RABU, 21 DESEMBER 2016
YOGYAKARTA — Adanya cuaca buruk selama beberapa waktu terakhir di hampir semua wilayah Pulau Jawa termasuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diyakini berpengaruh terhadap produktivitas serta kualitas hasil panen para petani beras yang ada di wilayah DIY. Banyaknya peristiwa banjir di sejumlah wilayah maupun pengaruh cuaca buruk lainnya belakangan ini, diprediksi akan dapat menurunkan serapan penerimaan beras BULOG dari petani DIY.
![]() |
| Kepala Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik (BULOG) DIY, Miftahul Adha, menyebut, akibat cuaca buruk serapan beras BULOG dari petani di DIY turun hingga 10 persen. |
Kepala Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik (BULOG) DIY, Miftahul Adha, mengakui hal tersebut. Ditemui Cendana News di sela acara Operasi Pasar dan Pasar Murah di halaman kantor BULOG DIY, Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta, Rabu (21/12/2016), lelaki berkaca mata itu bahkan menyebut kondisi cuaca buruk belakangan diprediksi dapat menurunkan penerimaan beras BULOG dari petani antara 5 hingga10 persen.
“Saat ini memang belum bisa diketahui secara pasti karena belum masa panen. Dampak cuaca buruk ini baru bisa diketahui saat masa panen nanti. Tapi, diperkirakan akan terjadi penurunan serapan penerimaan antara 5 – 10 persen. Itu yang kita tolak,” ujarnya.
Dikatakan, adanya cuaca buruk, jelas akan mempengaruhi produktivitas serta kualitas hasil panen para petani. Padahal BULOG sendiri memiliki standar kualitas tersendiri yang harus dipenuhi para petani, misalnya saja ketentuan kadar air maksimum yang terkandung di dalam beras hasil panen petani.
“Kalau kualitasnya menurun, jelas akan mengurangi serapan. Karena itu para petani harus memiliki siasat untuk meningkatkan kualitas hasil panen di tengah kondisi cuaca buruk seperti terjadi belakangan ini,” jelasnya.
Miftahul sendiri menyebutkan, total serapan beras BULOG dari petani DIY baik meliputi Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Kota Yogyakarta setiap tahunnya mencapai 60.000 ton. Yakni dengan persentase paling banyak berasal dari Kabupaten Sleman, sebesar 41 persen, disusul Kabupaten Bantul sebesar 30 persen, Kabupaten Kulonprogo sebesar 20 persen, dan sisanya dari Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.
Mengatasi hal teraebut, pihak BULOG DIY mengaku, telah berupaya untuk melakukan pembinaan bagi para petani. Salah satunya dengan menggelar pelatihan dan pengarahan pengolahan hasil pasca panen. Selain itu juga bekerjasama dengan pihak lain, yakni dinas terkait, untuk menyiapkan fasilitas pendukung pengolahan pasca panen tersebut dengan alat seperti lantai jemur dan mesin pengering.
“Kalau petani bisa melakukan itu, maka kualitas hasil panen akan dapat meningkat. Sehingga harga jual juga dapat meningkat. Namun, sebaliknya, jika hasil panen dalam kondisi basah tanpa dilakukan upaya-upaya tertentu, maka harga pun akan ikut jatuh, ” pungkasnya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana