovasi Baru Pakan Ternak Berbahan Limbah Buah Salak

SABTU, 03 DESEMBER 2016

MALANG — Semakin berkurangnya ketersediaan pakan untuk ternak terutama pada saat musim kemarau, membuat Mughis Fathoni warga Pondok Blimbing Indah H2/8 Malang mencoba menciptakan sebuah inovasi produk ‘Patsa’ (Pakan ternak Salak) untuk menambah gizi pada hewan.
Pasta, pakan ternak berbahan limbah buah salak
Fathoni menceritakan, pakan ternak Patsa sebagian besar bahannya berasal dari buah Salak yang di kategorikan rusak (afkir) yang sudah tidak bisa digunakan lagi untuk dibuat keripik, manisan maupun olahan salak yang lainnya.
“Daripada hanya menjadi limbah, akhirnya dimemanfaatkan sebagai pakan ternak,” jelasnya kepada Cendana News, Sabtu (3/12/2016).
Selama ini para petani Salak biasanya jika melihat ada buah salak yang busuk mereka hanya membiarkan begitu saja dan dianggap sebagai limbah tanpa memanfaatkannya. Padahal di sisi lain hewan ternak suka dengan buahnya tersebut. Dari situ kemudian dirinya mencari solusi bagaimana caranya agar petani Salak bisa mendapatkan pemasukan tambahan dan dari segi peternaknya sendiri tidak lagi kesulitan mencari pakan. Salah satu solusinya yaitu dengan membuat pakan ternak Patsa.
Mughis Fathoni
Lebih lanjut Fathoni juga menjelaskan cara pembuatan Patsa. Dibutuhkan tiga bahan utama yaitu limbah daging buah aalak yang sudah rusak, singkong yang sudah dikeringkan (gaplek) dan bonggol jagung dengan perbandingan daging Salak 50 persen : Gaplek 20 persen : bonggol Jagung 20 persen. Sedangkang sepuluh persennya lagi berupa air yang ditambahkan dengan garam sebagai perasa.
“Ketiga bahan tersebut dijadikan satu untuk kemudian digiling dan ditambahkan air dan garam untuk meningkatkan rasa dari pakan ternak tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, pakan ternak Patsa ini memiliki nilai gizi dan serat yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas dari hewan ternak itu sendiri.
“Patsa baik dikonsumsi sapi perah maupun kambing perah seperti kambing etawa karena dapat meningkatkan produksi susunya,” ungkapnya.
Pria yang menjabat sebagai guru produktif dan tim kreatif Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Prajnaparamita ini juga menyampaikan bahwa contoh atau sampel dari pakan ternak Patsa sedang dalam proses uji laboratorium di tiga perguruan tinggi (Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada dan Universitas Erlangga) untuk mengetahui seberapa besar kadar gizi, kalori dan serat yang terkandung di dalamnya.
“Sementara ini ada hasil dari salah satu universitas tersebut yang menyebutkan bahwa Patsa memiliki kadar kalori 80 persen, serat 50-60 persen dan mineralnya hampir 60 persen,” sebutnya sembari menambahkan hasil tersebut belum akusisi sempurna karena masih ada beberapa sampel yang harus dikirim.
Untuk cara pemberian Patsa kepada hewan ternak cukup mudah. Dari pakan ternak rumput yang sudah dicacah dan dikumpulkan tersebut, nantinya hanya tinggal di taburi dengan produk Patsa dengan perbandingan 25 Kg rumput : 1 Kg Patsa. Pengaplikasiannya bisa ditambahkan sedikit air sebagai penambah rasa atau bisa juga di aplikasikan secara kering tanpa ditambahkan air.
“Dengan menambahkan Patsa pada pakan ternak, dapat memenuhi gizi yang selama ini tidak di peroleh maupun di rasa masih kurang,” ujarnya.
Disebutkan, pakan ternak Patsa sendiri memiliki tiga formula yakni Patsa tipe 1, tipe 2 dan tipe 3. Dimana ketiga tipe tersebut memiliki nilai kandungan yang berbeda-beda tergantung kualitas bahan baku yang digunakan. Dari situlah nantinya digunakan sebagai acuan penentuan dari segi harga dan untuk harga tertinggi saat ini yaitu Rp.3.500,- per kilogram.
“Rencana kedepannya kami ingin memproduksi Patsa secara masal sehingga dapat mengembangkan ekonomi kreatif di masyarakat terutama bagi petani salak, jagung dan singkong untuk bersatu membuat produk yang inovatif,” pungkas pria asli Bojonegoro ini.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...