SELASA, 2 AGUSTUS 2016
JAYAPURA — Tanpa alas kaki sehari-hari, bocah itu tetap kuat berjalan kaki diatas aspal yang panas dan terik mentari yang menyengat. Ia seorang bocah yang tangguh, terkadang mengelilingi pusat Kota Jayapura tanpa ada yang menemani, keripik menjadi makanan utamanya. Penasaran? simak ceritanya berikut ini.
Sesekali waktu, bocah ini melepas rasa kantuknya di emperan toko dan beralaskan kardus. Sementara ayahnya sibuk meniup peluit memandu kendaraan di parkiran took. Saat ia lapar, ayahnya tak pernah merasa khawatir, sebab bocah ini memiliki sebuah keistimewaaan yang tak di punyai oleh kebanyakan manusia normal lainnya.
Namanya Demianus, bocah yang baru menginjak usia 5 tahun. Kala itu, sejak usianya baru 7 bulan, Demi (panggilan akrab bocah ini) ditelantarkan oleh orang tua kandungnya di sekitaran Taman Imbi Jayapura.
Melihat kondisi Demi yang ironis itu, Obeth Mandowen seorang juru parkir di area taman Imbi merasa iba, lalu mengambil dan mengangkatnya sebagai anaknya sendiri. Sejak saat itulah Demi hidup dan dibesarkan oleh Obeth dan mereka tinggal disebuah pondok kecil yang terletak di bibir gunung pinggir jalan dekat lampu merah dok 2 Jayapura.
Sekilas, bagi orang-orang yang baru mengenal bocah periang ini, tak akan ada yang percaya jika Demi sebenarnya adalah seorang bocah yang memiliki keistimewaan. Tubuhnya yang nampak sehat berisi dengan tingkah laku yang aktif, ternyata menyimpan sebuah rahasia yang tak di punya oleh bocah-bocah seusianya.
Bocah periang ini mampu beradaptasi cepat dengan lingkungannya, tak jarang setiap ngobrol bersama rekan sebayanya bahkan orang dewasa sekaligus, mampu berkomunikasi dengan baik. Ia menjadi anak kesayangan dimanapun dirinya berada, baik itu di sekitar toko panjang (Imbi), di pasar mama-mama Papua, di Gereja, bahkan disetiap pojok jantung kota.
Bocah ini sangat terkenal di depan apotik murah farma yang menjadi tempat ayahnya bekerja sehari-hari, orang-orang telah mengenalnya dengan baik. Bahkan, mereka sering mengajaknya jalan dan membelikannya makanan ringan, juga memberikannya uang.
Dari keistimewaan yang Demi punya, siapa sangka kalau rahasia terbesarnya, Demi tak pernah mengenal dan merasakan yang namanya nasi sejak bayi. Obeth bukannya tak bisa membelikan Demi makanan, tapi sejak memeliharanya dari usia 7 bulan, Demi tak pernah suka dengan mengunyah dan menelan makanan yang menjadi makanan pokok orang Indonesia itu. Entah kenapa Demi bisa seperti demikian, Obeth pernah membawanya ke seorang Dokter untuk memeriksa kondisi lambung Demi yang ditakutkannya akan berdampak buruk di kemudian hari.
Setelah diperiksa, Dokter pun mengatakann jika lambung dan tubuh Demi sendiri tak ada masalah, dan kondisinya masih sama seperti bocah-bocah yang lain. Ironisnya, hanya sebungkus keripik, kerupuk atau sebungkus biskuit yang dikonsumsi oleh Demi sehari-hari. Itupun kalau Obeth memiliki uang yang lebih untuk membeli susu sebagai teman makan Demi. Jika tidak, hanya jenis-jenis makanan ringan itu yang dijadikan Demi sebagai pengenyang perut. Ajaibnya, Demi tetap bisa bertahan hidup dan tetap bisa seaktif dan selincah anak-anak manusia lainnya.
“Awalnya, Saya heran Demi tra (tak) mau makan nasi. Ia selalu minta beli kerupuk, keripik atau biskuit kalau rasa lapar. Saya bingung, tapi ia menangis terus kalau tra dibelikan, terpaksa saya ikuti maunya saja. Saya su pernah bawa ia ke dokter, tapi dokter bilang trapapa,” kata Obeth.
Obeth tak pernah mengeluh atau bahkan membentak anak angkatnya itu, apalagi memukulnya. Kehidupan Obeth memang sama seperti kebanyakan orang yang tak bisa lepas dari kecanduan minuman keras, tapi ia betul-betul setia dan mengasihi Demi seperti anak kandungnya sendiri.
Setiap minggu pagi, Ia tak pernah lupa untuk mengajak Demi beribadah di Gereja, dan selalu ingat untuk mengantar Demi ke tempat bimbingan belajar gratis yang di bentuk oleh Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) dan Jemaat IFGF Jayapura.
Dengan ketulusan hatinya, Obeth tak pernah menyesal menjaga dan mendidik Demi, walaupun sekarang pria paruh baya itu harus mengurus segalanya untuk Demi seorang diri, sebab istrinya telah pergi dan memilih untuk kawin baru berapa bulan yang lalu. Obeth tak pernah bersedih meski ia tau itu sangat menyakitkan dan begitu merobek perasaan hatinya.
“Ia hidup dijalanan, tapi saya sadar ia juga punya keinginan untuk mengenal tuhan dan belajar, Ia pu mama piara su lari kasih tinggal, tapi Saya tetap harus setia menjaga dan merawatnya,” tutur Obeth sambil meneteskan air mata.
Tak bisa dibayangkan, ia tak habis fikir apa yang telah dilakukannya, dengan memiliki seorang anak dan mempunyai keistimewaan seperti Demi. Dari kacamata anda, pastilah ini sebuah anugerah yang patut juga untuk disyukuri. Namun, akankah kita semua terus menerus membiarkan ataupun tega melihat Demi tak pernah mengenal yang namanya nasi? sedangkan, bocah-bocah seusianya semua telah merasakan nikmatnya nasi dengan lauk ikan, ayam dan daging. (Indrayadi T Hatta)