RABU, 7 DESEMBER 2016
PONTIANAK—10 pengemis di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, ditangkap aparat setempat karena mengemis di kota itu. Para personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pontianak membawa para pengemis dari berbagai provinsi itu ke Kantor Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pontianak.
![]() |
| Pengemis yang berkeliaran dan terazia di Kota Pontianak akan dikembalikan ke daerah asalnya. |
“Para pengemis yang terjaring ditampung sementara di Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT) Ampera, Kota Pontianak,” kata Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pontianak, Aswin Djafar, Rabu, (7/12/2016).
Menurutnya, para pengemis ini berasal dari Pulau Jawa. Dia berjanji, sejumlah pengemis akan secepatnya dikembalikan ke daerah asalnya melalui jalur laut.
“Dipulangkan dengan kapal laut menggunakan uang hasil mereka mengemis,” kata dia.
Dia menambahkan, untuk pengemis dari kabupaten wilayah Kalbar, sedang menunggu tindak lanjut berikutnya. Hal itu tentunya berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten asal pengemis itu.
“Pengemis yang berasal dari Kota Pontianak akan kita urus mulai dari administrasi kependudukannya, kalau memang kategori miskin akan kita urus supaya mendapat fasilitas-fasilitas pelayanan sosial sehingga dia tidak lagi mengemis,” ucapnya.
Pengemis yang diamankan, ia melanjutkan, sudah pernah ditangkap berkali-kali. Namun, hal tersebut tidak membuat efek jera bagi para pengemis berkeliaran di kota ini.
“Mereka sudah pernah dipulangkan ke daerah asalnya, seperti salah satunya dari Madura. Pengemis ini sengaja didatangkan dari luar Kalbar oleh oknum warga yang mengkoordinirnya,” ujarnya.
Ditegaskan, pihaknya akan bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menangkap oknum warga yang mengkomersilkan para pengemis.
“Masyarakat yang ingin memberikan sedekah, infaq dan sebagainya, bisa menyalurkannya ke lembaga atau badan yang menerima dan menyalurkan bantuan tersebut kepada yang berhak menerimanya. Bisa ke Bazda, Rumah Zakat, Dompet Ummat atau rumah-rumah ibadah,” ucapnya mengimbau.
Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor: Satmoko / Foto: Aceng Mukaram